Berita

Publika

Menyoroti Kompas

SABTU, 08 DESEMBER 2018 | 13:45 WIB

JIKA hari-hari sebelumnya koran Kompas menyoroti pelbagai peristiwa,  fenomena atau trend di masyarakat, kali giliran Kompas menjadi obyek sorotan, telaah, analisis sejumlah Jurnalis. Termasuk mantan Jurnalis Kompas sendiri. Kenapa?

Karena Kompas dinilai tidak fair, tidak professional, tidak patut, melanggar Kaidah Dunia Jurnalistik dengan tidak memberitakan Peristiwa Akbar Reuni 212 yang diikuti jutaan  Massa Masif Umat Islam dan Umat non-Islam yang berlangsung secara Tertib, Damai, Simpatik, Impresif, Atraktf, Komunikatif.

Padahal Media Massa Internasional, sebut saja Tv Al-Jazeera, Nikei, CNN dan pelbagai Televisi serta Koran di berbagai belahan dunia, memberitakan dengan Sukacita. Termasuk koran berbahasa Arab di Timur Tengah. Ini menandakan Peristiwa tersebut memiliki News Value yg signifikan dan Magnit yang luar biasa. Sehingga menggetarkan Dunia dan Wajib memberitakannya secara luas. itu pertama.


Kedua, ada pertimbangan yang kurang Akurat, kurang Sehat, meleset atau distorsi di posisi Redaksional ketika kemudian  memutuskan untuk tidak memuat peristiwa Reuni 212 di Halaman Depan Kompas. Ini disebabkan pertimbangan yang mis-perception dan mis-interpretation yang menyebabkan mis-leading dan mis-action dengan menempatkan berita 212 di halaman belakang.

Kenapa terjadi hal yang menyebabkan sebagian Jurnalis berpendapat Kompas telah salah langkah dan mis-leading bahkan melenggang hendak bunuh diri?

Pertama, tentu saja karena persepsi. Persepsi  itu lahir dari nilai-nilai,  sikap dan pengalaman individual dan kelembagaan  Termasuk di dalamnya terselip rasa Dengki, purbasangka, dan kebencian atau kesukaan yang terbentuk pada pribadi-pribadi di Redaksional.

Kedua, lantaran  pilihan Politiknya. Padahal PK Ojong selaku Pendiri Kompas berpesan : "Tugas Pers itu bukanlah Menjilat penguasa, melainkan mengritik penguasa."

Dengan demikian Kompas telah meninggalkan Prinsip Jurnalistik Bothside Cover, Balance,  Objective, Social Control.

Inilah paradoks yang sedang terjadi di Kompas. Kompas secara eksplisit pada Hari Senin 3 Desember dengan gagah berani seakan menyatakan : Kompas Bukan lagi Koran Kita. Tapi Korannya  mereka. Untuk itu kita ucapkan : Selamat Tinggal Kompas. [***]

Dindin Machfudz
Mantan Wakil Pemimpin Redaksi Majalah Eksekutif Jakarta, bersama Dr Elvinaro menulis buku CSR dan Efek Kedermawanan Pebisnis

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

UPDATE

Tidak Mengutuk Tapi Ayo Gugat Israel di PBB

Minggu, 05 April 2026 | 01:55

Energi Transisi Sulap Desa Rentan jadi Resisten

Minggu, 05 April 2026 | 01:32

1.305 Rekomendasi Audit BPK di Kementerian PU Belum Tuntas

Minggu, 05 April 2026 | 01:10

Pakistan Gratiskan Transportasi Umum Buntut Demo Kenaikan BBM

Minggu, 05 April 2026 | 00:52

Menang di Tingkat Kasasi, Natalia Rusli Fokus Kawal Perkara Pidana

Minggu, 05 April 2026 | 00:32

Pemerintah Desak DK-PBB Lindungi Pasukan Perdamaian di Lebanon

Minggu, 05 April 2026 | 00:12

Pelni Sukses Layani 467 Ribu Penumpang Selama Arus Mudik-Balik Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 23:57

KSAD: Tiga Prajurit Gugur, Kami Sangat Kehilangan

Sabtu, 04 April 2026 | 23:32

Menlu Ungkap Ada Tiga Prajurit TNI Lagi Terluka di Lebanon

Sabtu, 04 April 2026 | 23:11

ITERA: Fenomena Langit Lampung Timur Diduga Sampah Antariksa Roket China

Sabtu, 04 April 2026 | 22:42

Selengkapnya