Berita

Foto:RMOL

Nusantara

KTP-El Tercecer Dan Aspal Milik WNA Harus Jadi Temuan Awal Polri Dan BIN

RABU, 18 JULI 2018 | 03:50 WIB | LAPORAN:

. Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dan Badan Intelijen Negara (BIN) harusnya tidak tinggal diam dengan kasus tercecernya sekarung KTP berbasis elektronik (KTP-el) di Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor dan sejumlah warga negara asing yang memiliki KTP-el asli tapi palsu (aspal).

Pengamat militer, Rizal Darma Putra menegaskan, harusnya, kasus tersebut dijadikan sebagai temuan awal untuk mendalami kasus yang mungkin saja lebih besar, yakni agenda asing dalam ajang Pilpres 2019.

"Ini suatu temuan yang harus dilakukan penyelidikan, baik itu oleh aparat kepolisian maupun intelijen karena sudah menyangkut kemungkinan pihak asing mempengaruhi bilamana ini dikaitkan dengan Pemilu," katanya dalam acara Ngopi Ngerumpi bertajuk 'Mengurai Tantangan Tatangan Ketahanan Nasional Menjelang Pemilu 2019' di Jalan Veteran 1 No. 33, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (17/7).


Perlu diketahui, beberapa waktu lalu ditemukan adanya banyak KTP aspal yang digunakan oleh warga negara asing (WNA). Salah satunya yakni Lin Chuan Hui, 24 tahun, warga negara China yang membayar Rp 8 juta untuk mendapatkan paket yang terdiri atas kartu keluarga, KTP-el dari Suku Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Jakarta Barat dan akta kelahiran dari Suku Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Jakarta Pusat.

"Kalau misalnya di KTP-el ditemukan ada nama-nama warga negara asing, bukan warga negara Indonesia, tentu ini merupakan suatu tindak kriminal. Apakah ini ada kaitannya dengan Pemilu, apakah ini ada kaitannya dengan asing mempengaruhi Pemilu, itu tugas intelijen. BIN," jelas Rizal.

Masalahnya yakni netralitas pihak kepolisian maupun BIN yang harusnya bertugas melindungi negara dan masyarakat, bukan malah rezim tertentu demi kepentingan asing.

"Persoalannya apakah kepolisian maupun intelijen netral atau malah merupakan bagian dari strategi mengamankan suatu rezim," pungkas Rizal. [rus]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

IJTI: Buku Saku 0 Persen Rujukan Penting Pers dan Publik

Sabtu, 11 April 2026 | 18:18

Prabowo Minta Maaf Belum Bawa Pencak Silat ke Olimpiade

Sabtu, 11 April 2026 | 17:50

Aktivis Tegas Lawan Pengkhianat Konstitusi

Sabtu, 11 April 2026 | 17:27

OTT KPK Tangkap 18 Orang, Bupati Tulungagung Digulung

Sabtu, 11 April 2026 | 16:19

Ingatkan JK, Banggar DPR: Kenaikan Harga BBM Bisa Turunkan Daya Beli Masyarakat

Sabtu, 11 April 2026 | 16:14

Wamen Ossy: Satgas PKH Wujud Penyelamatan Kekayaan Negara

Sabtu, 11 April 2026 | 15:54

Jawab Tren, TV Estetik dengan Teknologi Flagship Diluncurkan

Sabtu, 11 April 2026 | 15:21

KNPI Soroti Gerakan Pemakzulan: Sebut Capaian Pemerintahan Prabowo Sangat Nyata

Sabtu, 11 April 2026 | 14:54

Setelah 34 Tahun, Prabowo Pamit dari Kursi Ketum IPSI di Munas XVI

Sabtu, 11 April 2026 | 14:47

Hadiri Munas IPSI, Prabowo Ungkap Jejak Keluarga dalam Dunia Pencak Silat

Sabtu, 11 April 2026 | 14:28

Selengkapnya