Berita

Presiden Joko Widodo di Carita, Banten/Net

Politik

CATATAN AKHIR TAHUN

Orang-Orang Merdeka

MINGGU, 30 DESEMBER 2018 | 13:02 WIB | OLEH: DR. SYAHGANDA NAINGGOLAN*

BEBERAPA hari lalu saya melihat tulisan Tjahja Gunawan Diredja berdedar di media sosial menyoroti soal ketidakpantasan Jokowi selfie di bencana Banten/Lampung.

Saya mengenal dia puluhan tahun lalu sebagai wartawan di Bandung. Terakhir dia menulis biography Chairul Tanjung si Anak Singkong.

Tulisan dia yang melakukan kritik terhadap rezim Jokowi, menambah jumlah wartawan senior atau mantan sebagai penulis-penulis volunteer dalam membela kebenaran di masyarakat kita.


Keheranan saya yang bercampur kekaguman saat ini berfokus pada banyaknya mantan-mantan wartawan top saat ini membuat tulisan-tulisan di media sosial untuk mengkritik Jokowi dan pendukung-pendukungnya.

Tentu saja mereka sebagian besarnya, kalau tidak semua, juga membela Prabowo Subianto.

Awalnya penulis-penulis eks wartawan di kelompok oposisi hanya nama-nama itu saja, seperti Naniek S Dayeng, Djoko Edhi Abdurrahman, Zeng Wie Jan, dan Nasihin (Nasihin sekarang menghilang atau menghilangkan dirinya?). Namun, saat ini sudah berpuluh eks wartawan yang menulis sebagai oposisi. Ada Asyari Usman, Hersubono Arief, Tony Rasyid, M Ali, Nasrudin Joha, Tjahja Gunawan dan lain-lain yang saya sulit menghapal namanya.

Oh dulu juga ada almarhum Derek Manangka, yang bahkan membuat tulisan "Jokowi ada Affair dengan Rini Sumarno". Kita doakan saja beliau masuk surga. Aamiin

Kenapa kita perlu mencatat fenomena ini? pentingkah?

Ada tiga hal yang menjadi alasan bagi kita untuk membahas tentang mereka. 1) Soal idealisme. 2) Soal kemampuan menulis. 3) "Seeking the Truth".

1) Soal idealisme, ini benar benar menyentakkan kita. Sebab, mayoritas wartawan saat ini identik dengan amplop. Berbeda di masa lalu, di mana wartawan identik dengan perjuangan. Zaman Mocthar Lubis, misalnya, menjadi wartawan dianggap sebuah idelalisme.

Jus Soema Dipraja, misalnya, bergabung dengan pemberontak Malari, tahun 74, ketika koran di mana dia menjadi wartawan dianggapnya tidak sejalan dengan hati nurani.

Tentu wartawan bajingan juga ada di masa lalu. Namun, wartawan sebagai simbol idealisme menjadi mainstream. Sehingga pemilik koran atau media memberi ruang kebebasan bagi wartawan dan keredaksian.

Namun, sejak media menjadi industri dan sumber uang, informasi dan berita harus tunduk pada kepentingan pemilik modal. Wartawan dianggap hanya sebagai alat produksi. Karyawan semata.

Di sinilah awal hilangnya idealisme.

Wartawan wartawan atau mantan yang semakin banyak menulis di dunia media sosial menulis tanpa uang. Mereka bukan seperti konsultan politik, misalnya seperti Denny JA yang dibayar mahal untuk setiap meme. Saya coba tanyakan hal itu ke Kisman Latumakulita, yang mengenal mereka, menurut Kisman semuanya volunteer.

2). Soal kemampuan menulis. Wartawan senior biasanya terkena doktrin 5W+1 (what, who, when, where, why dan how). Doktrin ini membuat mereka jeli dalam dan "cover both side" dalam menulis. Ini beda dengan kebanyakan generasi medsos, generasi "copy paste" dan "forward". Apalagi jika menulis atau penulis berbayar, tentu yang disajikan hanyalah data-data dan informasi propaganda, untuk mendukung kelompoknya saja.

Dengan kemampuan menulis ala doktrin 5W+1 itu, Asyari Usman, Arief Sofianto, Tony Rasyid, Nasrudin Joha, Hersubeno Arif dan lain-lain juga terakhir ini Tjahja Gunawan menghadirkan tulisan berkelas. Tulisan berkelas artinya menampilkan fakta sebagai alat ukur. Sehingga kebenaran yang dicari pembaca bukan manipulasi, melainkan hal nyata.

