Tidak seperti Korut, Iran ogah diajak bertemu dan dialog dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Iran takut dikadalin Trump.
Beberapa hari lalu, Trump melalui dunia maya menyatakan siap bertemu pemimpin Iran kapan saja dan tanpa syarat apa pun. Namun, permintaan Trump ditolak Iran. "Pejabat senior Iran menilai pernyataan Trump sebagai mimpi dan kata-katanya bertentangan dengan tindakannya menerapkan sanksi terhadap Teheran," ujar Menteri Luar Negeri Iran Mohammed Javad Zarif, seperti dilansir Reuters.
Ibaratnya, Iran ingin menyampaikan ajakan Trump: lain di mulut lain di hati. Artinya, ada indikasi Trump ingin perang melawan Iran melalui jalur diplomasi soal nuklir. Konon, tawaran Trump bernegosiasi dengan Teheran bertentangan dengan tindakannya ketika Amerika telah menjatuhkan sanksi terhadap Iran dan menekan negara-negara lain untuk menghindari bisnis dengan Republik Islam.
Sebelumnya, pernyataan Trump disampaikan untuk meredakan ketegangan dengan Iran setelah kedua pihak saling melontarkan ancaman perang. Trump mengatakan siap bertemu pemimpin Iran kapan saja. "Saya akan bertemu dengan Iran jika mereka ingin bertemu," kata Trump di Gedung Putih seperti dilansir kantor berita AFP, Selasa (31/7).
Trump mengatakan, penolakan atas kesepakatan nuklir internasional yang dicapai tahun 2015 adalah ilegal dan Iran tidak akan menyerah pada kampanye Washington untuk mencekik ekspor minyak Iran. Melansir dari Al Arabiya, Washington akan kembali memberlakukan sanksi terhadap Iran, setelah Trump mengumumkan mundur dari kesepakatan nuklir 2015. Pembaruan sanksi tersebut akan dilakukan awal bulan ini.
Iran geram atas sanksi yang dilakukan Amerika. Pasalnya, tekanan ekonomi internasional membuat ekonomi Iran pontang-panting. Pada Minggu (29/7), nilai mata uang Iran sekitar 100.000 rial terhadap dolar AS, menjadi rekor terendah yang pernah dialami Iran.
"Catatan hubungan luar negeri Amerika menunjukkan bahwa di setiap titik dalam sejarah, sebagian besar sanksi terhadap sejumlah negara kebanyakan telah dikenakan oleh Amerika Serikat," kata Zarif. Menurutnya, Amerika adalah pecandu sanksi dan kecanduan itu telah menghalangi mereka, termasuk saat pemerintahan Obama.
Ya, seperti halnya yang terjadi di Korut, Trump dan Pemimpin Korut Kim Jong-un awalnya sering ribut soal nuklir. Bahasanya juga sampai mengarah ke perang. Tapi akhirnya happy ending untuk Amerika karena Korut mau melucuti nuklirnya.
Gaya Amerika ini sudah terendus Presiden Iran Hassan Rouhani. Dia menekankan kepada negara memproduksi nuklir untuk tetap bertahan.
"Hari ini kita berada pada titik yang sangat kritis dalam sejarah mengenai kesepakatan nuklir dan tindakan transparan Eropa mengimbangi pengunduran diri Amerika yang tidak sah menjadi sangat penting bagi Iran," kata Rouhani usai bertemu dengan Dubes Inggris untuk Iran, Rob Macaire, Selasa (31/7).
Dikutip Reuters, pemimpin pasukan bersenjata Garda Revolusi Iran Mayor Jenderal Mohammad Ali Jafar juga menolak tawaran Trump. Ditegaskan, Iran bukan Korut yang luluh akan tawaran Amerika. ***