Berita

Dahlan Iskan/Net

Dahlan Iskan

Oman Ibadi

SENIN, 15 APRIL 2019 | 05:00 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

TELUR burung itu. Ditelurkannya di Madinah. Menetasnya di Basra, Iraq. Setelah besar burungnya terbang ke Oman.

Itulah jawaban teman saya di Oman. Ketika saya berkata kepadanya: ajari saya apa itu Ibadi. Aliran keagamaan yang dominan di sana.

Istilah telur itu ia kutip dari cerita leluhur. Dari ayah. Dari kakek. Dari buyut. Dari canggah. Dari ubek-ubek suwer. Tentang mengapa penduduk Oman beda dengan negara Arab lainnya.


Oman tidak mau ikut aliran Wahabi. Seperti negara-negara Arab tetangganya. Juga tidak mau Syiah. Seperti Iran di seberang selatnya. Bahkan tidak mau mazhab Syafii, Hambali, Maliki maupun Hanafi.

Oman itu negeri Ibadi. Salatnya sama dengan Islam lainnya. Hanya takbiratul ikramnya tidak pakai angkat tangan. Cukup mengatakan Allahu Akbar.

Tangan tidak perlu bersedekap. Cukup lurus ke bawah. Saat duduk terakhir pun tidak perlu menudingkan jari. Salamnya juga agak beda: saat kepala menoleh ke kanan yang diucapkan 'assalamu alaikum'. Saat kepala menoleh ke kiri mengucapkan 'warahmatullah'.

Tapi aliran Ibadi ini tidak memusuhi aliran lain. Sangat moderat. Ibadi memang mendominasi aliran di Oman. Tapi Syiah dibiarkan ada. Demikian juga Wahabi. "Setidaknya ada 8 masjid Syiah di kota Muscat ini," ujar Said Ali Hamed Al Riyani yang mengantar saya ke gedung opera.

Hari itu saya memang ingin nonton opera. Kebetulan ada pentas lakon terkenal: Lakme. Karya komponis klasik Leo Delibel. Yang lahir di Perancis tahun 1836. Hampir 200 tahun yang lalu.

Oman ternyata sudah punya gedung opera. Namanya: The Royal Opera. Interiornya jati terbaik dari Myanmar. Marmernya Italia. Pianonya Jerman: yang raksasa itu. Dengan ribuan pipa suara itu.

Panggungnya: belum pernah saya lihat seperti itu. Pun di Inggris. Pun di Paris. Saya juga  pernah nonton balet di operara house terbaik di Rusia. Juga tidak sebagus yang di Oman ini.

Mungkin karena the Royal Opera ini baru. Umurnya belum dua tahun. Teknologinya sudah dipermodern. Unsur screen dan digital sudah  dimanfaatkan.

Saya tidak menyangka. Negeri kecil seperti Oman sudah memiliki gedung opera kelas Eropa. Kita sendiri belum punya yang seperti itu. Ada memang di mall Ciputra jalan Casablanka Jakarta. Tapi kalah kelas. Jauh sekali.

Oman memang kaya minyak. Biar pun produksi minyaknya paling kecil. Hanya 1 juta barel per hari. Dibanding negara Arab sekitarnya tidak ada apa-apanya. Tapi karena menduduknya juga kurang dari 5 juta maka angka itu besar juga. Bisa mencukupi 4/5 APBN-nya. Bandingkan dengan produksi minyak Indonesia yang tinggal 800 ribu barrel/hari. Untuk 250 juta rakyatnya.

Pendapatan lain-lain bagi Oman tidak begitu berarti. Karena itu Oman tidak mengenakan pajak perorangan. Tidak memungut PPN. Pajak perusahaan pun hanya 12 persen.

Itulah negeri Ibadi. Pendapatan per kapitanya sudah 40.000 dolar. Salah satu tertinggi di dunia.

Mata uangnya, rial Oman, gila-gilaan kuatnya. Lebih kuat dari dolar Amerika. Lebih kuat dari Euro. Satu dolar hanya dihargai 30 cent real Oman.

