Pemilu Pakistan kelabu. Aksi bom bunuh diri mewarnai pesta demokrasi itu. Ledakan terjadi di tempat pemungutan suara (TPS) kota Quetta, Provinsi Balochistan, kemarin. Tiga puluh orang tewas dan 35 terluka.
Kemarin, lebih dari 100 juta warga Pakistan memberikan suÂara dalam pemilu memilih wakil Majelis Nasional.
"(Pengebom) berusaha meÂmasuki tempat pemungutan suara. Ketika polisi berusaha menghentikannya, dia meledakÂkan diri," kata seorang pejabat pemerintah setempat, Hashim Ghilzai, kepada AFP.
Juru bicara RS Sandeman Quetta Dr Wasim Baig menjelasÂkan, awalnya polisi mengatakan 28 orang tewas. Namun, dua orang lagi meninggal dunia karena luka mereka terlalu parah.
Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) menyatakan bertanggung jawab atas aksi bom bunuh diri itu. Balochistan merupakan provinsi termiskin dan paling bergolak di Pakistan. Wilayah ini juga menjadi medan perÂlawanan para gerilyawan dan separatis.
Kejadian ini bikin miris sebab, tampak aparat Pakistan tak berÂdaya. Militer menerjunkan lebih dari 370.000 personel, didukung 450.000 polisi mengamankan pemilu. TPS dibuka sampai puÂkul 18.00 waktu setempat.
Wilayah itu dilanda beberapa kasus pengeboman saat kampaÂnye pemilu, termasuk ledakan menewaskan 153 orang yang juga diklaim didalangi ISIS pada bulan ini. Serangan itu meruÂpakan bom bunuh diri paling mematikan di Pakistan.
Selain Quetta, ledakan bom dan bentrokan antara pendukung partai juga terjadi di tempat lain. Insiden tersebut menewaskan satu orang dan membuat beÂberapa lainnya luka-luka.
Sebelum masuk masa pemiliÂhan, penipuan hingga kekerasan terus membayangi masa-masa kampanye. Pemilu dilakukan untuk memilih Perdana Menteri Pakistan selanjutnya. Bekas kapten kriket Pakistan Imran Khan diprediksi menang. ***