Berita

Paulus Waterpauw/RMOL

Nusantara

Bantah Tudingan Polisi Tak Netral, Kapolda Sumut: Kan Ada Wasit

JUMAT, 29 JUNI 2018 | 04:12 WIB | LAPORAN:

Laporan ketidaknetralan anggota kepolisian menjelang pelaksanaan Pilkada 2018, dibantah Kapolda Sumatera Utara (Sumut) Irjen Paulus Waterpauw.

Menurut mantan Wakabaintelkam Polri itu, urusan ketidaknetralan telah ditangani oleh pihak berwenang, yaitu pengawas pemilu.

"Kan ada wasit. Nanti kan urusannya dengan wasit, pengawas. Jadi kalau ada pihak yang menganggap kami di kepolisian tidak netral, ya laporkan saja," tegas Paulus kepada wartawan, Kamis (28/6).


Salah satu isu ketidaknetralan anggota Polri juga muncul di wilayah tugas Poldasu, yakni Tapanuli Utara (Taput).

Para warga sempat melakukan demonstrasi menuntut Kapolres setempat agar mengundurkan diri dalam aksi 22 Juni 2018 lalu.

Kapolres dinilai tidak konsisten dan tidak mampu menjaga netralitas kepolisian pada Pilkada 2018 di daerahnya.

Paulus sendiri ikut menyoroti perihal tersebut. Termasuk melakukan investigasi dan menyiapkan sanksi jika terbukti bersalah. Apalagi, tambah Paulus, Kapolri Jenderal Tito Karnavian kerap mewanti-wanti jajarannya agar tetap netral selama Pilkada berlangsung.

"Investigasi? Otomatis. Saat ini, kita sedang kumpulkan bukti-bukti. Jika terbukti bersalah, itu sanksinya berat. Demosi. Kapolri sudah bolak-balik (mengingatkan)," jamin polisi yang berlatar belakang intelijen itu.

Taput sendiri termasuk tiga wilayah di Sumut yang memiliki tingkat kerawanan terkait faktor kondisi alam atau geografis.

Selain Taput, dua daerah lainnya adalah Kabupaten Langkat dan Kabupaten Nias Selatan.

Ketiga daerah tersebut, papar Paulus, memiliki akses yang cukup sulit untuk dijangkau. Terlebih, akses transportasi di wilayah itu belum sepenuhnya lancar.

"Jadi itu bukan faktor intimidasi atau yang lain, itu faktor geografis, dan letak dan jarak yg mengendala bagi kita," terangnya.

Selama proses pemungutan suara, Paulus mengatakan pihaknya telah menambah aparat kemanan sesuai dengan potensi tingkat kerawanan di tempat pemungutan suara diselenggarakan.

Hal itu bertujuan agar tak ada wilayah yang mengalami kekurangan logistik maupun guna meminimalisir konflik antar masyarakat akibat penyelenggaraan Pilkada.

"Dalam pengamanan itu kenapa dianggap rawan maka kita tambah personel lebih banyak. Di-back up oleh Brimob sama TNI," ujarnya.

Selain itu, Paulus juga memastikan pihaknya telah memberikan pengamanan melekat bagi kedua pasangan calon sejak awal hingga pengumuman pemenang Pilkada Sumut pada 7-9 Juli 2018 mendatang.

Pengamanan juga ditempatkan pada berbagai objek vital daerah seperti kantor KPUD, kantor Panwaslu, dan posko pemenangan para paslon.

"Sudah sejak dinyatakan terpilih sebagai paslon kita tempatkan personel untuk mengamankan pejabat itu sendiri, termasuk di rumah-rumahnya" demikian Paulus.

Seperti diketahui, Pilkada serentak di Sumut telah menggelar satu Pemilihan Gubernur (Pilgub), satu pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) dan tujuh pemilihan Bupati (Pilbup).

Yaitu, Pilgub Sumut, Pilwalkot Padangsidempuan, Pilbup Padang Lawas, Padang Lawas Utara, Dairi, Deli Serdang, Taput, Langkat dan Batubara.

Khusus Pilgub Sumut 2018, hanya diikuti oleh dua pasangan calon (paslon)  Djarot Syaiful Hidayat-Sihar Sitorus dan pesaingnya Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah.

Sebelumnya pada 2013 lalu, Pilgub Sumut diikuti oleh lima pasangan calon yakni, Gatot Pujo Nugroho-Tengku Erry Nuradi, Effendi M Simbolon-Jumiran Abdi, Chairuman Harahap-Fadli Nurzal, Amri Tambunan-RE Nainggolan dan M Gus Irawan Pasaribu-Soekirman. [sam]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Periksa Faisal Assegaf dalam Kasus Dugaan Suap Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:56

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

UPDATE

Komisi I DPR: Kisruh Rating IGRS di Steam Picu Kegaduhan

Rabu, 08 April 2026 | 19:50

JK Jangan jadi Martir Pemecah Belah Bangsa

Rabu, 08 April 2026 | 19:41

Narasi Pesimis di Tengah Gejolak Global Ganggu Stabilitas Nasional

Rabu, 08 April 2026 | 19:19

Ulama Dukung Wacana BNN Larang Vape

Rabu, 08 April 2026 | 19:18

KAMMI: Kerusakan Lingkungan Tidak Bisa Selesai di Ruang Diskusi

Rabu, 08 April 2026 | 19:05

WFH Momentum Perkuat Layanan Digital

Rabu, 08 April 2026 | 19:02

Motor Listrik Operasional SPPG Sudah Direncanakan Sejak 2025

Rabu, 08 April 2026 | 19:00

Harus Melayani, Kader PKB Jangan jadi Tamu 5 Tahunan

Rabu, 08 April 2026 | 18:51

JK Minta Jokowi Tunjukkan Ijazah Asli Buat Akhiri Polemik

Rabu, 08 April 2026 | 18:44

7 Menu Warteg Paling Dicari Orang Indonesia

Rabu, 08 April 2026 | 18:42

Selengkapnya