Tahun 2020-2030 akan menjadi tahun emas bagi Indonesia mengingat jumlah usia angkatan kerja (15-64 tahun) diperkirakan akan mencapai 70 persen. Sementara sisanya, yakni 30 persen berisi angkatan tidak produktif yakni 65 tahun ke atas dan 14 tahun ke bawah.
Kepala Badan Ansor Anti Narkoba (Baanar) Pimpinan Pusat GP Ansor, Saleh Ramli mengingatkan, bonus demografi akan memberikan keuntungan bagi Indonesia karena Sumber Daya Manusia (SDM) yang melimpah. Tetapi bisa juga menjadi malapetaka manakala jumlah SDM yang secara kuantitas melimpah tersebut tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas SDM.
Apalagi di waktu bersamaan, Indonesia dihantui dengan derasnya peredaran narkoba yang kian masif.
Merujuk pada temuan Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia yang dirilis tahun 2017, papar Saleh, disebutkan bahwa sekitar 1,77 persen penduduk Indonesia, setara dengan 3,3 juta jumlah penduduk Indonesia, terjerumus penyalahgunaan narkoba dan mengakibatkan kerugian Rp 84,7 triliun.
Baanar yang jelas sangat prihatin, terlebih berkenaan dengan momentum peringatan Hari Anti Narkotika Internasional yang jatuh tiap tanggal 26 Juni.
Saleh memaparkan, Baanar telah melakukan sosialisasi dan aksi melalui sistem kaderisasi di internal GP Ansor sebagai sebuah ikhtiar memberantas penyalahgunaan narkoba. Sosialisasi ini dilakukan secara masif karena alarm bahaya narkoba sudah berbunyi darurat.
"Kerap kita mendengar kata hijrah dan jihad dalam kehidupan sehari-hari. Kata ini coba kita kontekskan dengan semangat pemberantasan penyalahgunaan narkoba, yang tentunya akan membawa dampak positif," serunya.
Menurut dia, kader Ansor yang berjumlah tidak kurang 5 juta orang di Indonesia menjadi modal sosial yang besar untuk terus mengampanyekan pemberantasan penyalahgunaan narkoba.
"Dengan SDM Ansor yang melimpah, akan kita kerahkan untuk kampanyekan pemberantasan penyalahgunaan narkoba melaui kegiatan yang sesuai kebutuhan masyarakat, menyenangkan, dan memberikan harapan tentang masa depan bagi kaum muda Indonesia," terangnya.
Di sisi lain, lanjut Saleh, kampanye di media sosial juga akan terus dilakukan. Sebab beberapa literasi meyebutkan bahwa modus pengedaran obat-obatan terlarang kian canggih, salah satunya memanfaatkan kemajuan teknologi dan informasi. Langkah ini dinilai Saleh sangat efektif mengingat banyaknya pengguna sosial media, terlebih anak muda.
"Selamat memperingati Hari Anti Narkotika Internasional 2018," tutupnya.
[wid]