Petani Australia menunggu Perdana Menteri Scott Morrison menyepakati perdagangan bebas dengan Indonesia. Selama ini perdagangan kedua negara dianggap remeh. Padahal tetangga dekat.
Perkiraan ekonomi menunÂjukkan Indonesia berkemungkiÂnan menjadi kekuatan ekonomi terbesar keempat dunia. Namun sampai saat ini, Indonesia belum menjadi salah satu dari 10 mitra dagang utama Australia. Angka perdagangan bilateral mencapai 16,4 miliar dolar AS pada 2016-2017. Angka ini menjadikan Australia rekan dagang terbesar ke-13 untuk Indonesia.
Juru bicara oposisi urusan Perdagangan dan Investasi Jason Clare menilai, Australia dan Indonesia seperti tetangga yang nyaris tidak saling tegur. "Kita tidak berbicara satu sama lain, atau bekerja sama sebagaimana seharusnya," tambahnya.
"Jika perjanjian ini bisa mengubah hal itu, meningkatkan perdagangan, pekerjaan dan menyatukan kedua negara, maka hal itu bagus," ujar Clare.
"Namun kita harus menunggu bagaimana detailnya," katanya.
Di sektor pertanian, Australia berharap dengan adanya kesepakatan perdagangan bebas bisa mendapat pengurangan tarif masuk untuk produk gandum, hewan potong, produk susu dan gula dari Indonesia.
"Untuk sektor biji-bijian, mungkin ini hal paling penting yang kami miliki untuk beberapa waktu," kata Andrew Weidemann, petani gandum dari negara bagian Victoria.
"Ini penting terutama karena kita bersaing dengan negara-negara penghasil gandum lainÂnya," katanya.
Kesepakatan perdagangan bebas kedua negara telah dibiÂcarakan selama 8 tahun terakhir. Ketua Federasi Petani Nasional Fiona Simson mengatakan perdaÂgangan bebas menetapkan syarat-syarat perdagangan namun tidak menjamin akses pasar.
"Yang penting bukan memÂbangun pasar, tetapi apa yang terjadi setelah itu," katanya.
Kalangan petani menghendaki perluasan akses pasar Asia, terutama setelah hubungan AustraÂlia-China mengalami ketegangan belakangan ini.
"Kami mengekspor 70 persen dari produksi, sehingga kami menginginkan pasar lebih banyak," kata Simson.
"Bagaimana bisa menghasilÂkan produk dan mengirimkan produk ke pasar baru sama pentingnya dengan membangun pasar baru itu sendiri," ujarnya.
Namun, isu produk pertaÂnian ini tidak disinggung dalam jumpa pers menjelang kedatang Morrison di Kementerian Luar Negeri, Rabu (29/8).
Kemarin, Morrison akan memuÂlai kunjungan perdananya ke IndoÂnesia. Kunjungan ini kurang dari sepekan setelah dia dilantik mengÂgantikan Malcolm Turnbull.
Hari ini, Morrison disambut Presiden Joko Widodo di Istana Bogor. Keduanya akan mendisÂkusikan sejumlah kerja sama kedua negara.
Jika semua berjalan lancar, Morrison dan Jokowi hari ini akan membuat dua pengumuÂman; pertama pengumuman bahwa negosiasi perdagangan bebas sudah selesai, kedua bahÂwa kerja sama komprehensif akan naik tingkat menjadi kerja sama komprehensif dan strategis (Indonesia Australia CompreÂhensive Economic Partnership Agreement, or IA-CEPA).
Kedua pemimpin terasebut direncanakan akan mengumumÂkan kerja sama transportasi, ekonomi kreatif dan kerja sama siÂber. Kerja sama komprehensif dan strategis akan didasari lima pilar. Ekonomi, kerja sama keamanan (termasuk keamanan siber dan terorisme), kerja sama maritim, dan kerja sama regional.
Negosiasi mengenai keseÂpakatan kerja sama di sektor pendidikan tingkat lanjut juga diharapkan bisa rampung di saat bersamaan. Universitas-univerÂsitas di Australia berharap bisa membangun institusi dan cabang mereka di Indonesia. Sejauh ini, lima universitas Australia sudah menunjukkan minat tersebut.
"Kedua negara masih meneÂgosiasikan kesepakatan untuk mengizinkan institusi pendidiÂkan Australia untuk membangun gedung di Indonesia. Mereka ingin memiliki saham sebesar 67 persen," jelas Direktur Asia Timur dan Pasifik Kementerian Luar Negeri Edi Yusuf dalam jumpa pers. ***