Berita

Scott Morrison/Net

Dunia

Australia-Indonesia Seperti Tetangga Tidak Saling Tegur

Perdagangan Dianggap Remeh
JUMAT, 31 AGUSTUS 2018 | 11:24 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Petani Australia menunggu Perdana Menteri Scott Morrison menyepakati perdagangan bebas dengan Indonesia. Selama ini perdagangan kedua negara dianggap remeh. Padahal tetangga dekat.

 Perkiraan ekonomi menun­jukkan Indonesia berkemungki­nan menjadi kekuatan ekonomi terbesar keempat dunia. Namun sampai saat ini, Indonesia belum menjadi salah satu dari 10 mitra dagang utama Australia. Angka perdagangan bilateral mencapai 16,4 miliar dolar AS pada 2016-2017. Angka ini menjadikan Australia rekan dagang terbesar ke-13 untuk Indonesia.

Juru bicara oposisi urusan Perdagangan dan Investasi Jason Clare menilai, Australia dan Indonesia seperti tetangga yang nyaris tidak saling tegur. "Kita tidak berbicara satu sama lain, atau bekerja sama sebagaimana seharusnya," tambahnya.


"Jika perjanjian ini bisa mengubah hal itu, meningkatkan perdagangan, pekerjaan dan menyatukan kedua negara, maka hal itu bagus," ujar Clare.

"Namun kita harus menunggu bagaimana detailnya," katanya.

Di sektor pertanian, Australia berharap dengan adanya kesepakatan perdagangan bebas bisa mendapat pengurangan tarif masuk untuk produk gandum, hewan potong, produk susu dan gula dari Indonesia.

"Untuk sektor biji-bijian, mungkin ini hal paling penting yang kami miliki untuk beberapa waktu," kata Andrew Weidemann, petani gandum dari negara bagian Victoria.

"Ini penting terutama karena kita bersaing dengan negara-negara penghasil gandum lain­nya," katanya.

Kesepakatan perdagangan bebas kedua negara telah dibi­carakan selama 8 tahun terakhir. Ketua Federasi Petani Nasional Fiona Simson mengatakan perda­gangan bebas menetapkan syarat-syarat perdagangan namun tidak menjamin akses pasar.

"Yang penting bukan mem­bangun pasar, tetapi apa yang terjadi setelah itu," katanya.

Kalangan petani menghendaki perluasan akses pasar Asia, terutama setelah hubungan Austra­lia-China mengalami ketegangan belakangan ini.

"Kami mengekspor 70 persen dari produksi, sehingga kami menginginkan pasar lebih banyak," kata Simson.

"Bagaimana bisa menghasil­kan produk dan mengirimkan produk ke pasar baru sama pentingnya dengan membangun pasar baru itu sendiri," ujarnya.

Namun, isu produk perta­nian ini tidak disinggung dalam jumpa pers menjelang kedatang Morrison di Kementerian Luar Negeri, Rabu (29/8).

Kemarin, Morrison akan memu­lai kunjungan perdananya ke Indo­nesia. Kunjungan ini kurang dari sepekan setelah dia dilantik meng­gantikan Malcolm Turnbull.

Hari ini, Morrison disambut Presiden Joko Widodo di Istana Bogor. Keduanya akan mendis­kusikan sejumlah kerja sama kedua negara.

Jika semua berjalan lancar, Morrison dan Jokowi hari ini akan membuat dua pengumu­man; pertama pengumuman bahwa negosiasi perdagangan bebas sudah selesai, kedua bah­wa kerja sama komprehensif akan naik tingkat menjadi kerja sama komprehensif dan strategis (Indonesia Australia Compre­hensive Economic Partnership Agreement, or IA-CEPA).

Kedua pemimpin terasebut direncanakan akan mengumum­kan kerja sama transportasi, ekonomi kreatif dan kerja sama si­ber. Kerja sama komprehensif dan strategis akan didasari lima pilar. Ekonomi, kerja sama keamanan (termasuk keamanan siber dan terorisme), kerja sama maritim, dan kerja sama regional.

Negosiasi mengenai kese­pakatan kerja sama di sektor pendidikan tingkat lanjut juga diharapkan bisa rampung di saat bersamaan. Universitas-univer­sitas di Australia berharap bisa membangun institusi dan cabang mereka di Indonesia. Sejauh ini, lima universitas Australia sudah menunjukkan minat tersebut.

"Kedua negara masih mene­gosiasikan kesepakatan untuk mengizinkan institusi pendidi­kan Australia untuk membangun gedung di Indonesia. Mereka ingin memiliki saham sebesar 67 persen," jelas Direktur Asia Timur dan Pasifik Kementerian Luar Negeri Edi Yusuf dalam jumpa pers. ***

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Periksa Faisal Assegaf dalam Kasus Dugaan Suap Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:56

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

UPDATE

Komisi I DPR: Kisruh Rating IGRS di Steam Picu Kegaduhan

Rabu, 08 April 2026 | 19:50

JK Jangan jadi Martir Pemecah Belah Bangsa

Rabu, 08 April 2026 | 19:41

Narasi Pesimis di Tengah Gejolak Global Ganggu Stabilitas Nasional

Rabu, 08 April 2026 | 19:19

Ulama Dukung Wacana BNN Larang Vape

Rabu, 08 April 2026 | 19:18

KAMMI: Kerusakan Lingkungan Tidak Bisa Selesai di Ruang Diskusi

Rabu, 08 April 2026 | 19:05

WFH Momentum Perkuat Layanan Digital

Rabu, 08 April 2026 | 19:02

Motor Listrik Operasional SPPG Sudah Direncanakan Sejak 2025

Rabu, 08 April 2026 | 19:00

Harus Melayani, Kader PKB Jangan jadi Tamu 5 Tahunan

Rabu, 08 April 2026 | 18:51

JK Minta Jokowi Tunjukkan Ijazah Asli Buat Akhiri Polemik

Rabu, 08 April 2026 | 18:44

7 Menu Warteg Paling Dicari Orang Indonesia

Rabu, 08 April 2026 | 18:42

Selengkapnya