Berita

Basri Sdehabi Dan Egy Massadiah/Dok

Dunia

CATATAN EGY MASSADIAH

Kisah Hubungan Qatar - Indonesia

SENIN, 23 APRIL 2018 | 08:32 WIB

TRANSIT di Doha, saya ngacir keluar Bandara Hamad International. Di mulut pintu ketibaan, Hakim El Faqieh orang Bugis Pangkep yang menjadi asisten pribadi dubes RI untuk Qatar sudah tegap menjemput bersama Chandra supir KBRI asal Kerla India.

Udara April ini bersahabat. Nyaman belum terlalu panas meski matahari bersinar sempurna. Peralihan perlahan dari dingin ke musim panas.

Qatar berpenduduk 2,7 juta jiwa. Orang Qatar asli hanya 400 ribuan. Sisanya expart-pendatang dari hampir 50 an negara. Luas Qatar kira kira setara dua kali wilayah pulau Bali. Negeri ini sedang bersolek menyambut hajatan Piala Dunia 2022. Mengubah image gurun pasir tandus menjadi negeri yang nyaman nan indah.


Jumlah warga Indonesia di Qatar sekitar 30 ribuan orang. 80 persen bekerja di bidang asisten rumah tangga, gardening dan cleaning service. Orang Qatar menyebutnya domestik worker.

Tapi yang membanggakan ada juga orang Indonesia, 10 an persen dari jumlah tersebut duduk di jabatan manajer hingga eksekutif dengan gaji per bulannya minimal 8.000 dolar AS sampai 12.000 dolar AS. Mereka disebut kaum profesional.

Hakim El Faqih lulusan Afrika Internasional University in Sudan tahun 2015 jurusan Aqidah dan Pemikiran Islam memboyong saya ke Wisma Duta di kawasan Dafna Diplomatic Area pusat kota Doha.

Andi Indah Burnawang Johar,  asli dari Kecamatan Belawa Wajo yang menjabat kepala rumah tangga wisma menyambut dengan suguhan bakso ayam dan tempe goreng. Tersaji juga ikan bakar kakap putih berikut cobek cobek terasi ala Bugis.

Dengan bersarung ala laki laki Bugis, Dubes RI Marsekal Madya (Purn) Basri Sidehabi mengajak saya berbincang aneka topik.

Basri mengatakan sejak kunjungan Emir Qatar ke Indonesia 18 Oktober 2017 setidaknya ada lima hasil MoU antara Indonesia dan Qatar. Terkhusus bidang pendidikan, pemuda dan olah raga, kesehatan,  luar negeri serta investasi dan tourism.

"Semua ini perlu segera diimplementasikan," ungkap Basri.

Yang juga menggembirakan bagi Dubes Basri yaitu "Bebas Visa" bagi pemegang paspor Indonesia dan sudah berlaku sejak sembilan bulan lalu. "Benar benar bebas visa, bukan visa on arrival. Dan ini tanpa bayar sama sekali. Untuk 30 hari," ungkapnya.

Kebanggaan lain yang berhasil diukir Dubes Basri yakni perjanjian free shipping Pelindo 1 dan 2 dengan Hamad International Port. "Dulu shipping dari Indonesia via Singapore dan Malaysia, sekarang sudah bisa langsung dari Indonesia ke Hamad Port di bawah koordinasi Pelindo 1 dan 2," jelas mantan anggota DPR RI 2009 - 2014 ini.

Qatar Charity juga mempererat hubungan kedua negara. Diantaranya  mendukung pembangunan mesjid dan sekolah. Darul Quran Mulia di daerah Serpong, adalah salah satu yang kecipratan rezeki Qatar Charity. Adapun di Doha saat ini setidaknya ada 15 mahasiswa yang mengikuti kerjasama kuliah singkat jurusan bahasa Arab dan Sastra.

Qatar memang terus menggeliat. Blokade dan krisis diplomatik yang dipimpin Saudi Arabia tak membuatnya redup. Sebulan pertama memang terasa ada masalah, tetapi setelah itu meski blokade tetap berlangsung  ekonomi Qatar berangsur pulih dan membaik. Krisis telah membuat Qatar makin tangguh dan juga kreatif.

Kalau pun ada kabar pening yang menimpa KBRI Qatar, adalah seputar urusan domestik worker. Antara lain sengketa dengan majikan, dizolimi majikan atau agen TKI, dan juga mental pekerja Indonesia yang mudah home sick. "Baru satu dua bulan kerja sudah minta pulang dan tidak betah," jelas Basri.

