Berita

Ilham Bintang (Acungkan Jempol) /Net

Politik

Sara’dasi Ancam Perpecahan Bangsa

KAMIS, 11 OKTOBER 2018 | 11:58 WIB | LAPORAN: SUKARDJITO

. Ketua Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Ilham Bintang mengkhawatirkan fenomena "Sara’dasi" saat ini mengancam  perpecahan bangsa.
Sara’dasi, semacam adu domba, yang bersumber dari khasanah kearifan lokal masyarakat Bugis Makassar. Sara’dasi itu pernah diperkenalkan  secara nasional di era Jenderal M Jusuf menjadi Menhankam/ Pangab.
Waktu itu  Sara’dasi diterjemahkan sebagai kegiatan subversif. “Sara’dasi mahluk paling mengerikan bagi orang Bugis," tegas Ilham, pimpinan media Cek&Ricek,  pelopor infotainment di tanah air.

Ilham mengangkat idiom  Sara’dasi dalam acara Indonesia Lawyers Club TV One yang dipandu Karni Ilyas, Selasa (9/10) malam.
Topik malam itu membahas kasus hoax Ratna Sarumpaet. Ilham tampil berbicara menjelang akhir acara. Sebelum masuk ke pokok masalah, Ilham mengenalkan Sara’dasi.

Topik malam itu membahas kasus hoax Ratna Sarumpaet. Ilham tampil berbicara menjelang akhir acara. Sebelum masuk ke pokok masalah, Ilham mengenalkan Sara’dasi.

Ia mengemukakan itu sebagai peringatan agar dua kubu yang berkontestasi dalam Pilpres menghentikan permusuhan, cara-cara untuk meniadakan satu sama lain.

“Saya khawatir bangsa kita ini sudah terjangkit Sara’dasi. Politik itu menyatukan, bukan saling meniadakan, bukan saling mengenyahkan,” katanya kepada Budiman Sudjatmiko dan Fahri Hamzah sebagai representasi dua kubu. Dua kubu itu disebutnya pertempuran ”Cebong VS Kampret”.

Sebelumnya dua tokoh politik itu memang saling menyerang  di ILC. “Melihat  keduanya saling menyerang di depan publik, saya berani mengatakan tidak ada politik di Indonesia. Yang ada hanya orang Indonesia main- main politik,” tandas Ilham.

Kembali ke Sara’dasi. Ilham menceritakan karena Sara’dasi, pasangan yang baru menikah, yang memiliki banyak persamaan, kecocokan, bisa pecah.

Ilham Bintang menceritakan sebuah kisah pasangan pengantin yang hanya melewati malam pertama langsung bercerai. Kisah Sara’dasi itu memang mengambil setting pernikahan.

Di Makassar, lazim masing-masing mempelai masih dikawal beberapa hari oleh orang yang dipercaya keluarga. Justru pihak ini lah yang berhianat, mengadu domba, subversif.

Mula-mula yang digarap pengantin wanita. Dia bilang  kamu ini adalah wanita yang paling bahagia di dunia ini, mendapatkan suami ganteng, kaya raya, mantan walikota pula.

Namun, sebagai manusia biasa tidak ada yang sempurna. Kelemahan suami  kamu ini tidak banyak. Cuma satu. Suka main belakang.

Setelah itu giliran si pengantin pria yang digarap. Dia bilang kamu itu pria  yang palin beruntung. Mendapatkan wanita cantik, taat beribadah yang  bisa memberi keturunan baik. Kekurangannya cuma satu, dan  janganlah dipersoalkan. Istrimu ini punya ekor.

Anda bisa bayangkan seperti apa mereka melewati malam pertama yang mestinya indah, yang mestinya menjadi surga dunia?

Malam itu Pasutri  ini kejar-kejaran, Si pengantin pria mengejar bagian belakang Si wanita dan Si pengantin wanita menghindar terus dari kejaran Ai pria. Alhasil, malam pertama mereka sekaligus malam terakhir. Esok pagi, mereka ke kantor KUA mengajukan perceraian.

“Lihat saja. Jangankan dua kontestan yang berkompetisi, orang yang mau kawin saja yang persamaannya banyak, sama-sama membutuhkan, bisa pecah gara-gara Sara'dasi," papar Ilham.

"Jadi saran dan nasihat saya pada Budiman dan Fahri Hamzah berhentilah membuat keributan dan keonaran.  Sebenarnya,  kalau Polisi ingin menangkap Ratna Sarumpaet dengan sangkaan membuat keonaran, maka Fahri dan Budiman itu juga mesti ditangkap. Kedua kelompok mereka itulah  pembuat keonaran, tiap hari bertempur tiada  ada henti, apa aja dipertengkarkan mulai dari hal hal kecil hingga yang besar. Ratna baru seminggu kasusnya. Mereka ini sudah dua tahun bertempur, saling menghujat di media sosial dan media pers. Untung saja  mereka tidak menyebabkan harga BBM, Beras dan Gula naik dan SPBU di antre panjang," tukas Ilham.

Mengenai kasus Ratna, Ilham sarankan biarlah ditangani secara hukum oleh polisi. Semua pihak diminta jangan lagi menambah kegaduhan. Siang malam bertempur. Saling memaki. Saling menghujat. Saling hendak meniadakan. Itulah ancaman nyata perpecahan bangsa. [jto]

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Ketika Gerakan Sosial Baru Menggugat Tatanan Politik

Selasa, 20 Oktober 2026 | 00:15

Ada Demo Mahasiswa, Masyarakat Diimbau Hindari Kawasan Monas

Selasa, 20 Oktober 2026 | 00:00

Cegah Perpecahan, Bagusnya Gibran Mundur

Senin, 19 Oktober 2026 | 23:38

Ada Indikasi Dendam Politik di Balik Wacana Pelengseran Gibran

Senin, 19 Oktober 2026 | 23:24

Legislator PKB Serahkan Bantuan bagi Korban Kebakaran di Majalengka

Senin, 19 Oktober 2026 | 23:01

Realisasi Investasi Hingga Kuartal III Sentuh Rp1.539 T

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:58

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, Investasi Tembus Rp3.923 Triliun

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:58

Ferry Juliantono Terpilih Jadi Presiden Syarikat Islam

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:53

Masyarakat Adat Wanam Merauke Butuh Pelatihan Pertanian Berkelanjutan

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:45

BEM-KSI Gelar Silaturahmi ke PBNU dan Beri Apresiasi ke Gus Gudfan

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:29

Selengkapnya