Perluasan sistem ganjil genap di Jakarta menuai pro dan kontra. Ada setuju karena berhasil meningkatkan pengÂgunaan angkutan umum. Tetapi banyak menolak. Sebab, hanya memindahkan kemacetan.
Misalnya, setelah diberÂlakuan tilang ganjil genap sejak 1 Agustus lalu, terjadi kemacÂetan parah di ruas jalan alteri. Apalagi, dilakukan lagi penutuÂpan sejumlah pintu tol. Ini malah menambah kemacetan di seputar pintu tol yang ditutup tersebut.
Pengamat tata kota dari UniÂveristas Trisakti Nirwono Joga meminta Pemprov DKI Jakarta mengevaluasi penerapan ganjil genap. Sebab, hanya memindÂahkan titik macet lokasi jalan protokol ke ruas jalan lain yang terhubung dengan jalan berlakuÂnya ganjil genap.
"Semestinya buat kajian yang lebih mendalam dan menyeluruh sebelum pemberlakuan ganjil genap. Saat uji coba hasil riilnya bagaimaÂna? Jangan kesanmya coba-coba terus," ujar Nirwono saat berbincang dengan Rakyat Merdeka.
Pemprov DKI, disebutnya tidak mengkaji dengan serius analisis dampak kebijakan ini. Selain itu yang paling penting, ketersediaan transportasi umum yang memadai dan bisa diandalÂkan belum maksimal.
"Dampaknya kan banyak sekaÂli. Bagaimana dengan warga yang tinggal dan bekerja di kawasan yang terkena penerapan kebijakan ini? Bagaimana aktivitas warga di daerah tersebut, bagaimana dampak ekonomi dan sosialÂnya. Sedangkan angkutan umum massal belum ada dan tidak bisa diandalkan, masih banyak PR lainnya," papar Nirwono.
Lebih baik, lanjutnya, PemÂprov DKI mengatur libur berÂsama bagi perkantoran di jalur penting Asian Games selama perhelatan berlangsung daripada ganjil genap dan tutup sebagian pintu tol. Selain menghindari kepadatan lalu lintas, kebijakan ini juga dapat memberi kesemÂpatan warga meluangkan waktu menonton perhelatan olahraga terbesar se-Asia ini.
Ketua Angkutan Barang DPP Organda Ivan Kamadjaja menÂgeluhkan kebijakan perluasan ganjil genap. Angkutan barang yang jumlahnya tak signifikan ikut kena imbasnya.
"Cuma tiga persen angkutan golongan IV dan V. Harusnya angÂkutan barang tidak berlaku dengan kebijakan ini," keluh Ivan.
Para pengusaha angkutan baÂrang sudah kena dampak tambaÂhan biaya. Bisnis logistik terpaksa diperpanjang agar tak terkena keÂbijakan ganjil genap. Contohnya, jika biasanya 10 truk beroperasi. Sekarang hanya enam atau tujuh tergantung pelatnya.
"Terus operasional kita harus nambah shift, kan ribet. NgakaÂlin bagaimana caranya, tapi ini menimbulkan biaya tambahan," terang dia.
Dari sisi angkutan umum, ini menguntungkan. PT TransjaÂkarta mencatat ada kenaikan penumpang pada hari pertama penerapan sanksi ganjil genap. Penumpang meningkat dari 567.250 orang di hari Selasa (31/7) menjadi 589.544 penÂumpang pada Rabu (1/8).
"Berarti terjadi peningkatan penumpang," ujar Humas TranÂsjakarta Wibowo dalam siaran persnya kepada Rakyat Merdeka.
"Tapi ini masih perlu kajian, evaluasi, bahkan riset. Bisa dari ganjil genap, tapi mungkin saja dari peningkatan layanan yang dilakukan Transjakarta secara terus menerus," tambahnya.
Wibowo mengaku sejumlah armadanya terjebak kemacetan saat hari pertama diberlakukanÂnya tilang ganjil genap.
Pihaknya juga menambah 28 bus pada Juli 2018 lalu untuk mengÂhadapi perluasan ganjil genap di sejumlah ruas jalan di Jakarta.
Kasat Lantas Polres Jakarta Timur AKBP Sutimin menamÂbahkan, dua hari penerapan sistem ganjil genap, berhasil mengurangi kemacetan. Secara umum mobilitas kendaraan tuÂrun. Kecepatan kendaraan yang melintas di wilayah Jakarta Timur jika biasanya hanya lima kilomeÂter per jam, kini kecepatannya naik 20 persen dari biasanya.
Gubernur DKI Jakarta AnÂies Baswedan menyebut, ada pengecualian dalan kebijakan perluasan pembatasan kendÂaraan berdasarkan nomor pelat ganjil-genap selama Asian Games 2018. Masyarakat difabel boleh melintas. Hal ini tertuang dalam Pergub Nomor 77 Tahun 2018 yang disahkan Gubernur Anies Baswedan pada Selasa (31/7).
"Kami menyadari untuk peÂnyandang disabilitas kebutuÂhan akses mereka lebih tinggi. Karena itu dikecualikan dalam aturan kebijakan ganjil-genap," ungkapnya.
Anies mengimbau masyarakat yang mengeluh dengan kebiÂjakan ini mulai menyesuaikan diri. "Kan sudah satu bulan kemarin kita memulai, karena itu ya sekarang mari kita sama-sama menyesuaikan. Semuanya sama kok," ujarnya. ***