Berita

Foto:Net

Politik

Gerindra: Jangan Pilih Lagi Presiden Yang Hancurkan Usaha Sawit Rakyat

JUMAT, 01 MARET 2019 | 13:42 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Pengutaan ekspor minyak kelapa sawit mentah (CPO) yang dihentikan sesaat oleh pemerintah Presiden Joko Widodo akibat harga sawit yang jatuh hingga kisaran di bawah 545 dolar AS perton tidak kunjung dicabut dan tidak jelas keputusan untuk mencabutnya.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Arief Poyuono kepada redaksi, Jumat (1/3).

Padahal pungutan ekspor CPO sebesar 50 dolar AS perton selama diterapkan mulai tahun 2015 oleh Joko Widodo merupakan kebijakan yang telah membuat jatuhnya harga Tandan Buah Segar Sawit Milik Petani Sawit dan perkebunan hingga di bawah angka Rp 500 perkilogram.


Selain itu, hasil pungutan ekspor CPO selama ini yang dihimpun oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) banyak yang diselewengkan penggunaannya dan bukan untuk kepentingan stake kolder perkebunan industri sawit, seperti petani sawit, pekerja perkebunan sawit, masyarakat sekitar perkebunan sawit.

"Dana hasil pungutan ekspor CPO yang selama ini jumlahnya puluhan trilun rupiah justru untuk mensubsidi para konglomerat industri biodiesel yang hasilnya diekspor ke Eropa dan digunakan untuk kekurangan APBN selama ini," ujar Arief Poyuono.

Menurutnya, hasil pungutan dana perkebunan sawit seharusnya sesuai UU lebih digunakan untuk kepentingan replanting, pengembangan SDM dan industri perkebunan, infrastruktur jalan dan kampanye lingkungan hidup, namun semua hanya mendapatkan alokasi dana yang sangat kecil dari dana pungutan ekpor CPO.

"KPK sendiri pernah melakukan penyelidikan bahwa ada indikasi dana pungutan ekspor CPO diselewengkan dan tidak pernah ada audit dari BPK," ujar Arief Poyuono.

Jadi, jelaskan dimana keberpihakan Joko Widodo dalam industri sawit, yaitu bukan kepada petani sawit dan para pengusaha sawit Indonesia yang patuh hukum dan UU.

"Mau cabut peraturan yang menyalahi UU di atasnya saja kok ragu sih, dimana PP dan Pepres pungutan ekspor CPO dan penggunaannya kan menyalahi UU 39/2014 tentang Perkebunan," sebutnya.

"Nah, saya serukan kepada semua stake holder perkebunan sawit di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi agar pada 17 April 2019 untuk bersama-sama datang ke TPS dan jangan pilih lagi Presiden yang sudah menghancurkan usaha perkebunan sawit rakyat," tutup Arief Poyuono menambahkan. [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Koreksi Tata-Kelola MBG: Ekspektasi Publik dan Komitmen Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:56

Bank Dunia Soroti Penyusutan Jumlah Pekerja Kelas Menengah RI

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:30

Literasi Perpajakan Diharapkan jadi Jantung Kepercayaan Masyarakat

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:04

Menkomdigi: Aksi Damai dan Ruang Digital Sehat Harus Dijaga

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:40

Pesan Arief Budiman di Balik #SellIndonesia Lawan #SellSingapura

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:20

MUI Dorong Fatwa Perlindungan Al-Quds dari Upaya Yahudinisasi Israel

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:05

Pembelaan Terakhir John Field Cs: Kami Tidak Lari dan Hilangkan Bukti

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:41

Legislator PDIP Sebut Kenaikan BBM Ancam Daya Beli Kelas Menengah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:14

Golkar: Mahasiswa Punya Hak untuk Menyampaikan Pendapat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:52

Gagalkan Peredaran Ribuan Pil Terlarang, Satu Pengedar Ditangkap di Blora

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:27

Selengkapnya