Berita

Doni Monardo/Dok

Publika

Kisah Doni Monardo: Sang Jenderal Yang Pernah Beli Mobil Bekas Karena Kantong Pas-Pasan

KAMIS, 17 JANUARI 2019 | 08:29 WIB

KEPALA Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang baru dilantik Letnan Jendral Doni Munardo ternyata punya kenangan masa lalu saat membeli mobil bekas.

Doni diam-diam pernah dikecewakan oleh mobil bekas. Cerita menggelikan itu diungkap kembali oleh sahabatnya, Egy Massadiah.

Tahun 1998, di pengujung Doni baru saja melepas jabatan sebagai Danyon Kopassus 11 Serang. Ia persiapan mengikuti Sesko AD di Bandung. Berpangkat mayor, Doni merasa perlu sebuah mobil untuk transportasi selama berada di Bandung.


Egy mengisahkan, Doni kala itu memiliki uang sekitar 40 juta. Masih di bulan yang sama, Doni bersama Egy berkeliling Jakarta untuk mencari mobil seharga tersebut.

Dua tiga hari berkeliling, dari showroom ke showroom, mereka temukan bahwa rupanya harga mobil bekas mahal semua. Rata-rata di atas 40 juta rupiah.

Akan tetapi, “Sore-sore, menjelang magrib, kami tiba di sebuah showroom di bilangan Menteng, Jalan Cik di Tiro. Setelah melihat-lihat, kami beli sebuah mobil yang ternyata harganya di bawah 40 juta. Bayar…” kisah Egy.

Jenis mobil yang dibeli sedan Corolla warna merah maroon. "Mobil kami bawa, dan ternyata setelah diteliti, esoknya ketahuan kalau ini mobil ternyata bekas tabrakan parah. Bekas bekas cat nya sangat menonjol. Bang Doni pun tidak puas. Apalagi karena memang waktu itu uangnya pas-pasan. Saya lalu kembali ke showroom, dan untungnya mereka menerima alasan kami karena kondisi mobilnya bekas tabrakan. Uang pun kembali utuh," kenang Egy Massadiah sambil tertawa.

“Apa boleh buat,” menurut Egy, sang sahabat. “Itulah kalau duit pas-pasan. He-he”

Itulah sepetik cerita masa lalu tentang Doni Munardo. Kini ia berpangkat Letnan Jenderal dan menahkodai salah satu lembaga negara paling dicari dan dibutuhkan saat ini.

Egy berjumpa ‘Mayor’ Doni untuk pertama kali 1997 ketika masih menjabat Danyon di Kopassus Serang Banten. Bagi Egy, pria lulusan Akabri 1985 tersebut adalah perajurit komando berbaret merahnya yang pengalaman tempurnya terbilang tebal dan menonjol baik di dalam maupun di luar urusan militer.

Doni pernah merasakan desingan peluru di Timor Timor, bernegoisasi dengan GAM di Aceh hingga mendapat kepercayaan menjadi wakil Komando Satuan Tugas Khusus untuk pembebasan kapal MV Sinar Kudus yang dibajak oleh perompak di perairan Somalia pada Maret hingga Mei 2011.

Singkat cerita, lulus sesko AD, Letkol Doni kemudian dipercaya menjadi Komandan Batalyon di Singaraja. Waktu terus berjalan, strategi dan karya ditelurkan. Doni Kemudian menjabat Dan Grup A Paspampres, Danrem Surya Kencana Bogor dan Wadanjen Kopassus, Pangdam Pattimura, kemudian Pangdam III Siliwangi Jawa Barat, dan paling mutakhir Sesjen Wantannas.

Di luar perihal kemiliteran, Doni adalah seorang yang peduli urusan sosial dan lingkungan. Ia menghutankan Kesatriaan Kopassus Serang, merenovasi sebuah masjid di Kuta Bali, menata sungai Ciliwung , dan terakhir ia menyulap Lahan Makoyonif 731/Kabaresi Ambon menjadi kebun raya. Banyak pohon langka ditanam. Juga buah-buahan, seperti jeruk, durian, lemon, dan lain lain.  

Di Ambon, "Kami melestarikan tumbuhan langka, ada masoya, lingua, palaka, pahara, gaharu, ebony, demikian juga buah-buahan khas, seperti sukun, durian, pala, cengkih, kenari, ada banyak sekali," kata Doni sebagaimana pernah dilansir Detikcom.

Itulah secuplik kisah Letjen Doni.

“Jika mengingat-ingatnya, mungkin dia akan senyum-senyum dan tertawa geli dalam hati khususnya tentang mobil bekas-nya," ujar Egy mantan wartawan yang kini banyak aktif di bidang teater dan seni peran.

Beberapa hari lalu segera Egy sampaikan selamat bertugas pada Doni. Bagi Egy, tak ada yang berubah. Doni tetaplah manusia biasa yang bersahaja, sederhana dan menghargai lawan bicaranya. Selamat jenderal. "Tentara harus berbuat, berkarya," Komando! [***]


Muhammad Jazuli
jazulimuha@gmail.com

Populer

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK-PPATK Diminta Pastikan Harta AHY dan Ibas dari Sumber Halal

Senin, 06 Juli 2026 | 17:38

UPDATE

Prabowo Akui Punya DNA India, Suka Bergoyang Kalau Ada Musik

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:09

Pansus DPR Desak Kemendagri Percepat Penyusunan DIM RUU Daerah Kepulauan

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:02

Kapolri Resmikan 80 Jembatan Merah Putih Presisi di Riau, Total Kini 110 Unit

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:50

KPK Harus Tegas, Pengembalian Amplop Raja Juli Tidak Hapus Dugaan Pidana

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:44

Kejagung Tetapkan Tiga Tersangka Korupsi Tambang PT PMM, Ada Pegawai Bea Cukai

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:43

Prabowo Peluk Erat Modi saat Antar Kepulangannya Menuju India

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:34

Kekuatan Jokowi cuma Uang, Bukan Ideologi

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:32

Memahami Aturan Paspor Diplomatik: Siapa Saja yang Berhak Memilikinya?

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:18

Rekor Baru Messi di Piala Dunia Lewati Maradona

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:17

Ketidakadilan Laga Argentina vs Mesir Bersifat TSM

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:00

Selengkapnya