Berita

Publika

Pembohong Patologis

MINGGU, 17 FEBRUARI 2019 | 01:59 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

TAN Ceng Bok aktor terkenal Indonesia sebelum kemerdekaan, pernah berpesan kepada Slamet Rahardjo, aktor teater dan pemain film kawakan pelanggan Piala Citra.

"Sebagai pemaen sandiwara kamu kudu mampu menyihir penonton. Jangan kasih kesempetan penonton makan kwaci..."

Pesan sederhana ini maksudnya: pemain sandiwara harus punya kekuatan buat meyakinkan (to justify), dan bikin penonton percaya (make believe).


Sebab sandiwara atau drama adalah dunia imaji. Kebenaran yang ditampilkan  adalah kebenaran imaji. Dunia imaji memberi makna ganda terhadap segala sesuatu yang terdengar dan terlihat.

Waktu Esemka digelindingkan rakyat menonton suatu sajian drama. Suatu sandiwara kolosal yang melambungkan harapan dan keinginan  untuk  punya mobil nasional sendiri. Seperti halnya tetangga kita Malaysia dan Vietnam.

Waktu tersembur janji-janji ingin stop impor pangan  masyarakat seakan melihat suatu acting dari pemain watak yang ingin meyakinkan (to justify), dan untuk bikin percaya (make believe) publik (para petani hingga petambak garam).

Dalam ilmu jiwa juga ada istilah pembohong patologis.

Pembohong jenis ini digambarkan sering bertindak dengan cara menipu dan manipulatif tanpa memperhatikan hak dan perasaan orang lain.

Tabloid Nova edisi Mei 2013 memberikan tips cara mengidentifikasi pembohong patologis:

 1). Biasa mengubah cerita kalau ditanya tentang rincian tertentu.

2). Kebohongan mereka suka bertentangan dengan hal-hal yang mereka katakan sebelumnya.

3). Terbiasan berbohong untuk hal-hal kecil. Kebohongan kecil bisa berubah menjadi sangat besar.

4). Suka membesar-besarkan sesuatu.

5). Mereka tidak peduli jika ada yang terluka atau tersinggung dengan kebohongan yang dilakukan. Mereka bahkan tidak memikirkannya karena mereka hidup di dunia mereka sendiri.

6). Karena merasa tidak aman dan tidak nyaman mereka akan bertindak membela diri ketika ditantang atau mereka terus berbohong untuk mendapatkan simpati.

Ada banyak alasan orang menjadi pembohong patologis. Mungkin karena memiliki harga diri yang rendah dan merasa harus membuktikan lebih baik dari orang lain, atau mungkin karena kurangnya prestasi. Adakalanya pembohong patologis berbohong hanya untuk mendapatkan apa yang diinginkan. [***]

Populer

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Kasihan Banyak Tokoh Senior Ditipu Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:19

Partai Politik Mulai Meninggalkan Jokowi

Selasa, 17 Februari 2026 | 13:05

Sangat Aneh Bila Disimpulkan Ijazah Jokowi Asli

Kamis, 19 Februari 2026 | 18:39

UPDATE

LPDP Perkuat Ekosistem Karier Alumni, Gandeng Danantara dan Industri

Kamis, 26 Februari 2026 | 14:04

RDPU dengan Komisi III DPR, Hotman Paris: Tuntutan Mati ABK Fandi Ramadhan Janggal

Kamis, 26 Februari 2026 | 14:02

Kenaikan PT Bikin Partai di DPR Bisa Berguguran

Kamis, 26 Februari 2026 | 13:39

KPK Panggil Ketua KPU Lamteng di Kasus Suap Bupati

Kamis, 26 Februari 2026 | 13:38

DPR Jadwalkan Pemanggilan Dirut LPDP Sebelum Lebaran

Kamis, 26 Februari 2026 | 13:30

Great Institute: Ancaman Terbesar Israel Bukan Palestina, Tapi Netanyahu

Kamis, 26 Februari 2026 | 13:22

KPK Panggil Edi Suharto Tersangka Kasus Korupsi Penyaluran Bansos Beras

Kamis, 26 Februari 2026 | 13:06

IHSG Siang Ini Tergelincir, Nyaris Seluruh Sektor Merana

Kamis, 26 Februari 2026 | 12:51

Rusia Pertimbangkan Kirim Bantuan BBM ke Kuba

Kamis, 26 Februari 2026 | 12:29

Partai Buruh Bakal Layangkan Gugatan Jika PT Dinaikkan

Kamis, 26 Februari 2026 | 12:27

Selengkapnya