Berita

Politik

Tokoh Reformasi Gagap Membangun Sistem, Cuma Sebatas Menjatuhkan Rezim

MINGGU, 20 MEI 2018 | 23:46 WIB | LAPORAN: SORAYA NOVIKA

Pengamat Geo Politik Internasional, Hedradjit menilai Indonesia belum bisa dikatakan merdeka meski telah memasuki usia 20 tahun reformasi.

Menurutnya, salah satu alasan kuat kegagalan agenda reformasi karena ketidaksiapan para tokoh reformasi terhadap sistem negara yang ingin dibangun.

Sebab dalam faktanya agenda reformasi hanya sebatas menjatuhkan rezim orde baru, namun untuk membangun sistem yang tertera dalam UUD1945 tidak terwujud.


"Kita fokus hanya kepada menjatuhkan Soeharto saja, tapi tidak siap dengan skema dan strategi bangunan sistem negara selanjutnya," ujar Hedradjit dalam diskusi bertema 'Menggugat 20 Tahun Reformasi-Daulat Rakyat Dapat Apa?' di Rumah Kedaulatan Rakyat, Guntur 49, Setia Budi, Jakarta, Minggu (20/5).

Hendrajit menambahkan hal inilah yang kemudian memperparah keadaan. Ketidaksiapan tersebut justru jadi peluang besar bagi bangsa asing untuk menyusupi sistem penjajahan baru di Indonesia.

"Era 90'an sendiri adalah titik kulminasi dari skenario tahun 1944 yaitu hasil dari pertemuan Bretoon Woods yang merupakan agenda pengganti penjajahan klasik bangsa asing. Ketika Soeharto jatuh, ironi dan tragedinya kita ini jadi ladang atau medan yang begitu mudah dirasuki oleh skenario global tadi," ujarnya.

Hal mudah untuk mengetahui bahwa negara kita telah berhasil dirasuki oleh skenario penjajahan model baru tersebut adalah berkembangbiaknya paham liberalis dan globalisasi di negara ini.

Ia juga menilai bahwa impilkasi atau dampak dari liberalisasi dan globalisasi yang paling mudah kita temui sendiri yaitu sistem politik yang koruptif di semua tingkatan.

"Implikasinya jelas yaitu pelemahan di sistem kenegaraan bukan pemerintah lagi, melainkan kenegaraan di mana sistem politik yang koruptif ada di semua tingkatan, jadi bukan soal moral pribadi saja," ujarnya. [nes]


Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

UPDATE

IHSG Merah, Rupiah Tembus Rp17.130 Usai Negosiasi AS-Iran Gagal

Senin, 13 April 2026 | 10:15

Kebangkitan Saham AI Asia: Investor Global Mulai Agresif Pasca-Redanya Tensi Geopolitik

Senin, 13 April 2026 | 10:02

Kasus Tas Branded Dicuri, EcoRing Diminta Tak Lepas Tangan

Senin, 13 April 2026 | 10:02

AS Blokade Kapal yang Keluar Masuk Pelabuhan Iran Mulai Hari Ini

Senin, 13 April 2026 | 09:52

Pembangunan Kawasan Legislatif dan Yudikatif IKN Terus Dikebut

Senin, 13 April 2026 | 09:43

Feel Good Network Bidik Pasar Ekonomi Digital Asia Tenggara

Senin, 13 April 2026 | 09:24

Australia Tolak Gabung Blokade AS di Selat Hormuz

Senin, 13 April 2026 | 09:21

PM Viktor Orban Tumbang setelah 16 Tahun Berkuasa

Senin, 13 April 2026 | 09:18

Tidak Ada Ajaran Kristen Benarkan Membunuh Sebagai Jalan Spiritual

Senin, 13 April 2026 | 09:16

Ubah Krisis Jadi Peluang: Strategi Indonesia Perkuat Ketahanan Ekonomi

Senin, 13 April 2026 | 09:09

Selengkapnya