Berdasarkan pantauan Rakyat Merdeka, setiap pagi KoÂpaja dan Metro Mini parkir menÂgular di sisi Timur arah Senayan dan Barat arah Bundaran Hotel Indonesia (HI). Bahkan mereka nekat ngetem di trotoar.
Anehnya, di dekat ngetemnya Kopaja dan Metro Mini itu ada halte. Seharusnya segala angkuÂtan umum maupun penumpang memanfaatkan halte itu untuk turun naik bus.
Akibat ulah mereka itu, setiap pagi pasti terjadi perlambatan kecepatan yang mengakibatkan antrean kendaraan di kedua sisi jalan. Bus-bus yang parkir ini menyebabkan jalan menyempit, sehingga kendaraan harus berÂmanuver untuk melewatinya.
Sering kali petugas Dishub DKI Jakarta dan Polisi Lalu Lintas menegur. Tetapi saat mereka lengah, para sopir ini kembali berulah. Seperti main kucing-kucingan saja.
Melihat kondisi itu, Pengamat Transportasi dari Universitas InÂdonesia (UI) Alvinsyah mengaÂtakan, penindakan bukan solusi permanen. Ini tidak akan memÂberikan efek jera bagi pengeÂmudi angkutan umum.
Apalagi jika pengawasannya tidak optimal. Satu-satunya cara untuk menghentikan angkutan umum yang ngetem adalah menghapuskan sistem setoran.
"Perbaikan sistem angkutan umum itu bukan hanya sekadar peremajaan angkutan atau pemÂbukaan koridor baru dan sebaÂgainya, tetapi hal yang paling mendasar adalah menghilangkan sistem setoran," katanya.
Dengan menghilangkan sistem setoran, bukan jumlah penumpang lagi yang menjadi patokan berapa besar mereka akan mendapatkan uang. "Sekarang yang harus diÂhitung seharusnya adalah berapa kilometer mereka mengemudikan angkot," kata dia.
Karena itu, menurut Alvin, pengelolaan angkutan umum perlu dilakukan oleh satu peÂrusahaan profesional. Maka, dia sepakat dengan wacana peÂmindahan pengelolaan bus kota oleh Transjakarta dan sopirnya dibayar rupiah per kilometer.
"Mau tidak mau ya harus seperti itu kalau mau tidak ngeÂtem. Kalau orientasinya masih penumpang itu uang. Tentu mereka akan terus ngetem semÂbarangan demi cari penumpang lebih banyak," jelas Alvin.
Ketua DPRD Prasetyo Edi Marsudi mengaku sudah beruÂlang kali mengingatkan kalau angkot ngetem terus dibiarkan berpotensi mengganggu kelanÂcaran Asian Games. Atlet bakal telat bertading. Sebab, waktu tempuh atlet dari wisma sampai ke venue makin lama.
"Keberadaan bus yang ngetem itu paling tidak memperlambat laju kendaraan tiga sampai lima menit terbuang. Dalam Asian Games waktu tempuh ditargetkan 34 menit. Ini sangat berpengaruh pada pencapaian target itu," kata Prasetyo di Jakarta, kemarin.
Menurutnya, sudah waktuÂnya petugas Dishub bertindak tanpa didahului teguran. Sebab, Undang-undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan sudah sanÂgat tegas menyebutkan bahwa turun-naik penumpang dilakuÂkan di halte.
Pemprov DKI sudah punya program untuk menghapus sistem setoran. Yakni dengan OKOtrip. Sayangnya, dua kali diuji coba, program ini gagal. Para operator menolak berÂgabung karena tidak sepakat dengan penghitungan rupiah per kilometer yang ditawarkan sekiÂtar Rp 3,749 dengan target 190 kilometer per hari. Kebijakan itu hanya mampu menggaet dua koperasi untuk bergabung, yakni Koperasi Wahana Kalpika (KWK) dan Budi Luhur.
Hingga saat ini baru dua operator yang bergabung dalam proÂgram OKOTrip sejak Januari 2018 dan hanya bisa menjangkau enam rute. Padahal rute yang direncanakan sekitar 30. Selain itu, jumlah kendaraan yang terlibat daÂlam program ini hanya 100 unit.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengatakan, uji coba program OKOtrip atau satu harga untuk satu kali perjalanan diperpanjang lagi. "Jadi renÂcananya diperpanjang karena ada keyakinan dari BPPBJ (Badan Pelayanan Pengadaan Barang Jasa) yang sekarang lagi menghiÂtung angka OKOtrip rupiah per kilometer dan berdasarkan masukan dari operator mereka inÂgin, sesuai dengan imbauan Pak Gubernur, ingin bergabung akhir bulan ini," paparnya. ***