Namun ke depan Basri meyakini akan banyak perbaikan. Undang Undang terbaru tentang tenaga kerja telah disahkan pemerintah Qatar khususnya mengakomodir kaum domestik worker.

Ini menyenangkan semua negara yang memiliki pekerja di Qatar. Aturan tersebut mewajibkan bahwa pasport dipegang sendiri oleh pekerja. Sehari dalam seminggu ada libur. Gaji harus dibayar langsung ke rekening pekerja. Dalam sehari maximal kerja 10 jam.

Sambil berbincang muncul Ramli Ismail orang Aceh yang sudah menjadi warga Doha. Sebelumnya Ramli adalah karyawan Pupuk Iskandar Muda Aceh. Krisis ekonomi 98 - 99 membuatnya berangkat ke Doha dan diterima bekerja di Qapco (Qatar Petro Chemical) di Mesaeed 30 km dari Doha. Ayah lima anak ini adalah salah satu pekerja profesional Indonesia dengan posisi dan gaji menggiurkan dalam USD.

Itulah Dubes Basri. Lulusan Akabri AU 1974 ini berasal dari Sengkang Sulawesi Selatan.

Ia orang Bugis pertama yang menerbangkan pesawat tempur F 16 dari Amerika ke Madiun pada era tahun 80 an. Saat masih berdinas di militer ia pernah menjabat Atase Pertahanan RI di Washington DC, Gubernur Akademi Angkatan Udara, Pangkosek di Mandai, Komandan Sesko TNI serta Irjen TNI. Terakhir sebelum pensiun ada tiga bintang bertengger di pundaknya.

Menjelang siang kami bergerak ke Souq Waqih kawasan ramai turis. Saya dijamu aneka makanan khas Qatar dan teh khas Marocco. Teh ini agak kental dituang ke gelas mungil dengan cita rasa daun mint. Tanpa gula. Kurma muda yang sepat melengkapi gelora cita rasa di mulut.

Perbincangan pun bergeser ke politik domestik di Jakarta, termasuk suhu  pilpres dan tensi pilgub Sulawesi Selatan yang sebentar lagi akan digelar. Urusan Sul Sel menjadi seru, karena kebetulan saya dan dubes satu kampung, sama sama orang Bugis. Kebetulan sama sama tinggal di Amessangeng Desa Maddukelleng Sengkang, Kecamatan Tempe, Kab Wajo.

Kebetulan jarak rumah kami cuma selemparan batu. Dekat dengan taman segitiga Jetpur di kota Sengkang. Kebetulan juga kami masih keluarga dengan hubungan langsung antara Paman dan Keponakan.

Sekian kabar dari Doha. Silahkan mampir jika jadwal transit Anda di atas enam jam.

Menyenangkan lidah dengan nasi kebuli kambing di kawasan Souq Waqif, muter muter di Mall Pearl yang megah, atau berpetualang sensasi off road di gurun pasir  dengan mobil sejenis land cruiser atau pun range rover. Tabe.[***]


Penulis adalah lulusan Magister Komunikasi Universitas Paramadina, aktivis kesenian dan pecinta jalan jalan dan kuliner


Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Disinggung Kenaikan LPG Nonsubsidi, Bahlil Malah Berkelit soal LPG 3 Kg

Senin, 20 April 2026 | 22:11

KPK Serahkan Rampasan Puput Tantriana Rp3,52 Miliar ke Lemhannas

Senin, 20 April 2026 | 22:06

DPR Cuma Butuh Sehari Rampungkan 409 Daftar Masalah RUU PPRT

Senin, 20 April 2026 | 22:01

Berikut 12 Poin Strategis RUU PPRT yang Dibahas Baleg DPR

Senin, 20 April 2026 | 21:54

Dipimpin Dasco, RUU PPRT Segera Dibawa ke Paripurna

Senin, 20 April 2026 | 21:52

Pemkot Tangerang Jaga Transparansi Lewat Penyerahan LKPD Unaudited 2025

Senin, 20 April 2026 | 21:34

Menkes Sebut Penanganan Campak Tidak Perlu Lockdown, Ini Penjelasannya

Senin, 20 April 2026 | 21:14

Kunjungi IKN, Ketua MPR: Proses Pembangunan Begitu Cepat

Senin, 20 April 2026 | 21:05

IPB Hanya Skorsing 16 Mahasiswa Pelaku Kekerasan Seksual

Senin, 20 April 2026 | 20:41

Bisnis Tambang Sarat Risiko, Asuransi Diminta Perkuat Kompetensi

Senin, 20 April 2026 | 20:39

Selengkapnya