Berita

Publika

Hati Pembaca

SENIN, 07 JANUARI 2019 | 04:45 WIB | OLEH:

PEMILIHAN umum tinggal beberapa bulan lagi. Salah satu yang sangat menarik adalah: politik redaksi sejumlah media. Akhir-akhir ini. Ada dua pasangan calon presiden-wakil presiden yang harus dipilih: Joko Widodo-Makruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno.

Masing-masing pasangan capres-cawapres punya pendukung. Di media sosial, ada julukan lucunya: cebong dan kampret. Apa pun sebutannya, kedua kelompok pendukung tersebut sama-sama menjadi pasar pembaca koran. Sama-sama berpotensi. Sama-sama penting.

Pertanyaannya, bagaimana media harus bersikap? Mendukung salah satu? Mendukung yang mana? Yang lebih kuat menurut survey? Yang lebih lemah menurut riset? Atau mendukung petahana? Mendukung penantang?


"Pahami perasaan pembaca saat membuat berita," begitu nasihat Dahlan Iskan yang sering disampaikan kepada setiap wartawan. Entah sudah berapa kali saya mendengar nasihat yang sama, sejak menjadi wartawan Jawa Pos tahun 1991.

Memahami perasaan pembaca, menurut Dahlan, sangat penting bagi awak media. Pengetahuan wartawan terhadap "perasaan pembaca" mempengaruhi berita yang dibuat bisa diterima atau ditolak pasar.

Dahlan kemudian menceritakan, bagaimana Jawa Pos begitu lakunya saat Amerika Serikat menginvasi Iraq menjelang akhir dekade 90-an, yang dikenal dengan Perang Teluk I. Saat itu, Jawa Pos mencatat rekor penjualan tertinggi dalam sejarahnya, hingga 700 ribu eksemplar per hari.

Resep keberhasilan Jawa Pos itu, semata-mata, hanya karena memahami "perasaan pembaca" saja. "Perasaan orang Indonesia itu ingin agar pihak yang lemah tidak kalah dari yang kuat," kata Dahlan.

"Selama Perang Teluk, semua orang Indonesia mengungkapkan perasaan melalui doa dan harapan agar Amerika Serikat gagal menakhlukkan Iraq," lanjut Dahlan.

Karena perasaan pembaca seperti itu, Dahlan Iskan memutuskan agar Jawa Pos memberitakan Perang Teluk I dari sisi "menghebatkan Iraq" yang lemah, bukan "menghebatkan Amerika Serikat" yang sudah hebat.

Keberhasilan kecil pasukan Iraq harus diperlihatkan, karena keberhasilan itu sesuai doa dan harapan pembaca. Kemenangan Amerika Serikat diberitakan apa adanya, karena bertentangan dengan doa dan harapan pembaca.

Ketika Amerika berhasil membumihanguskan sebuah objek vital Iraq melalui pertempuran udara dan darat, Jawa Pos memilih angle sebuah helikopter Amerika Serikat yang jatuh ditembak penduduk sipil bersenjata.

Jatuhnya sebuah helikopter tempur Amerika Serikat, adalah sesuai perasaan, doa dan harapan pembaca. Padahal, kerugian satu helikopter itu tidak seberapa disbanding begitu besarnya mobilisasi alat perang dan pasukan Amerika Serikat.

Sebaliknya, hancurnya fasilitas vitas Iraq oleh serangan pasukan Amerika Serikat sebenarnya sebuah kerugian amat besar bagi Iraq. Tetapi, berita kekalahan itu, sangat melukai perasaan pembaca. Begitu perasaan pembaca terluka, minat membaca Jawa Pos akan meredup.

"Petani Iraq Tembak Jatuh Heli AS" atau "Lagi, 2 Tentara AS Tewas", bisa menjadi headline. Sementara berita "Pasukan AS Kuasai Kota", cukup menjadi berita kedua atau ketiga.

Saat Perang Teluk I terjadi, saya mahasiswa yang punya usaha agen koran di Semarang. Ketika mulai masuk pasar Semarang, pada 1989, penjualan Jawa Pos biasa saja. Masyarakat Semarang lebih lebih menyukai koran lokal Suara Merdeka, ketimbang Jawa Pos. Tetapi ketika Perang Teluk I pecah, mendadak semua orang mencari Jawa Pos.

Membaca hati pembaca. Jawaban itu saya temukan dua tahun kemudian. Ketika menjadi anak buah Dahlan Iskan. Menjadi wartawan Jawa Pos pada 1991.[***]

Penulis adalah admin www.disway.id.

Populer

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK-PPATK Diminta Pastikan Harta AHY dan Ibas dari Sumber Halal

Senin, 06 Juli 2026 | 17:38

UPDATE

Prabowo Akui Punya DNA India, Suka Bergoyang Kalau Ada Musik

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:09

Pansus DPR Desak Kemendagri Percepat Penyusunan DIM RUU Daerah Kepulauan

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:02

Kapolri Resmikan 80 Jembatan Merah Putih Presisi di Riau, Total Kini 110 Unit

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:50

KPK Harus Tegas, Pengembalian Amplop Raja Juli Tidak Hapus Dugaan Pidana

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:44

Kejagung Tetapkan Tiga Tersangka Korupsi Tambang PT PMM, Ada Pegawai Bea Cukai

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:43

Prabowo Peluk Erat Modi saat Antar Kepulangannya Menuju India

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:34

Kekuatan Jokowi cuma Uang, Bukan Ideologi

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:32

Memahami Aturan Paspor Diplomatik: Siapa Saja yang Berhak Memilikinya?

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:18

Rekor Baru Messi di Piala Dunia Lewati Maradona

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:17

Ketidakadilan Laga Argentina vs Mesir Bersifat TSM

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:00

Selengkapnya