Presiden Venezuela Nicolas Maduro/Net
Presiden Venezuela Nicolas Maduro mendapat reaksi keras dari komunitas internasional usai kembali memenangkan pemilu pekan lalu. Maduro berhasil memastikan posisinya sebagai presiden untuk periode kedua.
Namun, hasil pemilu ini diklaim curang. 14 duta besar termasuk Argentina, Brazil, dan Kanada telah angkat kaki dari Caracas sebagai protes. Bahkan sebelum pemilihan berlangsung, Amerika Serikat, Kanada, Uni Eropa, dan lebih dari selusin negara Amerika Latin mengatakan mereka tidak akan mengakui hasil pemilu Venezuela.
Kini, Meksiko, Kolombia, Chile, Panama dan Peru berÂbondong-bondong turut meÂnangguhkan hubungan diploÂmatik mereka dengan Caracas. Namun, Rusia, El Salvador, Kuba, dan China justru memÂberi selamat kepada Presiden Maduro atas kemenangannya dalam pemilu terakhir.
China mengatakan, setiap pihak harus menghormati pilihan yang dibuat rakyat Venezuela. Presiden Rusia Vladimir Putin berharap Maduro sukses dalam menyeleÂsaikan masalah sosial dan ekonoÂmi yang dihadapi negara.
Sanksi Ekonomi ASAmerika Serikat memberÂlakukan sanksi ekonomi baru terhadap Venezuela, yang bertujuan mencegah para peÂjabatnya menjual aset minyak negara sebagai imbalan suap.
Presiden Trump mengaÂtakan, "Kami menyerukan rezim Maduro untuk memulihkan demokrasi, mengadakan pemilihan umum yang bebas dan adil, membebaskan semua tahanan politik segera dan tanpa syarat, dan mengakhiri penindasan dan perampasan ekonomi rakyat Venezuela."
Senada dengan Trump, Wakil Presiden AS Mike Pence sebelumnya mengecam pemilu tersebut sebagai "palsu" dan "tidak sah".
Negeri Paman Sam telah menjatuhkan sanksi pada Maduro dan para pembantu seniornya, serta melarang perusahaan AS bertransaksi bisnis dengan Caracas dan perusahaan minyak setempat.
"Amerika Serikat berdiri dengan negara-negara demokraÂtis untuk mendukung rakyat Venezuela dan akan mengambil tindakan cepat pada isu ekonoÂmi dan diplomatik, guna menÂdukung pemulihan demokrasi mereka," pernyataan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo
Warga Venezuela kini tengah mengalami krisis ekonomi besar-besaran. Mereka kesuÂlitan mendapat makanan akibat minimnya pasokan di pasar. Sementara itu, nilai mata uang di Venezuela pun makin tidak berharga. Alhasil, kebanyakan warga Venezuela terpaksa makan sekali sehari akibat krisis ini.
Mayoritas warga Venezuela menyebut mereka tengah menÂjalani "puasa Maduro" sebagai bentuk sindiran kepada presiden mereka. Kondisi perekonomian Venezuela terus memburuk pasÂca kekuasaan dipegang Maduro selepas wafatnya Hugo Chavez pada 2014. ***