Berita

Foto/Net

Nusantara

Atlet Asian Games 2018 Bakal Telat Bertanding

Kopaja & Metro Mini Ngetem Di Jalan Sudirman
SENIN, 06 AGUSTUS 2018 | 08:50 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Berdasarkan pantauan Rakyat Merdeka, setiap pagi Ko­paja dan Metro Mini parkir men­gular di sisi Timur arah Senayan dan Barat arah Bundaran Hotel Indonesia (HI). Bahkan mereka nekat ngetem di trotoar.

Anehnya, di dekat ngetemnya Kopaja dan Metro Mini itu ada halte. Seharusnya segala angku­tan umum maupun penumpang memanfaatkan halte itu untuk turun naik bus.

Akibat ulah mereka itu, setiap pagi pasti terjadi perlambatan kecepatan yang mengakibatkan antrean kendaraan di kedua sisi jalan. Bus-bus yang parkir ini menyebabkan jalan menyempit, sehingga kendaraan harus ber­manuver untuk melewatinya.


Sering kali petugas Dishub DKI Jakarta dan Polisi Lalu Lintas menegur. Tetapi saat mereka lengah, para sopir ini kembali berulah. Seperti main kucing-kucingan saja.

Melihat kondisi itu, Pengamat Transportasi dari Universitas In­donesia (UI) Alvinsyah menga­takan, penindakan bukan solusi permanen. Ini tidak akan mem­berikan efek jera bagi penge­mudi angkutan umum.

Apalagi jika pengawasannya tidak optimal. Satu-satunya cara untuk menghentikan angkutan umum yang ngetem adalah menghapuskan sistem setoran.

"Perbaikan sistem angkutan umum itu bukan hanya sekadar peremajaan angkutan atau pem­bukaan koridor baru dan seba­gainya, tetapi hal yang paling mendasar adalah menghilangkan sistem setoran," katanya.

Dengan menghilangkan sistem setoran, bukan jumlah penumpang lagi yang menjadi patokan berapa besar mereka akan mendapatkan uang. "Sekarang yang harus di­hitung seharusnya adalah berapa kilometer mereka mengemudikan angkot," kata dia.

Karena itu, menurut Alvin, pengelolaan angkutan umum perlu dilakukan oleh satu pe­rusahaan profesional. Maka, dia sepakat dengan wacana pe­mindahan pengelolaan bus kota oleh Transjakarta dan sopirnya dibayar rupiah per kilometer.

"Mau tidak mau ya harus seperti itu kalau mau tidak nge­tem. Kalau orientasinya masih penumpang itu uang. Tentu mereka akan terus ngetem sem­barangan demi cari penumpang lebih banyak," jelas Alvin.

Ketua DPRD Prasetyo Edi Marsudi mengaku sudah beru­lang kali mengingatkan kalau angkot ngetem terus dibiarkan berpotensi mengganggu kelan­caran Asian Games. Atlet bakal telat bertading. Sebab, waktu tempuh atlet dari wisma sampai ke venue makin lama.

"Keberadaan bus yang ngetem itu paling tidak memperlambat laju kendaraan tiga sampai lima menit terbuang. Dalam Asian Games waktu tempuh ditargetkan 34 menit. Ini sangat berpengaruh pada pencapaian target itu," kata Prasetyo di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, sudah waktu­nya petugas Dishub bertindak tanpa didahului teguran. Sebab, Undang-undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan sudah san­gat tegas menyebutkan bahwa turun-naik penumpang dilaku­kan di halte.

Pemprov DKI sudah punya program untuk menghapus sistem setoran. Yakni dengan OKOtrip. Sayangnya, dua kali diuji coba, program ini gagal. Para operator menolak ber­gabung karena tidak sepakat dengan penghitungan rupiah per kilometer yang ditawarkan seki­tar Rp 3,749 dengan target 190 kilometer per hari. Kebijakan itu hanya mampu menggaet dua koperasi untuk bergabung, yakni Koperasi Wahana Kalpika (KWK) dan Budi Luhur.

Hingga saat ini baru dua operator yang bergabung dalam pro­gram OKOTrip sejak Januari 2018 dan hanya bisa menjangkau enam rute. Padahal rute yang direncanakan sekitar 30. Selain itu, jumlah kendaraan yang terlibat da­lam program ini hanya 100 unit.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengatakan, uji coba program OKOtrip atau satu harga untuk satu kali perjalanan diperpanjang lagi. "Jadi ren­cananya diperpanjang karena ada keyakinan dari BPPBJ (Badan Pelayanan Pengadaan Barang Jasa) yang sekarang lagi menghi­tung angka OKOtrip rupiah per kilometer dan berdasarkan masukan dari operator mereka in­gin, sesuai dengan imbauan Pak Gubernur, ingin bergabung akhir bulan ini," paparnya. ***

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

UPDATE

Mengapa 2026 adalah Momentum Transformasi, Bukan Resesi?

Senin, 13 April 2026 | 00:01

Armada Pertamina Terus Distribusikan Energi di Tengah Tantangan Global

Minggu, 12 April 2026 | 23:40

KSAL Sidak Kesiapan Tempur Markas Petarung Marinir

Minggu, 12 April 2026 | 23:11

OTT: Prestasi Penegakan Hukum atau Alarm Kegagalan Sistem

Minggu, 12 April 2026 | 22:46

Modus Baru Pemerasan Bupati Tulungagung: Dikunci Sejak Awal

Minggu, 12 April 2026 | 22:22

Ketum Perbakin Jakarta: Brimob X-Treme 2026 Ajang Pembibitan Atlet Nasional

Minggu, 12 April 2026 | 22:11

Isu Kudeta Prabowo Dinilai Bagian Konsolidasi Politik

Minggu, 12 April 2026 | 21:47

KPK Duga Adik Bupati Tulungagung Tahu Praktik Pemerasan

Minggu, 12 April 2026 | 21:28

Brimob X-Treme 2026: Dari Depok untuk Panggung Menembak Dunia

Minggu, 12 April 2026 | 21:08

Polisi London Tangkap 523 Demonstran Pro-Palestina

Minggu, 12 April 2026 | 20:06

Selengkapnya