Berita

Al Quds/Net

Dunia

Siapa Pahlawan Pembebas Al Quds Berikutnya?

RABU, 10 APRIL 2019 | 17:31 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

MERUJUK pada perkembangan penghitungan suara, tampaknya Benjamin Netanyahu akan kembali menduduki kursi Perdana Mentri Israel untuk kelima kalinya, sekaligus mengukuhkan dirinya sebagai pempin terlama negara Zionis ini. Apa yang akan dilakukannya ke depan sudah tidak ada yang dirahasiakan lagi. Semuanya sudah diungkapkan ke publik selama masa kampanye, khususnya di hari-hari terakhir.

Diantara janji-janjinya yang perlu diingat antara lain: dia akan mencaplok kembali Gaza dan Tepi Barat. Artinya, dia akan menghapus mimpi rakyat Palestina untuk memiliki negara secara damai. Dengan kata lain, perjanjian damai Palestina-Israel berdasarkan konsep two states solution akan dikuburnya dalam-dalam.

Sebagai gantinya Presiden Amerika Donald Trump sudah menyiapkan perjanjian damai baru yang disebutnya: "Deal of the Century" yang artinya "Kesepakatan Abad Ini".


Walaupun namanya keren akan tetapi isinya kosong. Baik Israel, Amerika, maupun sejumlah negara Arab yang ikut mendukungnya, sudah membocorkan sebagian isinya sebagai prakondisi.

Mahmoud Abbas yang akrab dipanggil Abu Mazen sebagai Presiden Palestina sudah menolaknya mentah-mentah. Sikap ini didukung penuh baik oleh Fatah maupun Hammas, juga faksi-faksi lain yang lebih kecil di Palestina.

Jika usulan perdamaian sebelumnya, didukung Fatah tetapi ditentang Hammas, sehingga rakyat Palestina terbelah. Kini keduanya kompak bersatu, membuat seluruh rakyat Palestina secara bulat menyikapinya.

Poin-poin dalam usulan perjanjian yang bocor antara lain: Pertama, ibukota Palestina di kota kecil bernama Abu Dis, bukan Yerusalem Timur sebagaimana diinginkan bangsa Palestina.

Kedua, luas wilayah Palestina tidak sebagaimana yang dituntut bangsa Arab, yakni wilayah dengan perbatasan sebelum perang Arab-Israel 1967. Akan tetapi lebih kecil lagi karena Israel menginginkan seluruh pemukiman Yahudi yang telah dibangunnya di Tepi Barat tetap menjadi bagian dari Israel. Selain itu diperlukannya daerah penyangga diantara dua negara yang diambil dari wilayah Palestina. Dengan skema seperti ini, Aljazeera memperkirakan hanya sekitar separo dari wilayah Tepi Barat yang akan diberikan ke Palestina.

Ketiga, kekuasaan negara Palestina, tidak seperti negara merdeka pada lazimnya. Hanya boleh memiliki polisi tanpa tentara. Wilayah darat, laut, dan udaranya, tetap dikontrol Israel. Semua pintu masuk orang dan barang dimonitor otoritas negara Zionis ini.

Keempat, para pengungsi Palestina termasuk anak-cucunya yang mengungsi ke negara lain, baik akibat perang Arab-Israel tahun 1948 maupun tahun 1967, tidak diperkenankan kembali pulang ke negaranya.

Jika Amerika dan Israel konsisten dengan rencananya masing-masing, maka dunia harus menghadapi kenyataan pahit,  tertutup jalan damai untuk menyelesaikan masalah Palestina yang berawal sejak berdirinya negara Israel tahun 1948. Artinya hanya masalah waktu berkecamuknya kembali perang baru di Timur Tengah.

Pertanyaannya apakah bangsa Arab siap menghadapinya? Dalam kondisi terpecah-belah seperti saat ini tampaknya tidak. Apalagi mayoritas mereka kini sibuk dengan urusan dalam negrinya masing-masing. Lalu bagaimana kira-kira sekenario perang akan berlangsung?

Ada dua pemain kunci yang potensial untuk melawan Israel saat ini, yakni Turki dan Iran. Apakah mereka akan menghadapinya sendiri-sendiri, atau akan berkoalisi sehingga akan menggempur Israel dari Utara dan Timur? Rasanya terlalu dini untuk mengkalkulasinya, mengingat rumitnya konstalasi politik yang melingkupinya, di samping banyaknya faktor yang akan ikut menentukannya yang saat ini belum bisa diprediksi.

Di samping kondisi politik dalam negeri dua negara ini, faktor regional juga ikut menentukan, khususnya sikap Suriah dan Lebanon yang memiliki perbatasan langsung dengan Israel. Selain itu sikap Rusia sebagai pemain global yang terbukti cukup tangguh bermain di wilayah ini.

Dalam sejarah dicatat dengan tinta emas dua nama pembebas kota suci Al Quds atau Baitul Maqdis yang juga dikenal dengan nama Yerusalem, yaitu Umar bin Khattab dan Salahuddin Al Ayyubi. Mungkinkah kini akan lahir pahlawan baru pembebas Al Quds? Mari kita ikuti dan saksikan jalannya sejarah.

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Tertekan Lonjakan Minyak, Harga Emas Dunia Anjlok ke Level 4.254 Dolar AS

Senin, 28 September 2026 | 08:30

Iran Siap Hadapi "Perang Kiamat" dengan AS

Senin, 28 September 2026 | 08:12

Jalan Terbuka Bagi Dividen BEI: Proses Demutualisasi Masuki Tahap Pengkajian Saham

Senin, 28 September 2026 | 07:52

Halal Jangan Berhenti di Sertifikat

Senin, 28 September 2026 | 07:38

IAMI Lahir di Jakarta, Nasaruddin Umar Jadi Presiden Pertama

Senin, 28 September 2026 | 07:07

APH Harus Turun Tangan Tertibkan Tarif Parkir Tak Wajar

Senin, 28 September 2026 | 07:05

Kejagung Didesak Bongkar Mata Rantai Uang Chromebook

Senin, 28 September 2026 | 06:47

Pagar Nusa Kukuhkan 25 Kader Pasukan Inti di Taiwan

Senin, 28 September 2026 | 06:42

Indonesia Ikut Ajang WSC 2026 di Shanghai, Ini Manfaatnya

Senin, 28 September 2026 | 06:20

Ekosistem Logistik di Kawasan Timur Masih Penuh Tantangan

Senin, 28 September 2026 | 05:54

Selengkapnya