Berita

Hadi Prabowo/Net

Wawancara

WAWANCARA

Hadi Prabowo: Setelah Masa Tanggap Darurat Selesai, Baru Kami Akan Masuk ke Tahap Konstruksi dan Rehabilitasi

JUMAT, 05 OKTOBER 2018 | 10:24 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Hingga Kamis siang, menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), korban meninggal dunia akibat gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah telah mencapai 1.424 orang. Sebanyak 1.047 jenazah yang telah diidentifika­si telah dimakamkan massal. Rinciannya di Donggala 144 orang, di Palu 1.203 orang, Sigi 64 orang, Parigi Moutong 12 orang, dan Pasangkayu Sulawesi Barat 1 orang.

Jumlah pengungsi saat ini men­capai 70.821 jiwa, yang tersebar di 141 titik. Sebanyak 2.549 korban luka berat sampai saat ini masih dirawat di rumah sakit di Kota Palu dan di luar Palu. Sementara itu, korban hilang mencapai 113 orang.

Lantas bagaimana jalannya pemerintahan ditengah kondisi tersebut? Apakah pemerintah sudah menurunkan bantuan personel guna memastikan pe­layanan publik bisa berjalan? Berikut penuturan Sekjen Kemendagri Hadi Prabowo.


Kabarnya sampai sekarang ada beberapa kepala daerah yang belum bisa dikontak, seperti Bupati Donggala. Itu bagaimana?
Ya kami akan terus berusaha melakukan komunikasi. Tapi lalau Bupati Donggala itu sudah. Kami juga sudah melakukan pendampingan penyelenggaraan pemerintah di daerah Sulawesi Tengah. Ya memang pada awal­nya kami kesulitan untuk men­gontak. Namun, setelah hari Senin-Selasa kemarin, sudah bisa dikontak.

Berapa personel yang diter­junkan untuk melakukan pendampingan?
Kalau tidak salah ada 110 pers­onel. Sebanyak 17 orang merupa­kan pejabat eselon II, III, dan IV dari Kantor Pusat Kemendagri. Kemudian, 30 praja dan 20 orang dari Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Makassar. Lalu sisanya sebanyak 43 orang berasal dari IPDN Sulawesi Utara, yang terdiri dari 29 praja dan 14 orang karyawan.

Pendampingannya itu seperti apa?
Ini kan penyelenggaraan per­sonel sudah mulai berangsur-angsur membaik. Dan kami juga bantu terkait dengan ad­ministrasinya. Karena kami juga pahami, bahwa ASN di sana juga korban. Dia tidak akan bisa memberikan pengabdian yang 100 persen utuh ya. Kami sebagai pemerintah pusat, oto­matis berkewajiban untuk ikut membangun aktivitas penye­lenggaraan di sana. Minimal membantu menjaga stabilitas wilayah. Misalnya kaitannya dengan data kependudukan, dan kaitannya dengan koordinasi antara k/l dengan pemda untuk penyaluran bantuan.

Kalau untuk infrastruktur daerahnya bagaimana?
Ya itu kan nanti. Ini kan masih tahap tanggap darurat. Setelah masa tanggap darurat selesai, baru kami akan masuk ke tahap konstruksi dan rehabilitasi. Soal itu tentunya akan dikerjakan oleh kementerian teknis.

Berarti kalau Kemendagri sekarang masih fokus pemu­lihan pemerintahan?

Iya. Kalau sekarang kan masih bagaimana menyalurkan air, bagaimana menyalurkan BBM, bagaimana menyalurkan sem­bako. Itu yang penting dilakukan terlebih dahulu. Bagaimana menyalurkan obat-obatan. Kalau semuanya sudah terpenuhi, baru masuk tahap rekonstruksi. Karena kalau sekarang masuk tahap rekonstruksi, puing-pu­ingnya belum dibersihkan, ke­butuhan utama di sana masih perlu terus dipenuhi. Kalau di rekonstruksi sekarang ba­gaimana? Orangnya sakit semua nanti karena belum tertangani sepenuhnya.

Kan ada ribuan PNS yangterjerat kasus korupsi. Bagaimana tanggapan Anda terkait hal ini?

Pertama, daerah sudah menindaklanjuti secara langsung. Artinya, dari pemerintah kabu­paten dan provinsi semua mulai diselesaikan. Kedua, tentunya dari Kemendagri, dalam hal ini Direktorat Jendral Otonomi Daerah (Ditjen Otda), sudah melakukan koordinasi dengan Badan Kepegawaian Negara (BKN), dan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB). Tujuannya untuk mendata nama-nama personel, kemudian diserahkan ke daerah untuk dit­indaklanjuti. Kan total ada 2.357 orang tuh. Dan kami berikan batas waktu paling lambat Desember, semua harus selesai. ***

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Insiden di Lebanon Selatan Tak Terlepas dari Eskalasi Israel-Iran

Jumat, 03 April 2026 | 10:01

Emas Antam Ambruk Rp85 Ribu, Termurah Dibanderol Rp1,4 Juta

Jumat, 03 April 2026 | 09:54

UNIFIL Gelar Upacara Penghormatan Terakhir untuk Tiga Prajurit TNI

Jumat, 03 April 2026 | 09:48

KPK Tegaskan Tak Ada Intimidasi dalam Penggeledahan Rumah Ono Surono

Jumat, 03 April 2026 | 09:40

Komisi VIII DPR Optimis Jadwal Haji 2026 Tetap Aman dan Lancar

Jumat, 03 April 2026 | 09:26

Aksi Borong Bensin Picu Kelangkaan BBM di Prancis

Jumat, 03 April 2026 | 08:51

Reformasi Maret Tuntas: Jalan Terang Modal Asing Masuk Bursa

Jumat, 03 April 2026 | 08:26

Wall Street Melemah Tipis, Investor Berburu Aset Aman

Jumat, 03 April 2026 | 08:13

Serangan Israel Lumpuhkan Dua Pabrik Baja Iran, Produksi Terhenti hingga Setahun

Jumat, 03 April 2026 | 08:04

Dolar AS Perkasa, Indeks DXY Tembus Level Psikologis 100

Jumat, 03 April 2026 | 07:50

Selengkapnya