Berita

Brenton Tarrant/Net

Jaya Suprana

Alasanologi Brenton Tarrant

RABU, 20 MARET 2019 | 07:19 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

BRENTON Tarrant adalah satu di antara empat pelaku penembakan brutal yang menewaskan sedikitnya 49 orang di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, Jumat (15/3.2019) sudah diamankan petugas keamanan setempat.

Alasanologi

Alasan Brenton Tarrant melakukan penembakan di masjid di Christchurch terungkap ketika jajaran kepolisian setempat menemukan postingan terakhir Brenton Tarrant di twitternya.


Postingan terakhir di twitter menampilkan foto-foto serangan teror Bastille Day 2016 di Nice, Perancis dan disimpulkan sebagai alasan Brenton Tarrant melakukan penembakan brutal tersebut.  

Menurut Brenton Tarrant, foto itu menggambarkan serangan menjijikkan dan menjadi alasan Brenton Tarrant  “menunjukkan kepada penjajah bahwa tanah kita tidak akan pernah menjadi tanah mereka (Penjajah), tanah air kita adalah milik kita sendiri dan bahwa, selama orang kulit putih masih hidup, mereka tidak akan pernah menaklukkan tanah kita dan mereka tidak akan pernah menaklukkan tanah kita dan mereka tidak akan pernah menaklukkan tanah kita."

Tidak Bersalah


Brenton Tarrant mengaku telah merencanakan serangan sejak tahun 2017 dan memutuskan untuk menyerang dua masjid di Christchurch tiga bulan lalu.

Dia mengatakan Selandia Baru bukan "pilihan untuk menyerang", tetapi menggambarkan Selandia Baru sebagai "sasaran dengan lingkungan seperti di tempat lain di Barat".

"Sebuah serangan di Selandia Baru akan memusatkan perhatian pada kebenaran serangan terhadap peradaban kita, bahwa tidak ada tempat, di dunia ini aman, para penyerbu berada di semua tanah kita, bahkan di daerah-daerah terpencil di dunia dan bahwa tidak ada tempat lagi yang aman dan bebas dari imigrasi massal," ujar Brenton Tarrant yang juga mengklaim dirinya mewakili "jutaan orang Eropa dan bangsa-bangsa etno-nasionalis lainnya, kita harus memastikan keberadaan rakyat kita, dan masa depan untuk anak-anak kulit putih".

Penyerangan dilakukan Brenton Tarrant merupakan tindakan "balas dendam pada atas ratusan ribu kematian yang disebabkan oleh penjarah asing di tanah Eropa sepanjang sejarah ... untuk perbudakan jutaan orang Eropa yang diambil dari tanah mereka oleh budak Islam... (dan) untuk ribuan nyawa Eropa yang hilang karena serangan teror di seluruh tanah Eropa."

Dia juga mengatakan itu untuk membalas dendam untuk Ebba Akerlund, anak berusia 11 tahun yang terbunuh dalam serangan teror 2017 di Stockholm.

"Ebba mati di tangan para penjajah, penghinaan atas kematiannya yang kejam dan ketidakmampuan saya untuk menghentikannya menghantam sanubari saya seperti palu godam. Saya tak bisa lagi abaikan lagi serangan itu," katanya.  

Tarrant mengatakan dia tidak merasa menyesal sambil menegaskan bahwa memang ada "komponen rasial untuk serangan itu" dan menggambarkannya sebagai "anti-imigrasi" dan "serangan atas nama keanekaragaman".

Dia juga mengatakan dia akan mengaku tidak bersalah jika dia diseret ke pengadilan.  

Islamophobia

Berdasar pengakuan dirinya sendiri dapat disimpulkan bahwa Brenton Tarrant seorang penderita Islamophobia jenis menahun yang sudah sampai ke stadium gawat darurat bahkan terminal.

Namanya juga phobia maka jelas kebencian Brenton Tarrant terhadap Islam sudah sulit bahkan mustahil masuk akal sehat.  

Tampaknya sang warga negara Australia lupa atau pura-pura lupa fakta betapa aborigin Australia sengsara akibat invasi kaum imigran dari benua Eropa senasib dengan pribumi benua Amerika yang bahkan nyaris punah akibat invasi para imigran dari Eropa. Maka sungguh sulit dimengerti bagaimana seorang keturunan kaum imigran yang jelas-jelas menjajah Australia sejak abad XVIII bisa sedemikian membenci kaum imigran pada abad ke XXI.

Memang ada muslim yang melakukan terorisme, namun terorisme yang dilakukan di Irlandia dilakukan oleh non-muslim.

Adolf Hitler yang ganas meneror kaum Yahudi jelas bukan muslim. Ku Klux Klan yang menggunakan atribut salib dalam melakukan persekusi terhadap warga kulit hitam di Amerika Serikat jelas bukan muslim.

Memang sulit bagi saya yang terlanjur dididik orang tua dan agama untuk mengutamakan kasih sayang mampu memahami apalagi membenarkan logika kebencian dan kekerasan sesama manusia yang menderita Islamophobia sekaligus penganut mazhab “white supremacy” yang memberhalakan warna kulit dan agama diri sendiri sebagai yang terunggul, termulia dan terbenar di atas segala-galanya di alam semesta ini.

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan    


Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

Dubes Najib: Dunia Masuki Era Realisme, Indonesia Harus Bersatu

Rabu, 04 Februari 2026 | 12:10

Purbaya Jamin Tak Intervensi Data BPS

Rabu, 04 Februari 2026 | 12:06

Polisi Bantah Dugaan Rekayasa BAP di Polsek Cilandak

Rabu, 04 Februari 2026 | 11:58

Omongan dan Tindakan Jokowi Sering Tak Konsisten

Rabu, 04 Februari 2026 | 11:43

Izin Operasional SMA Siger Lampung Ditolak, Siswa Diminta Pindah Sekolah

Rabu, 04 Februari 2026 | 11:23

Emas Antam Naik Lagi, Nyaris Rp3 Jutaan per Gram

Rabu, 04 Februari 2026 | 11:14

Prabowo Janji Keluar dari Board of Peace Jika Terjadi Hal Ini

Rabu, 04 Februari 2026 | 10:50

MUI Melunak terkait Board of Peace

Rabu, 04 Februari 2026 | 10:44

Gibran hingga Rano Karno Raih Anugerah Indoposco

Rabu, 04 Februari 2026 | 10:30

Demokrasi di Tengah Perang Dingin Elite

Rabu, 04 Februari 2026 | 10:15

Selengkapnya