Rusia akan menggelar latihan perang besar-besaran pada bulan depan. Latihan perang ini diÂlakukan di tengah merenggangÂnya hubungan negara itu dengan Amerika Serikat (AS) serta soroÂtan dunia atas keterlibatan Rusia dalam konflik di Suriah.
Latihan militer ini tidak hanya akan melibatkan pasukan Negeri Beruang Putih, tapi juga ribuan tentara China. Latihan perang "Vostok 2018" atau Timur 2018 merupakan yang terbesar sejak 40 tahun terakhir.
"Latihan ini akan menjadi peristiwa terbesar sejak manuver Zapad-81," terang Menteri PerÂtahanan Rusia Sergei Shoigu.
Latihan yang mengambil lokasi di kawasan tertutup khusus untuk militer melibatkan 300.000 tentara. Sementara itu peralatan tempur yang dikerahÂkan adalah 1.000 pesawat, dua kapal induk, serta seluruh unit di angkatan udara.
Rencananya, China akan mengirimkan 3.200 tentara, 900 senjata, dan 30 pesawat dan heÂlikopter, yang akan dikerahkan pada 11 hingga 15 September di distrik latihan Tsugol di Rusia, dekat tempat perbatasan China dan Mongolia.
"Latihan ini tidak ditujukan kepada pihak ketiga dan akan fokus pada manuver pertahanan, serangan senjata dan serangan balik," jelas Kementerian PerÂtahanan China dalam sebuah pernyataan dikutip Xinhua.
Presiden China Xi Jinping adalah salah satu pemimpin yang diharapkan menghadiri acara tahunan tersebut.
Menurut pengamat militer ColÂlin Koh dari Nanyang TechnoÂlogical University di Singapura.
"Langkah ini adalah tanggaÂpan terhadap kerja sama yang berkembang antara AS dan seÂkutu-sekutunya di Asia timur laut di ranah pertahanan rudal dan pengembangan kemampuan masing-masing, seperti yang upaya Jepang membeli sistem anti-rudal Aegis Ashore dan KoÂrea Selatan, sistem peluru kendali anti rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD)," pungÂkas Koh. ***