Rencana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membangun SMK Perikanan di kabupaten yang memiliki potensi perikanan dan kelautan didukung Uu Ruzhanul Ulum.
Calon Wakil Gubernur Jawa Barat nomor urut satu ini menjelaskan, ada sejumlah daerah di Jabar yang sangat layak memiliki SMK Perikanan. Misalnya, daerah Pantura seperti Cirebon, Indramayu, Subang, dan Pangandaran.
"Hadirnya SMK Perikanan di kawasan pesisir pantai utara ini mutlak diperlukan untuk meningkatkan SDM dibidang perikanan dan industrinya," kata Kang Uu dalam surat elektronik yang dikirimkan ke redaksi, Minggu (29/4).
Hal yang sama diutarakannya usai berkunjung ke kampung nelayan di Desa Gebang, Kabupaten Cirebon, kemarin.
Uu jelaskan, kurangnya transfer ilmu pengetahuan tentang Perikanan menjadi persoalan bagi para nelayan Indonesia. Nah, SMK perikanan di daerah yang memiliki potensi kelautan bisa membuat anak-anak muda di desa nelayan tak usah pergi jauh-jauh ke kota untuk sekolah perikanan.
"SMK Perikanan adalah tempat mereka menggali teori-teori tentang teknologi perikanan, aplikasinya adalah laboratorium di hadapan mereka, yakni laut yang luas yang menyimpan potensi perikanan yang begitu besar," kata Peraih Satyalencana 2016 dari Presden Joko Widodo ini.
Pasangan Ridwan Kamil ini menjelaskan, sekolah perikanan juga dapat membuat para siswa mengetahui tentang teknologi yang mendukung sektor tersebut. Mulai dari teknologi penangkapan ikan hingga industri pengolahan ikan yang lebih modern.
Di Kabupaten Tasikmalaya sendiri ada SMKN 2 Perikanan di Desa Cipatujah, sehingga anak-anak di desa itu tak perlu pergi ke kota untuk sekolah berbasis kemaritiman.
"Di sekolah itu, para siswa dididik untuk menjadi tenaga kerja dan ahli di bidang kelautan," kata Kang Uu.
Dia optimis, dengan lahirnya banyak tenaga terdidik yang menguasai teknologi, maka industri perikanan di Jawa Barat akan lebih baik.
"Kita harus meniru Jepang, mereka menggali potensi perikanan sangat baik, nelayan melaut dengan teknologi, hasil tangkapannya diolah secara industri. Sehingga nelayan di Jepang kaya-kaya. Kalau Jepang bisa, kenapa kita tak bisa? Saya yakin kita bisa," jelas Kang Uu.
Di desa nelayan Gebang, Kang Uu juga mendengar keprihatinan lain para nelayan. Mereka curhat soal jeratan rentenir ketika cuaca buruk dan tak bisa melaut, infrastruktur jalan rusak di sekitar desa nelayan, dermaga yang tidak memadai, hingga kurangnya penyuluhan tentang industri perikanan dari pemerintah.
"Para nelayan berjuang sendiri untuk menangkap ikan dilaut hingga menjual ikannya. Kondisi kehidupan para nelayan di sini rata-rata masih di bawah garis kemiskinan. Kami berharap, Kang Uu dapat memberikan solusi terhadap permasalahan nelayan tersebut," kata Carmat, nelayan yang juga warga setempat kepada Kang Uu.
Menurut Kang Uu, paslon Rindu (Ridwan Kamil - Uu) punya program satu desa satu perusahaan. Jika potensi di Desa Gebang ini adalah perikanan, maka yang digenjot imdustri perikanan.
"Jadikan Desa inj terkenal dengan potensi tangkapan ikan segarnya. Jadi kalau orang mau makan ikan segar, adanya di Desa Gebang, misalnya," jelasnya.
Kang Uu berharap infrastruktur yang masih kurang memadai di desa nelayan dapat diselesaikan secara kolaboratif dengan koordinasi antara pemerintah daerah maupun provinsi.
"Jika Kabupaten mempunyai masalah anggaran terkait pembangunan jalan rusak, maka provinsi akan turun tangan melalui bantuan gubernur untuk menyelesaikan persoalan jalan rusak," kata dia.
Terkait rentenir, menurut Kang Uu, Rindu punya program kredit Mesra (Mesjid Sejahtera), kredit tanpa bunga dan agunan dengan nilai pinjaman maksimal Rp30 juta.Kredit tersebut disalurkan melalui masjid.
Selain itu, melalui program satu desa satu perusahaan, diharapkan ekonomi tumbuh, dan rakyat sejahtera."Ketika rakyat sejahtera, maka rentenir tidak akan laku," tandasnya.
[sam]