Berita

Uyau Moris/KBRI Ekuador

Dunia

Pesona Sape Dayak Dan Uyau Moris Pukau Penonton Ekuador

RABU, 05 DESEMBER 2018 | 08:26 WIB | LAPORAN:

Musisi muda asal suku Dayak Kenyah yang juga mahasiswa program Master di ISI Yogya, Uyau Moris telah mengikuti rangkaian kegiatan the 3rd Loja International Festival of Performing Art di Loja dan Quito, Ekuador pada 16 – 23 November 2018.   

The 3rd Loja International Festival of Performing Art merupakan festival internasional yang diselenggarakan oleh Municipality of Loja dan Ministry of Cultural and Heritage of Ecuador, yang  mempertunjukkan tari, musik, teater, drama musikal, pantomime dan pertunjukan akrobatik. Kegiatan ini diikuti oleh seniman dari berbagai negara, seperti Spanyol, Meksiko, Peru, Kolombia, Jepang, Cuba, Argentina, Chile, termasuk Indonesia.

Ada sekitar 400 orang artis internasional terlibat dalam kegiatan ini, bersama ribuan artis dan seniman Ekuador yang menampilkan beragam kegiatan seni.


Pada penampilan pertamanya di Circuito de la Cultura yang merupakan panggung terbuka, Uyau Moris bersama dua penari dari KBRI Quito menampilkan musik dan tari yang sangat menarik perhatian 150 penonton yang hadir.

Kemudian di hari kedua pertunjukan, Uyau Moris diberi kesempatan untuk tampil di salah satu teater yaitu Teatro de Artes Segundo Cueva Celi.

Uyau Moris membawakan tujuh lagu daerah yaitu Papat Pibui, Menu Lepu, Soul of Borneo, Mohing Asang, Jungle Song, Hope dan lagu Lan E Tuyang yang berkolaborasi dengan seorang penari dari KBRI yaitu Vera.

Berbeda dari pertunjukan sebelumnya, Uyau Moris membawakan satu lagu pop berbahasa Spanyol yang sangat popular baik di Ekuador maupun di Indonesi.  Lagu Despacito dimainkan Uyau menggunakan alat musik tradisional Sape yang membuat decak kagum para penonton dan turut hanyut bernyanyi bersama. Sape merupakan alat musik tradisional suku dayak, yang dimainkan dengan cara dipetik.

Pada mulanya, Uyau Moris hanya mendapatkan dua kali kesempatan untuk tampil di festival Internasional tersebut, namun belakangan diberi kehormatan untuk tampil kembali pada pembukaan Folklore Performance yang masih dalam rangkaian the 3rd Loja International Festival of Performing Art.  

Pada pembukaan Folklore Performance di Plaza Teatro Bolivar, Uyau membawakan dua buah lagu daerah yaitu, Soul of Borneo dan Lan E Tuyang yang diiringi dengan tarian.

Sama halnya dengan pertunjukan yang sebelumnya, Uyau Moris menampilkan pertunjukan musik yang berbeda dari penampil lainnya, berhasil membuat decak kagum setiap alunan instrument Sape yang dimainkan.

Seusai mengikuti the 3rd Loja International Festival of Performing Art, Uyau Moris lanjut mengikuti rangkaian kegiatan atas kerjasama KBRI dengan beberapa pihak di kota Quito.   

Pada pertunjukan pertamanya di Quito, Uyau Moris tampil memukau di hadapan mahasiswa dan akademisi Pontificia Universidad Catolica del Ecuador (PUCE) yang sangat antusias menantikan permainan Sapenya.

Uyau Moris membawakan beberapa lagu daerah yang menjadi andalannya dan sangat dinikmati oleh kurang lebih 120 orang penonton di Auditorio de la Facultad Ciencias de la Educación.

Selain memainkan alat musik Sape dalam setiap lagu yang dibawakan, Uyau Moris juga memainkan alat musik tradisional Ekuador yaitu Quena. Ini alat musik tiup seperti suling yang didapat Uyau dari seniman Ekuador saat mereka berada dalam satu festival seni di Paris.

Tidak hanya sampai disitu, pesona alat musik Sape yang dimainkan Uyau Moris juga sangat dinantikan di salah satu teater yang cukup popular di Ekuador yaitu Teatro Nacional Sucre.

Uyau Moris berkesempatan untuk tampil di hadapan kurang lebih 150 penonton yang berasal dari berbagai kalangan baik dari seniman, masyarakat umum, pemerintahan dan pengusaha di Ekuador.  

Penampilan Uyau Moris yang didukung dengan penataan cahaya dan akustik yang sangat apik memperkuat suasana yang ingin disampaikan dari setiap lagu yang mempunyai cerita sehingga mendapatkan standing ovation dari semua penonton yang hadir.

Kehadiran Uyau Moris dalam kesempatannya mengikuti beberapa kegiatan KBRI Quito merupakan sebuah upaya untuk terus menerus memperkenalkan Indonesia. Di samping itu  menunjukkan bahwa Indonesia memiliki begitu banyak seni dan budaya yang begitu menawan dan salah satunya dengan alat musik tradisional Sape yang dimainkannya. Ini juga merupakan salah satu cara untuk menarik minat wisatawan untuk lebih mengetahui potensi yang dimiliki Indonesia.[wid]


Populer

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

Tetangga Sudah Mendahului, Indonesia Masih Berpidato

Jumat, 15 Mei 2026 | 05:30

Jokowi Boleh Keliling Indonesia Asal Tunjukkan Ijazah Asli

Rabu, 20 Mei 2026 | 01:33

Cegah Kabur, Segera Eksekusi Razman Nasution!

Kamis, 21 Mei 2026 | 05:04

Tuntutan Seret Jokowi ke Pengadilan terkait Kasus Nadiem Mengemuka

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:02

Bebaskan Nadiem, Lalu Adili Jokowi

Senin, 18 Mei 2026 | 02:46

UPDATE

Kasus Roy Cs, Polisi Sudah Lengkapi Petunjuk Jaksa

Sabtu, 23 Mei 2026 | 20:13

Bukan Soal Salah Nama Desa, IPI: Reshuffle Perlu Karena Rapor Merah Menko Pangan

Sabtu, 23 Mei 2026 | 19:49

Pertamina Trans Kontinental Berdampak bagi Lingkungan, Raih Best CSR 2026

Sabtu, 23 Mei 2026 | 19:10

Hilirisasi Nasional, Jalan Menuju Keadilan Ekonomi

Sabtu, 23 Mei 2026 | 18:13

Ekonom: Tata Kelola SDA dan Perekonomian Sudah Keluar Jalur UUD 1945

Sabtu, 23 Mei 2026 | 18:10

Ekonom Ramal Rupiah Betah di Rp17.000 per Dolar AS

Sabtu, 23 Mei 2026 | 17:45

Dukung Dakwah di AS, KAUMY Salurkan Bantuan untuk Nusantara Foundation

Sabtu, 23 Mei 2026 | 17:43

Bamsoet dan Ketum Perbakin Banten Berburu Babi Hutan Perusak Panen

Sabtu, 23 Mei 2026 | 17:27

Salah Beri Informasi Saat Minyakita Bermasalah, Pengamat: Ucapan Prabowo Peringatan untuk Zulhas

Sabtu, 23 Mei 2026 | 17:13

Regulasi Right to Be Forgotten di Indonesia Masih Abu-abu

Sabtu, 23 Mei 2026 | 16:58

Selengkapnya