Berita

Sosialisasi Empat Pilar MPR/Humas MPR

Semua Aturan Harus Sesuai Pancasila Dan UUD 1945

SABTU, 13 OKTOBER 2018 | 05:44 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Anggota MPR dari Fraksi Partai Gerindra, Gus Irawan Pasaribu mengingatkan kebijakan perekonomian nasional harus sejalan dengan konstitusi.

Menurutnya perekonomian yang diamanatkan konstitusi yakni perekonomian disusun atas usaha bersama berdasar azas kekeluargaan. Cabang-cabang produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak juga harus dikuasai oleh negara.

"Jadi perekonomian kita harus menyasar terciptanya kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial", ujarnya saat pemaparan materi Training of Trainer (TOT) Empat Pilar MPR bagi kalangan perwira menengah TNI AL, Surabaya, Jawa Timur, (12/10).


Irawan menambahkan bila ada sistem perekonomian yang tak sesuai dengan konstitusi maka harus diluruskan. Salah satu contoh sebagai wakil rakyat ia ingin merevisi UU Tentang Migas, karena undang-undang tersebut tak sesuai dengan UUD.

Pandangannya serupa dengan keputusan MK yang menyebut undang-undang itu memang tak sesuai dengan semangat konstitusi. Irawan menjelaskan 85 persen sektor tambang Indonesia dikuasai oleh asing. Padahal sumbangan migas terhadap perekonomian sangat besar.

Jika dirinya menjaga Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika melalui jalur legislasi, para perwira menengah TNI AL juga harus menjaga nilai-nilai Panncasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika melalui tugas dan fungsi sebagai penjaga NKRI.

"Nilai-nilai itu harus kita laksanakan apalagi di sana-sini ada kejadian yang tak diinginkan. Bapak-bapak dan ibu-ibu menjadi bagian untuk mensosialisasikan Empat Pilar MPR," ujarnya.

Di kesempatan yang sama Anggota MPR dari Fraksi PPP, Zainut Tauhid Saadi mengungkapkan pada masa Orde Baru semua urusan ditangani secara sentralistik. Namun saat masa reformasi urusan pemerintahan tak lagi sentralistik namun secara desentralisasi.

"Artinya kedudukan daerah dihormati", paparnya.

Ini dilakukan agar pemerintah daerah diberi kebebasan dalam melayani masyarakat.

"Bila semua diurus secara sentralistik, berapa lama untuk menyelesaikan masalah pembangunan", tuturnya.

Ia mencontohan, masa mengurus jalan rusak saja harus menunggu kabar dari pusat. Memang tak semua urusan bisa diserahkan ke daerah.

Pria asal Jepara, Jawa Tengah, itu menyebut urusan yang tetap ditangani oleh pemerintah pusat adalah masalah pertahanan, keamanan, keuangan, hukum, agama, dan hubungan luar negeri.

Dalam mengatur urusan daerah, dikatakan, Zainut, ada Perda sebagai kekuatan hukum yang kuat sebab masuk dalam tata urutan perundang-undangan.

Dalam soal desentralistik ini juga meliputi pemilihan kepala daerah. Kepala daerah dalam prakteknya dipilih langsung oleh rakyat melalui Pilkada. Diakui biaya politik Pilkada sangat tinggi sehingga 70 persen kepala daerah tersangkut masalah korupsi.

"Dulu ada istilah serangan fajar untuk money politik. Money politik sekarang tak hanya dilakukan saat fajar namun juga siang, sore, malam, dan pagi,"  ujarnya sambil tertawa.

Bila mereka yang melakukan korupsi ditahan itu sebagai salah satu bentuk penegakan hukum.

Ditegaskannya bahwa negara ini menyatakan diri sebagai negara hukum. Ciri negara hukum menurut Zainut Tauhid salah satunya adalah memberi penghormatan kepada HAM. HAM sudah menjadi isu dunia.

Meski demikian HAM yang dianut Indonesia berbeda dengan dengan sistem HAM negara lain. Bila negara Barat dalam soal HAM berlandaskan kebebasan individualistik maka HAM di negeri ini memperhatikan masalah budaya, agama, dan norma masyarakat yang berlaku. Dicontohkan bila di Barat LGBT diperbolehkan maka di Indonesia fenomena itu dilarang.

"Karena bertentangan dengan Pancasila", tegasnya. [nes]

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

UPDATE

IRGC: Jika Netanyahu Masih Hidup, Kami Akan Memburunya

Minggu, 15 Maret 2026 | 15:44

Benarkah Membalik Pakaian Saat Dicuci Bikin Baju Lebih Awet?

Minggu, 15 Maret 2026 | 15:24

Kantor PM Israel Bantah Rumor Netanyahu Tewas

Minggu, 15 Maret 2026 | 15:12

KPK Isyaratkan Tersangka Baru dari Pihak Swasta di Skandal Kuota Haji

Minggu, 15 Maret 2026 | 14:40

KPK Endus Modus THR ke Forkopimda Terjadi di Banyak Daerah

Minggu, 15 Maret 2026 | 14:02

Zelensky Tuduh Rusia Pasok Drone Shahed ke Iran untuk Serang AS

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:51

LPSK Beri Perlindungan Darurat untuk Aktivis KontraS Korban Teror Air Keras

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:41

Trump Minta Tiongkok hingga Inggris Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:27

Serangan ke Aktivis Tanda Demokrasi di Tepi Jurang

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:20

KPK Bongkar Dugaan THR untuk Polisi, Jaksa, dan Hakim di OTT Cilacap

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:15

Selengkapnya