Berita

Luhut Binsar Pandjaitan/Net

Nusantara

Menko Kemaritiman: Laut Adalah Masa Depan Indonesia

Data Rujukan Wilayah Kelautan RI Diluncurkan
SABTU, 11 AGUSTUS 2018 | 08:15 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman RI Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan masih banyak orang yang belum menyadari pentingnya peta kelautan bagi Indonesia.

Hal itu disampaikan Menko Luhut saat memberi sambutan dalam peluncuran data rujukan nasional data kewilayahan Indonesia, di Gedung Arsip Nasional, Jakarta, Jumat (10/8).

"Banyak yang belum mengerti bagaimana pentingnya laut, laut itu adalah masa depan kita, selama ini kita belum memiliki data yang lengkap mengenai pemetaan kita di laut, contoh kejadian Raja Ampat kemarin, mereka menyalahkan kita, tapi sekarang dengan diluncurkannya kita telah memiliki data yang lengkap. Data itu menjadi suatu power yang penting," tuturnya.


Menko Luhut mengatakan banyak potensi laut Indonesia yang bisa dimanfaatkan dengan bantuan data yang akurat dan dapat dipertanggung jawabkan.

"Saya mendorong pemetaan yang detail mengenai pulau, bekerjasma dengan ATR (Kementerian Agraria dan Tata Ruang) untuk memetakan pulau-pulau kita yang terluar. Yang perlu dilakukan juga adalah memetakan kekayaan kita, melalui beberapa diskusi dengan para ahli terungkap bahwa laut kita masih banyak menyimpan berbagai potensi sumber daya alam. Ada negara eropa yang mengajak kita kerjasama untuk mengelola sea bed mining, ada perusahaan Jepang yang ingin bekerjasama untuk drilling di Natuna, tapi mereka minta jaminan keamanan. Saya katakan ke mereka ini ZEE kita dan kita juga harus memperkuat aparat penegak hukum kita di laut," ujarnya.

Di bagian lain Menko Luhut mengatakan pentingnya bagi Indonesia untuk memiliki data yang valid agar bisa dipertanggungjawabkan.

"Ekonomi kita sangat bagus, pertumbuhan ekonomi ada di 5,72 persen, inflasi kita juga tidak terlalu tinggi. GDP Indonesia 1,2 triliun dalar AS, dari semua data itu, menunjukkan indikasi bahwa perekonomian kita bagus, tingkat kemiskinan juga menurun pertama kali sepanjang sejarah, di bawah 10 persen. Jadi kalau ada yang bilang orang miskin kita lebih dari 100 juta, itu mimpi. Karenanya saat ini data itu sangat penting," jelasnya.

Angka rujukan yang dikerjakan sejak tahun 2015 oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) dan Pusat Hidrografi dan Oseanografi (Pushidros) TNI AL melalui sebuah kajian teknis dengan menggunakan best available data dan dengan metode teknis mutakhir, demi sebuah data rujukan nasional dan dapat dipertanggungjawabkan. Sebelumnya belum pernah ada angka kewilayahan yang bisa digunakan sebagai rujukan resmi yang bisa dipakai secara nasional.

Rujukan Nasional Data Kewilayahan Republik Indonesia yaitu: Pertama, luas perairan pedalaman dan perairan kepulauan Indonesia adalah 3.110.000 km2; kedua, luas laut teritorial Indonesia adalah 290.000 km2; ketiga, luas zona tambahan Indonesia adalah 270.000 km2; keempat, luas zona ekonomi eksklusif Indonesia adalah 3.000.000 km2.

Kelima, luas landas kontinen Indonesia adalah 2.800.000 km2; keenam, luas total perairan Indonesia adalah 6.400.000 km2; kelima, luas NKRI (darat + perairan) adalah 8.300.000 km2; delapan, panjang garis pantai Indonesia adalah 108.000 km; dan kesembilan, jumlah pulau di Indonesia kurang lebih 17.504, dan yang sudah dibakukan dan disubmisi ke PBB adalah sejumlah 16.056 pulau.

Menko Luhut mengingatkan arti penting keberadaan seperti Badan Informasi Geospasial dan Pushidros TNI AL, karena luasnya wilayah negara ini dengan ribuan pulaunya, ia mengatakan setuju bila ada wacana untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan di bidang ini menjadi setingkat kementerian agar mempermudah tugas pokok dan fungsinya untuk menyediakan data-data yang akurat dan dapat dipertanggung jawabkan di bidang informasi geospasial kelautan.

"Kita ini negara besar, makanya harus diimbangi dengan kemampuan tadi yaitu mengenai data kita, jadi kalau tanpa data bagaimana kita mau bicara mengenai kehebatan bangsa kita," demikian Menko Luhut. [rus]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

UPDATE

Mengapa 2026 adalah Momentum Transformasi, Bukan Resesi?

Senin, 13 April 2026 | 00:01

Armada Pertamina Terus Distribusikan Energi di Tengah Tantangan Global

Minggu, 12 April 2026 | 23:40

KSAL Sidak Kesiapan Tempur Markas Petarung Marinir

Minggu, 12 April 2026 | 23:11

OTT: Prestasi Penegakan Hukum atau Alarm Kegagalan Sistem

Minggu, 12 April 2026 | 22:46

Modus Baru Pemerasan Bupati Tulungagung: Dikunci Sejak Awal

Minggu, 12 April 2026 | 22:22

Ketum Perbakin Jakarta: Brimob X-Treme 2026 Ajang Pembibitan Atlet Nasional

Minggu, 12 April 2026 | 22:11

Isu Kudeta Prabowo Dinilai Bagian Konsolidasi Politik

Minggu, 12 April 2026 | 21:47

KPK Duga Adik Bupati Tulungagung Tahu Praktik Pemerasan

Minggu, 12 April 2026 | 21:28

Brimob X-Treme 2026: Dari Depok untuk Panggung Menembak Dunia

Minggu, 12 April 2026 | 21:08

Polisi London Tangkap 523 Demonstran Pro-Palestina

Minggu, 12 April 2026 | 20:06

Selengkapnya