Berita

Susi Pudjiastuti/Net

Hukum

LAPORAN KEUANGAN DISCLAIMER

KPK Diminta Usut Program Bermasalah Di Kementeriannya Susi

SENIN, 04 JUNI 2018 | 18:46 WIB | LAPORAN:

Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) mendorong Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menelusuri serta membongkar berbagai penggunaan anggaran di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Ketua Harian DPP KNTI Marthin Hadiwinata mengatakan hal itu dikarenakan Kementerian yang kini dipimpin oleh Susi Pudjiastuti itu mendapat predikat disclaimer.

Predikat opini Tidak Memberikan Pendapat (TMP) atau Disclaimer atas Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) dari BPK kepada KKP itu sudah berturut terjadi. Marthin mengatakan, selama dua tahun KKP menyandang predikat TMP.


"KKP mendapat predikat disclaimer itu sudah dua tahun berturut. Itu artinya, KKP lemah dalam pengelolaan program, yang berdampak Negara  tidak hadir di pelosok Kampung Nelayan,” jelas dia di Jakarta, Senin (4/6).

Marthin melanjutkan, KKP lemah dalam pengelolaan keuangan dan implementasi program pemerintah.

Menteri Susi juga dinilai tidak bersungguh-sungguh memastikan program pemerintah diterima oleh rakyat nelayan di kampung pelosok nusantara.

Jadi, kata Marthin, adanya justifikasi penghematan anggaran dari pemerintah, tidaklah tepat. Hal itu dikarenakan, seharusnya KKP memastikan penyerapan anggaran pembangunan sebesar hampir Rp 10 triliun dari Anggaran Pendapatan dan Belaja Negara (APBN) agar dapat dinikmati dan dirasakan oleh nelayan di pelosok nusantara.

"KKP  tidak ada kesungguhan bekerja memastikan pembangunan dan program pemerintah dirasakan oleh nelayan. Yang dilakukan KKP, tidak sejalan dengan visi menghadirkan negara untuk mensejahterakan nelayan dari pinggiran yaitu nelayan tradisional,” jelasnya.

Oleh karena itu, lanjut dia, KNTI meminta kepada BPK agar memaparkan serta mempublikasikan LHP kepada nelayan. Hal itu penting agar diketahui permasalahan pengelolaan yang terjadi di KKP.

Selain itu, ditegaskan dia, selanjutnya perlu ada audit menyeluruh dari BPK dan KPK untuk memulai penyelidikan terhadap KKP atas penyelewengan penggunaan APBN.

Dia pun meminta KKP bersikap terbuka serta memastikan akuntabilitas penggunaan dan laporan anggaran keuangannya. “BPK dan KPK bersama-sama mengawasi semua aktivitas program dalam bidang kelautan dan perikanan yang menggunakan anggaran negara,” ujarnya.

Pada LHP tahun 2017, lanjut Marthin, KKP juga mendapatkan opini Disclaimer, dimana menurut BPK salah satu penyebabnya adalah hasil dari pemeriksaan atas pengadaan 750 kapal untuk nelayan.

Jika dilihat dalam ketentuan yang ada,  lanjutnya lagi, pengadaan itu seharusnya selesai sesuai tahun buku yaitu ada Desember 2016. Namun, selama proses KKP hanya mampu merampungkan 48 kapal dan pengadaan kapal diperpanjang hingga Maret 2017.

"Sedangkan anggaran senilai Rp 209 miliar untuk pengadaan barang tersebut sudah keluar. Salah satunya adalah program bantuan kapal di Provinsi Kalimantan Utara. Mereka hanya menerima 9 kapal yang merupakan program pengadaan tahun 2016, tetapi baru diterima pada bulan April tahun 2017. Namun hingga detik ini tidak beroperasi atau mangkrak,” demikian Marthin. [sam]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Pledoi Petrus Fatlolon Kritik Logika Hitungan Kerugian Negara

Kamis, 23 April 2026 | 00:02

Tim Emergency Response ANTAM Wakili Indonesia di Ajang Dunia IMRC 2026 di Zambia

Kamis, 23 April 2026 | 00:00

Diungkap Irvian Bobby: Noel Gunakan Kode 3 Meter untuk Minta Rp3 Miliar

Rabu, 22 April 2026 | 23:32

Cipayung Plus Tekankan Etika dan Verifikasi Pemberitaan Media Massa

Rabu, 22 April 2026 | 23:29

Survei TBRC: 84,6 Persen Publik Puas dengan Kinerja Prabowo

Rabu, 22 April 2026 | 23:18

Tagar Kawal Ibam Trending X Jelang Sidang Pledoi

Rabu, 22 April 2026 | 23:00

Dorong Transparansi, YLBHI Diminta Perkuat Akuntabilitas Publik

Rabu, 22 April 2026 | 22:59

Penyelenggaraan IEF 2026 Bantah Narasi Sawit Merusak Lingkungan

Rabu, 22 April 2026 | 22:52

Belanja Ramadan-Lebaran Menguat, Mandiri Kartu Kredit Tumbuh 24,3%

Rabu, 22 April 2026 | 22:32

Terinspirasi Iran, Purbaya Kepikiran Pajaki Kapal yang Lewat Selat Malaka

Rabu, 22 April 2026 | 22:30

Selengkapnya