Saya cek ke Google. Satu real Oman ternyata sama dengan Rp 36.500. Tentu itu tidak ada hubungannya dengan ideologi Islam Ibadi.

Memang ada yang menghubungkan Ibadi itu dengan Khawarij. Kaum yang sangat tercela. Setidaknya menurut pelajaran yang dicekokkan ke saya. Di sekolah madrasah saya. Dalam mata pelajaran tarikh Islam.

Baru setelah kelak terjun ke media saya punya bacaan yang beragam. Termasuk literatur mengenai Khawarij itu.

Bacaan baru itu memberikan gambaran yang berbeda mengenai Khawarij. Lebih positif.

Disebutkan, Khawarij itu muncul di Madinah lantaran justru ingin netral. Tidak mau memihak Khalifah Ustman bin Affan. Sekaligus tidak mau memihak Khalifah Ali bin Abi Thalib.

Pertentangan kedua kubu itu luar biasa sengitnya. Lalu ada kelompok yang gelisah. Mengapa pertentangan itu begitu hebatnya. Padahal sesama sahabat dekat Nabi Muhammad SAW.

Usman yang begitu kaya raya tentu mampu melakukan apa saja. Menjadi sangat berpengaruh. Sebaliknya Ali. Yang sikapnya mencerminkan seorang sufi. Menjauh dari keduniaan.

Memang ada kelompok di dalam Khawarij yang ekstrim. Memusuhi dua-duanya. Konon sampai membunuhnya. Agar tidak ada lagi pertentangan. Tapi ada juga kelompok yang moderat. Yang tidak menyukai kedua kubu itu tapi tidak memusuhi mereka.

Ibadi yang 'terbang' ke Oman itu adalah kelompok Khawarij yang moderat ini. Setelah tersingkir dari Madinah mereka mengembangkan diri ke Basrah. Satu kota pelabuhan di Iraq. Di Basra pun kemudian  terdesak. Akhirnya menyingkir ke Oman. Yang waktu itu dianggap ujung tanah Arab yang terpencil.

Di situlah kelompok ini bersembunyi. Lalu membentuk kesultanan Oman. Sampai sekarang.

Masjid-masjid Ibadi di Oman indah-indah. Tapi sederhana. Tidak ada hiasan apa pun. Termasuk kaligrafi. Saya memerlukan ke masjid terbesarnya: Grand Mosque. Sangat besar. Megah. Tapi simple.

Oman adalah warna yang lain lagi dari Islam. Agama yang begitu berwarna-warni dengan berbagai golongannya.

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

Panen Raya TNI, Presiden Prabowo: Saya Bahagia Hari Ini

Jumat, 17 Juli 2026 | 22:57

UPDATE

Bazar Kreasi Bhayangkari Nusantara 2026 Digelar di JCC, Dorong UMKM Naik Kelas

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:25

Jaksa Agung Rotasi 29 Jaksa Termasuk Dirdik Jampidsus

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:05

Bawaslu Mulai Susun Indeks Kerawanan Pemilu 2029

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:00

Refly Harun Kawal Korban Dugaan Pemerasan Bangun Paulus

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:45

Max Blumenthal Soroti Ancaman Kebebasan Pers akibat Kemitraan AS-Israel

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:43

OPM Pimpinan Kopitua Heluka Diduga Dalang Pembunuhan Tiga Warga Sipil di Yahukimo

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:39

Pemuda Jabar Peduli Gelar Santunan untuk Korban Pesta Rakyat Garut

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:36

Gus Yahya Siap Bertarung Lagi Pertahankan Kursi Ketum PBNU

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:32

Pakta Integritas Perempuan Bangsa Wujud Totalitas Besarkan PKB

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:30

Wakapolri Ingatkan Perwira Remaja: Satu Tindakan Menyimpang Rusak Kepercayaan Polri

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:21

Selengkapnya