3) "Seeking the truth"

Terlepas dari keterbelahan masyarakat (divided society) saat ini, masyarakat yang terbelah itu juga ingin mengetahui kebenaran yang sesungguhnya atas sebuah informasi yang beredar.

Hal ini tentu sulit didapatkan saat ini. Karena media sebagai pilar informasi sudah menjadi industri. Bahkan, lebih parah dari industri, media sudah lebih jauh berubah menjadi alat propaganda penguasa. (beberapa media alternatif saat ini seperti RMOL, Teropong Senayan, Tabayun, Eramuslim, Nusantaranews, Seruji, Ahad, Swamedium, Pribuminews, Faktanews, Suaramerdeka, dan lain sebagainya menjadi serbuan alternatif rakyat yang muak dengan informasi versi pemerintah).

Di masa Suharto, ketika media dikontrol penguasa untuk memberitakan semua kebaikan penguasa, masih ada cela kebaikan karena wartawan-wartawan saat itu masih independen. Saat ini mencari wartawan baik pun susah.

Penulis-penulis (eks) wartawan senior ini pada kelompok oposisi akhirnya berfungsi menjadi pencerah dalam konteks mendapatkan informasi yang benar.

Banyak penulis seperti saya, Eddy Junaidi, Salamuddin Daeng, Dr. Ahmad Yani dan lain sebagainya, bahkan Sri Bintang telah dipersepsikan begitu bias.

Penulis seperti saya misalnya, seringkali menghindari "cover both side". Meskipun tentunya soal "truth" yang saya sampaikan memenuhi unsur. ("Truth vs falsehood" yang diperbincangkan Aristoteles dan Plato dalam Theory of Correspondence dan Bertrand Russell dalam Theory or Coherence, bagi seorang ideolog tidak sepenuh benar. ini bahasan lain nantinya).

Sebaliknya, penulis-penulis berlatar belakang wartawan ini menyajikan fakta lengkap, sehingga lebih utuh informasinya. Ada kehausan masyarakat kepada tulisan mereka.

Dalam tulisan ini, saya melihat penulis-penulis (eks) wartawan ini adalah orang-orang merdeka, karena tiga alasan penting tadi sebagai latar belakang kajian kita: idelaisme, kemampuan menulis dan "seeking the truth".

Mereka manusia-manusia pencerah, namun tak berbayar. Tanpa bayaran, mereka menjadi jaminan kemerdekaan mereka berpikir.

Kemerdekaan berpikir tentu membuat mereka menjadi rujukan rakyat, disamping kaum ideolog. Rujukan ini minimal untuk kebutuhan rakyat oposisi yang cinta kebenaran.[***]


Direktur Sabang Merauke Circle


Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Perdana sebagai Anggota Penuh, Prabowo Hadiri KTT BRICS di India

Sabtu, 12 September 2026 | 12:20

Serda Ahmad Muzammil Tewas, POMAU Periksa 4 Personel

Sabtu, 12 September 2026 | 12:06

Menteri Imipas Penuhi Janji, 82 WNI Dipulangkan dari Malaysia

Sabtu, 12 September 2026 | 11:52

Kemendikdasmen Prioritaskan Revitalisasi Ribuan Sekolah, Ini Kategorinya

Sabtu, 12 September 2026 | 11:37

Pertamina Patra Niaga Tingkatkan Pasokan BBM ke SPBU Sulsel

Sabtu, 12 September 2026 | 11:28

Soal Life Jacket yang Ditemukan, Pemilik Kapal Buka Suara

Sabtu, 12 September 2026 | 11:10

Hari Pelanggan, Manfaat Perlindungan Kesehatan Tembus Rp1,1 Triliun

Sabtu, 12 September 2026 | 11:01

LRT Jabodebek Beroperasi Normal Usai Gempa M5,9 Guncang Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 10:50

Emas Antam Naik di Akhir Pekan, Satu Gram Jadi Segini

Sabtu, 12 September 2026 | 10:45

DPR Desak Usut Tuntas Penembakan Tiga Pegawai Pertanian Jayawijaya

Sabtu, 12 September 2026 | 10:28

Selengkapnya