Berita

KH.Ma'ruf Amin dan Erick Tohir/Net

Publika

Erick Thohir Tak Paham Ekonomi Emak-Emak

MINGGU, 23 DESEMBER 2018 | 15:19 WIB

KETUA Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin (Ko-Ruf), Erick Thohir, mengatakan “bohong kakau ada yang bilang harga-harga naik”. Dia ucapkan itu ketika turun ke Pasar Terong di Makassar, beberapa hari lalu.

Pengusaha kaya-raya ini mengatakan harga-harga stabil. Tidak ada yang naik.
Kalau emak-emak Sumatera, Jawa dan Kalimantan tahu apa yang dikatakan Erick itu, bisa besar urusannya. Setidaknya mereka akan mengatakan Erick Thohir sok tahu.

Sebetulnya Erick bukan sok tahu. Yang menjadi masalah adalah perbedaan yang sangat kontras antara makna kenaikan harga yang dipahami Erick dan makna yang dipahami rakyat kecil.

Sebetulnya Erick bukan sok tahu. Yang menjadi masalah adalah perbedaan yang sangat kontras antara makna kenaikan harga yang dipahami Erick dan makna yang dipahami rakyat kecil.

Bagi Erick, kenaikan 500 perak, 2,000 perak, 3,000 perak dan seterusnya tak akan terdeteksi sama sekali oleh sistem digitasi duitnya. Emak-emak bisa ribut gara-gara harga cabai naik 3,000 rupiah. Sedangkan Erick tetap santai kalau salah satu perusahaannya mengalami kerugian 3,000 juta rupiah, yang berarti hanya 3 miliar. Kerugian segini tak masuk dalam hitungan Erick.

Jadi, mana mungkin dia bisa merasakan kepedihan emak-emak yang harus menambah pengeluaran 15 ribu atau 30 ribu rupiah sehari. Jauh sekali. Tak akan pernah dia pahami. Pecahan-pecahan yang sangat berarti bagi emak-emak, tidak masuk dalam hitungan Erick Thohir. Sebab, angka-angka ini bagi Erick adalah supermikro.

Erick itu sehari-hari membaca laporan keuangan group perusahaanya dengan sebutan ‘ratusan miliar’ atau ‘puluhan miliar’ paling rendah. Itu laporan harian. Laporan tahunannya hampir pasti dalam angka triliunan. Kalau dalam dollar atau euro, sebutannya juta, belasan juta, atau ratusan juta.

Nah, bagaimana mungkin Anda mengharapkan Erick bisa ‘nyambung’ dengan angka 500 rupiah atau 2,000 rupiah? Manalah dia paham tentang kenaikan harga yang dibicarakan oleh emak-emak? Anda bercerita beras naik dari Rp10,500 menjadi Rp11,750. Sementara Erick mencatatkan laba tahunan 700-800 miliar dalam round-up atau pembulatan yang menggolongkan belasan juta sebagai recehan. Bukan seperti kita yang masih memperhatikan recehan seribu-dua ribu.

Berbeda dengan Sandiaga Uno. Beliau ini memamg orang kaya-raya juga, tapi sudah sejak lama bergelut dengan ekonomi rakyat. Dia paham betul keluhan emak-emak. Dia mengerti dampak negatif kenaikan sembako dan kebutuhan dapur lainnya.

Sandi banyak menghabiskan waktu mengunjungi pasar-pasar rakyat. Dia berdialog dengan para pedagang kecil. Saking seringnya Sandi blusukan ke pasar-pasar di seluruh Indonesia, sampai-sampai Erick Thohir menyindir bahwa Sandi hanya melakukan pencitraan.

Ini bisa dimaklumi. Karena, Sandi sudah terlalu akrab dengan pasar rakyat. Akrab dengan emak-emak. Sehingga, tanpa terasa, Sandi menjadi terasosiasi dengan pasar rakyat dan emak-emak. Terasosiasi dengan kebutuhan dapur, selalu terpaut dengan harga-harga keperluan rakyat.

Begitu eratnya peng-asosiasian itu, ke pasar mana pun Sandi berkunjung dia akan selalu ‘dihajar’ oleh emak-emak. Dikerumuni, dikepung, didaulat, dsb. Dan ini pula yang membuat Erick Thohir gerah. Sampai akhirnya dia katakan Sandi hanya melakukan pencitraan.

Tapi Sandi tak melayani Erick. Dia tahu ketua timses Jokowi itu susah memahami ekonomi emak-emak, ekonomi orang kecil.
 
Sandi tak perduli. Dia terus saja mendatangi pasar rakyat dengan ramah dan lembut.

Di mana pun dia berada, Sandi tak pernah lupa menyebutkan tekadnya untuk menjaga agar harga-harga selalu dalam jangkauan rakyat kecil jika kelak dia diberi mandat sebagai wakil presiden. [***]

Penulis: Asyari Usman, Wartawan Senior

Populer

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK-PPATK Diminta Pastikan Harta AHY dan Ibas dari Sumber Halal

Senin, 06 Juli 2026 | 17:38

UPDATE

Prabowo Akui Punya DNA India, Suka Bergoyang Kalau Ada Musik

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:09

Pansus DPR Desak Kemendagri Percepat Penyusunan DIM RUU Daerah Kepulauan

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:02

Kapolri Resmikan 80 Jembatan Merah Putih Presisi di Riau, Total Kini 110 Unit

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:50

KPK Harus Tegas, Pengembalian Amplop Raja Juli Tidak Hapus Dugaan Pidana

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:44

Kejagung Tetapkan Tiga Tersangka Korupsi Tambang PT PMM, Ada Pegawai Bea Cukai

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:43

Prabowo Peluk Erat Modi saat Antar Kepulangannya Menuju India

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:34

Kekuatan Jokowi cuma Uang, Bukan Ideologi

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:32

Memahami Aturan Paspor Diplomatik: Siapa Saja yang Berhak Memilikinya?

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:18

Rekor Baru Messi di Piala Dunia Lewati Maradona

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:17

Ketidakadilan Laga Argentina vs Mesir Bersifat TSM

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:00

Selengkapnya