Berita

Alber Camus/ Net

Jaya Suprana

Absurditas Absurdisme

SELASA, 22 JANUARI 2019 | 07:40 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

KAMUS Besar Bahasa Indonesia mengungkap makna kata absurd sebagai tidak masuk akal; mustahil.

Namun sebenarnya makna absurd masih bisa diperluas menjadi misalnya imkompeten, preposterus, lucu, menggelikan, menertawakan, ilogikal, nihil makna, janggal sampai konyol bahkan sontoloyo.

Dalam bahasa gaul, absurd sinonim aneh, geli, bahkan jijik


Nihil Makna

Di Eropa, konsep absurdisme mengandung pemikiran bahwa pada hakikatnya tidak ada makna di dunia ini selain yang kita buat sendiri. Termasuk di dalam kenihilan makna adalah amoralitas atau ketidakadilan.

Konseptualisasi ini dapat dipandang setara dan senafas dengan agama  yang menganggap tujuan hidup adalah untuk mematuhi perintah Tuhan. Hidup absurd berarti menolak hidup yang mencari makna tertentu bagi kehadiran manusia akibat memang tidak ada yang dapat ditemukan.

Menurut Albert Camus, alam semesta atau manusia an sich sebenarnya tidak absurd  namun menjadi absurd ketika keduanya saling diposisikan satu sama lain  akibat manusia tidak menyelaraskan diri dengan alam.

Pandangan ini adalah satu di antara dua tafsir absurd di dalam pandangan eksistensialis. Pandangan kedua sesuai Kierkegaard, meyakini absurditas terbatas pada aksi dan pilihan manusia.

Aksi dan pilihan tersebut dipandang absurd karena muncul dari kebebasan manusia dan bukan berasal dari landasan diri yang berada di luar diri mereka sendiri.

Suwung

Konsep absurd dalam eksistensialisme berlawanan dengan pernyataan  "hal-hal buruk tidak akan terjadi pada orang baik"; kepada alam semesta, secara metaforis, tidak ada orang baik atau orang buruk; apa yang terjadi, terjadilah, dan sesuatu yang buruk dapat terjadi bagi orang "buruk" maupun orang "baik".  

Absurditas alam semesta menyebabkan apa pun dapat terjadi kepada siapa pun, kapan pun.  

Suatu kejadian tragis dapat mengantarkan manusia kepada konfrontasi langsung dengan absurditas. Konsep absurdisme dapat dijumpai dalam karya sastra Søren Kierkegaard, Samuel Beckett, Franz Kafka, Fyodor Dostoyevsky, Eugène Ionesco, Miguel de Unamuno, Luigi Pirandello, Jean-Paul Sartre, Joseph Heller dan Albert Camus yang mengandung ikhtiar penggambaran mengenai absurditas kehidupan seperti yang telah diungkapkan dalam pemikiran Taoisme .

Pada hakikatnya  Don Quixote, Nasruddin, Abu Nawas, Punakawan, Sabdapalon, Nayagenggong merupakan para tokoh absudisme.

Ungkapan “kemelut deru campur debu berpercik keringat, mata dan darah” merupakan getaran sukma kehampaan makna absurditas absurdisme.

Falsafah Kejawen tentang suwung  pada hakikatnya juga menelaah makna kehampaan mirip absurditas absurdisme.

Mitos Sisifus

Dalam keterkaitan dengan kehampaan makna semesta kehidupan, Albert Camus mengedepankan pemikiran bahwa "hanya ada satu masalah filsafat yang serius, yaitu bunuh diri" seperti yang tersirat di dalam Mitos Sisifus.

Upaya menanggulangi dampak buruk pemikiran “bunuh diri” tersedia cukup beragam mulai dari renungan Kierkegaard yang terkait agama, sampai ke anggapan Camus bahwa kita harus terus gigih berjuang melawan absurditas meski terkesan konyol bahkan mubazir.

Namun, para filsuf eksistensialis ingin membantu manusia menghindari kehidupan yang di dalamnya selalu ada bahaya kehilangan semua hal yang bermakna.

Bahaya ini dapat mengantar  ke pemikiran yang bertentangan dengan filsafat eksistensialis.

Secara paradoksal dapat dikatakan bahwa hasrat bunuh diri membuat semua manusia menjadi eksistensialis namun pahlawan absurdisme yang sejati adalah mereka yang berani maju tak gentar menempuh perjalanan hidup  demi  menghadapi kehampaan absurditas kehidupan tanpa melakukan bunuh diri.

Absurdisme membuktikan bahwa pada hakikatnya daya pikir manusia terbatas maka mustahil mampu membuka tabir misteri yang menutupi makna kehidupan

Penulis dalam upaya menghayati makna kehidupan mendirikan Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Langgar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

UPDATE

16 Negara Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Tujuh Wakil Asia

Senin, 29 Juni 2026 | 02:03

Prediksi Skor Babak 32 Besar

Senin, 29 Juni 2026 | 02:00

Bareskrim Gagalkan Peredaran 325 Kg Sabu Jaringan Thailand-Aceh

Senin, 29 Juni 2026 | 01:31

Segera Terbitkan Regulasi Pelarangan LGBT!

Senin, 29 Juni 2026 | 01:12

Forum Konferensi Republik Hasilkan Tiga Mandat

Senin, 29 Juni 2026 | 01:03

Mesir vs Iran: Stadion Berubah Jadi Arena Adu Gengsi Ribuan Tahun

Senin, 29 Juni 2026 | 00:38

Pelarangan Konferensi Republik di Kampus UI Tak Menumbuhkan Pesimisme

Senin, 29 Juni 2026 | 00:27

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

BPPKB Banten HDS Melepas Stigma Negatif terhadap Ormas

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:41

Forum Konferensi Republik Dibatalkan Sepihak oleh Kampus UI

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:05

Selengkapnya