Berita

Ridwan Kamil/Net

Nusantara

Kang Emil Mending Mikir Lagi

Soal Pemekaran Kabupaten Bogor
SENIN, 23 APRIL 2018 | 10:40 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Niat cagub Jawa Barat (Jabar), Ridwan Kamil memekarkan Kabupaten Bogor jadi tiga wilayah menuai kritikan. Maklum, pembentukan wilayah administratif baru butuh analisa mendalam, tidak semudah membalikkan telapak tangan, apalagi berbau politis.

Cagub Jabar Ridwan Kamil menyatakan bakal memekarkan sejumlah daerah di Jabar, satu di antaranya Kabupaten Bogor, apabila terpilih.

Kang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil mengaku, akan memecah wilayah Kabupaten Bogor jadi tiga wilayah administratif baru. Yakni Bogor Barat, Selatan dan Timur. Alasannya, luas wilayah Kabupaten Bogor dianggapnya terlalu luas dan jumlah penduduknya terlalu besar.


Pengamat perkotaan Nirwono Yoga mengatakan, ide memekarkan Kabupaten Bogor sebetulnya tidak urgent. Sebab memekarkan sebuah wilayah harus dilihat dari berbagai analisa dan sudut pan­dang. Di antaranya, pelayanan masyarakat, keuangan dan sum­ber pendapatan daerah. "Jadi kalau dibilang urgent saya kira tidak," ujarnya kepada Rakyat Merdeka.

Menurut Nirwono, akan terja­di fraud jika pemekaran wilayah Kabupaten Bogor hanya ber­bau komoditas politis pilkada. Masyarakat di wilayah pemeka­ran bisa terbengkalai dan beban anggaran pemerintah pusat bisa bertambah.

Alih-alih memekarkan wilayah, lanjutnya, sebaiknya kepala daerah terpilih membangun ter­lebih dulu Kabupaten Bogor dari sisi ekonomi, pelayanan, hingga fasilitas kesehatannya melalui koordinasi antardaerah. Nantinya, apabila ekonomi, pelyananan dan fasilitas kesehatan di sejumlah wilayah Kabupaten Bogor dirasa sudah bisa mandiri barulah wa­cana pemekaran dilontarkan.

"Intinya, jangan sampai peme­karan itu justru menyengsarakan masyarakat atau membebani anggaran pemerinta provinsi dan pemerintah pusat. Harus dikaji lebih dalam dan matang lagi," tandasnya.

Pengamat hukum tata negara asal Bandung, Prof Asep Warlan juga menilai pemekaran harus berdasarkan kajian mendalam. Pemprov Jabar harus melihat daerah-daerah yang akan di­mekarkan secara objektif dari berbagai macam aspek.

"Jangan target jumlah kemu­dian dipaksa jadi DOB (daerah otonom baru), padahal tak laik atau sebaliknya banyak yang laik malah enggak dijadikan DOB," kata Asep kepada Rakyat Merdeka.

Asep menyarankan, Pemprov Jabar mendatang harus melaku­kan kajian lebih dulu sebelummenjanjikan jumlah DOB. Sebab, sambung dia, idealnya DOB muncul berdasarkan ka­jian, bukan sebaliknya.

"Angka itu lahir karena hasil kajian itu bukan dibalik. Jadi kalau gubernur ke depan akan mengkaji lagi, harus mulai dari awal lagi semua dengan kajian mendalam," ungkap dia.

Sebelumnya, Sekjen Forum Komunikasi Nasional Calon Daerah Otonomi Baru, Bayu Rusnandar mengatakan, peme­karan tiga wilayah baru di Bogor ini bukanlah sebuah produk instan demi transaksional poli­tik semata. Tapi, telah melalui kajian ilmiah mendalam dan didasari atas kebutuhan mendesak karena ketimpangan dan kurang meratanya perhatian dari pemerintah baik itu pusat maupun daerah.

"Pemekaran itu bukan produk instan, bukan karena kepentingan transaksional politik. Pemekaran Bogor esensinya memperjuang­kan kesejahteraan rakyat, karena di Bogor itu unik, daerahnya sangat luas, penduduknya padat, PAD-nya tinggi tapi banyak ketimpangan," tuturnya.

Dewan Penasihat Daerah Otonomi Baru Bogor Timur, Zaenal Abidin berharap Ridwan Kamil mampu mewujudkan aspirasi masyarakat Bogor Timur.

"Daerah timur adalah daer­ah paling kacau, terutama in­frastruktur dan pelayanan pub­liknya. Padahal dari sumbangan (PAD) besar karena wilayah industri. Mohon ini bukan hanya dikawal, tapi sebagai aspirasi yang ingin diwujudkan Kang Emil," harapnya. ***

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Periksa Faisal Assegaf dalam Kasus Dugaan Suap Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:56

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

UPDATE

Perang di Meja Runding

Kamis, 09 April 2026 | 06:16

Kecanggihan Alat Perang AS-Israel Bisa Dikalahkan

Kamis, 09 April 2026 | 06:04

Polisi di Jateng Dilaporkan Usai Rekam Polwan Mandi

Kamis, 09 April 2026 | 05:36

Tatanan Baru Dunia di Bawah Naungan Syariah Islam dan Khilafah

Kamis, 09 April 2026 | 05:26

Pemuda di Solo Tanam Ganja di Rumah

Kamis, 09 April 2026 | 05:10

Polda Sumsel Pamerkan 1.715 Unit Motor Hasil Curian

Kamis, 09 April 2026 | 04:20

Bandung Masuk 5 Besar Destinasi Wisata Terpopuler di Asia

Kamis, 09 April 2026 | 04:16

Pemprov Jateng Gratiskan Bea Balik Nama Kendaraan Bekas

Kamis, 09 April 2026 | 04:01

Mental Baja di Ujung Kiamat, Iran Tetap Berkata ‘Tidak’

Kamis, 09 April 2026 | 03:30

Jusuf Kalla Tersinggung Berat Omongan Rismon

Kamis, 09 April 2026 | 03:28

Selengkapnya