Kaum perempuan harus bisa menjadi pelopor atau motor penggerak pembangunan di lingkungan keluarga maupun masyarakat luas demi kemajuan bangsa Indonesia.
"Peran perempuan baik di internal keluarga maupun di eksternal kalau yang bersangkutan katakan karirnya di luar rumah, perempuan sebagai istri, sebagai ibu tentu keluarga adalah nomor satu., †ujar peneliti senior dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Siti Zuhro,di Jakarta.
Menurutnya, kaum perempuan juga harus memberikan transfer pengetahuan, transfer nilai-nilai, transfer budaya bangsa Indonesia dan juga pengetahuan agama yang dianutnya. Dan itu semua harus diajarkan sejak kecil yang mana anak itu akan banyak mencontoh terhadap sikap ataupun perilaku orang tua.
"Itu harus ditunjukkan dari tutur kata dan perilaku kedua orang tua. Hubungan antara suami istri, bapak dan anak, ibu dan anak dan demikian juga bagaimana keluarga ini di tengah-tengah masyarakat di mana kita tinggal, itu penting sekali," ujar wanita kelahiran Blitar, 7 November 1958 ini.
Demikian juga kalau kaum perempuan itu melakukan karir di luar rumah. Kaum perempuan juga harus bisa ikut mengedukasi, mencerahkan, ikut bagaimana menyebarluaskan ilmu pengetahuan positif yang dimilikinya kepada masyarakat sekitarnya.
Ini sekaligus untuk mengantisipasi agar kaum perempuan tidak mudah terpengaruh paham-paham radikal terorisme, termasuk juga masalah intoleransi agar lingkungan keluarganya dapat hidup sehat dan bermartabat.
"Apalagi sekarang dengan kemajuan teknologi yang sungguh luar biasa itu bisa memiliki dampak positif dan dampak negatif. Dampak negatif terutama masalah radikalisme, terorisme, intoleransi melalui dunia maya ini yang harus diantisipasi," ujar peraih gelar MA bidang Ilmu Politik dari The Flinders University, Australia menjelaskan.
Agar paham-paham radikalisme terorisme dan juga masalah intoleransi ini tidak masuk ke dalam lingkungan sekitar menurutnya, sebagai warga bangsa harus memahami bahwa di negara ini punya empat konsesus dasar yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI.
Mabak Wiwiek begitu ia disapa, mengakui empat konsensus dasar tersebut masih belum cukup membumi di masyarakat Indonesia. Oleh karena itu sudah saatnya lebih marak lagi harus dibumikan, disosialisasikan, diamalkan melalui banyak panutan-panutan, baik itu melalui tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh birokrasi, tokoh politik, elit politik, elit birokrat, elit militer, pengusaha dan sebagainya.
Ia menilai masih sedikit kaum perempuan di Indonesia ini yang mau bergerak untuk membumikan hal tersebut. Hal ini dikarenakan kaum perempuan sacara pendidikan juga masih kalah dibandingkan dengan kamu laki-lakinya.
"Gender main streaming, bagaimana membuat kaum perempuan jauh lebih melek, sadar bahwa dirinya itu adalah warga negara yang sudah diunggulkan, diutamakan, karena jumlahnya luar biasa perbandingannya 49:51 yang mana nyaris 50:50," terangna.
Karena dengan jumlah yang sebesar itu kalau kaum perempuan tidak bisa menjadi aset negara, negara ini tentunya akan rugi.
"Memang ini saatnya kita memperbanyak pionir-pioner dari kaum perempuan untuk menjadi role model, teladan, yang mampu meneladani hal-hal yang positif, yang sesuai dengan sila-sila di dalam Pancasila," ujarya
.[wid]