Berita

Politik

Indeks Demokrasi, Kisah Bung Hatta Dan Kritik Dr Rizal Ramli

JUMAT, 08 MARET 2019 | 08:38 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

DI TAHUN ‘31 dari Rotterdam, Belanda, Bung Hatta menulis  artikel berjudul “Partai Indonesia dan Saya”.

Hatta mencela “demokrasi” yang berlangsung di tanah air, yang menurutnya hanya demokrasi basa-basi.

“Perkataan demokrasi hanya di bibir. Tidak kelihatan dalam praktek. Rakyat dianggap keset tempat membersihkan kaki. Hanya dibutuhkan untuk tepuk tangan apabila ada pidato yang bagus. Tapi mereka tidak diajar memikul sendiri tanggung jawab, dan tugas-tugas mereka...”.


Hatta yang kerap mengkritik keras kondisi tanah air di bawah rezim penjajah dengan domisili sebagai mahasiswa yang menempuh pendidikan di Belanda merupakan buronan intel kolonial.

Suatu hari rumah sewa para mahasiswa Indonesia di Leiden digrebek. Polisi dan intel masuk dengan pistol terhunus. Mereka menggeledah buku-buku dan dokumen. Tetapi Hatta tidak ditemukan.

Rupanya kota-kota lain juga digeledah seperti Den Haag dan Rotterdam. Singkatnya sedang terjadi pengejaran dan upaya kriminalisasi terhadap para tokoh pergerakan tersebut.

Pers Belanda mengabarkan peristiwa ini besar-besaran dengan bumbu sensasi. Dalam konteks hari ini kelakuan pers Belanda tersebut boleh dibilang mirip dengan kelakuan media-media mainstream di tanah air hari ini.  Yang menjadi corong kekuasaan sebagai alat agitasi dam propaganda jurnalisme sesat.

Salah satu surat kabar Belanda menyebut penggerebekan-penggerebekan tersebut bertujuan untuk mencari candu dan juga untuk mencari senjata-senjata api. Tentu saja berita-berita sensasi serba plintiran seperti itu membuat para tokoh pergerakan yang menjadi target kriminalisasi jadi ketawa terpingkal-pingkal.

Namun tak lama kemudian rezim penjajah yang kalap memenjarakan Hatta dan rekan-rekannya sesama anggota Perhimpunan Indonesia. Mereka dijebloskan ke penjara di Den Haag, dengan menggunakan pasal haatzai artikelen, alias pasal karet.

Apa itu pasal karet?

Ini adalah pasal yang sudah lumrah diketahui umum, tentang penyebaran kebencian apabila seseorang dituduh menghina martabat Kerajaan Belanda, yang diundangkan di Negeri Kincir Angin  tahun 1915 dan diberlakukan di sini pada 1918.

Waktu itu Indonesia belum merdeka. Tapi semangat/jiwa pasal karet ini masih terdapat di dalam KUHP, dan juga UU Informasi dan Transaksi Ekonomi (ITE).

Kenapa disebut pasal karet?

Karena tafsir atau interpretasi terhadap pasal-pasalnya sangat lentur. Bisa melar tergantung suka-suka penguasa dalam menjatuhkan hukuman kepada seseorang dengan menggunakan pasal ini.

UU ITE yang dikritik oleh tokoh penegak demokrasi yang juga ekonom pro kerakyatan, Dr Rizal Ramli menyimpan semangat pasal karet (haatzai artikelen).

UU ini semula ditujukan untuk menindak kejahatan di bidang keuangan, terorisme, seksual, dan kasus elektronika, tapi sekarang dipakai untuk menabok dan menggebuk tokoh-tokoh kritis yang ingin meluruskan jalannya pemerintahan, dengan banyak contoh kasus yang dapat kita temukan.

Banyak pula pasal di dalam UU ITE yang merupakan hasil duplikasi dari pasal-pasal yang ada di KUHP, yang kurang lebih memiliki kesamaan esensi.

Gara-gara ini Indeks Demokrasi di Indonesia dalam waktu empat tahun terakhir berdasarkan data The Economist merosot cukup drastis.

Dari peringkat 49 di 2014, anjlok ke peringkat 65 pada 2018.

Dalam pandangan Dr Rizal Ramli kalau UU ITE tidak segera direvisi akan semakin banyak jatuh korban dan Indeks Demokrasi Indonesia akan semakin rendah.

Waktu Rizal “menantang” pasangan capres-cawapres Prabowo-Sandi dengan pertanyaan apakah kalau menang Pilpres dan berkuasa mereka akan merevisi UU ITE, Rizal Ramli sudah dapat jawaban bahwa kedua “mempelai” ini akan melakukannya.

Sedang jawaban atas pertanyaan yang sama yang diajukan kepada pasangan Jokowi-Amin, hingga tulisan ini dibuat ternyata belum juga kedengaran alias belum ada jawabannya.

Penulis wartawan senior

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

UPDATE

Memutus Urat Nadi Korupsi

Minggu, 30 Agustus 2026 | 23:54

Festival Layanan AHU Berdampak 2026 Hadirkan Edukasi ke Masyarakat, Ini Lengkapnya

Minggu, 30 Agustus 2026 | 23:24

Gus Yusuf Legawa Sikapi Dinamika Muktamar ke-35 NU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:49

Mendesak Para Kiai Sepuh Turun Tangan Meredam Suhu Panas Muktamar NU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:33

Jalan Sehat jadi Cara Hanura Kalsel Konsolidasikan Pemilu 2029

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:15

Profil 9 Ulama AHWA Muktamar NU: Sosok Kharismatik Penentu Rais Aam PBNU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 21:45

TikTok dan Tokped Digugat Class Action Rp1,2 Triliun

Minggu, 30 Agustus 2026 | 21:11

Ini 9 Ulama AHWA Terpilih Muktamar ke-35 NU, Suara Mbah Yai Da Paling Tinggi

Minggu, 30 Agustus 2026 | 20:46

Dikawal DPR, Tagihan Rp158 Miliar PT Pos Akhirnya Dibayar Kemensos

Minggu, 30 Agustus 2026 | 20:04

Kiai Rembang Cium 'Hidden Agenda' Penjegalan Caketum PBNU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 19:56

Selengkapnya