Berita

Foto/RMOL

Nusantara

Ojol Di Indonesia Seperti Anak Haram

MINGGU, 01 JULI 2018 | 20:36 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

Komite Aksi Transpotasi Online (KATO) menilai pemerintah memperlakukan pengemudi ojek online tak ubahnya anak haram.

"Saat ini ojek online ini di negara ini seperti anak haram, ada tapi tidak diakui," ujar Sekjen KATO, Yudi Arianto di Kantor LBH Jakarta, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (1/7).

Pernyataan Yudi itu menyusul putusan Mahkamah Konstitusi (MK), yang menolak gugatan uji materi UU 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) soal pengakuan ojek online sebagai angkutan umum.


Yudi menyebut, gugatan uji materi itu sebetulnya untuk memperjelas status dan jaminan keamanan bagi para pengemudi yang sejak muncul di Indonesia seolah tidak diperhatikan pemerintah.

"Ojol ini gak ada regulasinya, dari transportasinya ini kita bingung nggak ada yang melindungi kita, negara aja nggak serius, empat tahun nggak selesai masalah kita," jelasnya.

Selain tidak ada kejelasan, Yudi yang merupakan mitra aplikator ojo Gojek ini pun mengaku cukup banyak efek dari putusan MK. Terutama soal adanya penurunan argo atau tarif per kilometer.

"Dampak dari putusan MK ini langsung terjadi pada hari itu. Pertama, di Gojek itu langsung turun argonya. Begitu juga Grab, turun juga argonya," ungkapnya.

Usai gagal berjuang di jalur hukum, Yudi memastikan para pengemudi yang bergerak bersama KATO akan menempuh jalur politik melalui DPR RI.

"Masih ada dua jalan lagi yang akan kami tempu, yaitu panja dan pansus di DPR," tukasnya. [fiq]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Periksa Faisal Assegaf dalam Kasus Dugaan Suap Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:56

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

UPDATE

Komisi I DPR: Kisruh Rating IGRS di Steam Picu Kegaduhan

Rabu, 08 April 2026 | 19:50

JK Jangan jadi Martir Pemecah Belah Bangsa

Rabu, 08 April 2026 | 19:41

Narasi Pesimis di Tengah Gejolak Global Ganggu Stabilitas Nasional

Rabu, 08 April 2026 | 19:19

Ulama Dukung Wacana BNN Larang Vape

Rabu, 08 April 2026 | 19:18

KAMMI: Kerusakan Lingkungan Tidak Bisa Selesai di Ruang Diskusi

Rabu, 08 April 2026 | 19:05

WFH Momentum Perkuat Layanan Digital

Rabu, 08 April 2026 | 19:02

Motor Listrik Operasional SPPG Sudah Direncanakan Sejak 2025

Rabu, 08 April 2026 | 19:00

Harus Melayani, Kader PKB Jangan jadi Tamu 5 Tahunan

Rabu, 08 April 2026 | 18:51

JK Minta Jokowi Tunjukkan Ijazah Asli Buat Akhiri Polemik

Rabu, 08 April 2026 | 18:44

7 Menu Warteg Paling Dicari Orang Indonesia

Rabu, 08 April 2026 | 18:42

Selengkapnya