Berita

Foto/Net

Dunia

Pindad Berencana Bangun Wahana Militer Komersial

Optimalkan Aset Lahan 10 Hektare
RABU, 18 APRIL 2018 | 11:15 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

PT Pindad (Persero) berencana membuka area militer komersial untuk masyarakat umum. Rencananya area tersebut akan didirikan di lahan seluas 10 hektare di atas tanah milik perusahaan di Bandung, Jawa Barat.

Direktur Utama Pindad Abra­ham Mose mengatakan, pihaknya ingin mengoptimalkan peman­faatan aset berupa lahan di Band­ung, sebagai wahana pengenalan produk-produk perusahaan.

"Ada rencana jangka panjang di 10 hektare lahan kami mau bangun area komersial, military des­tination yang ada ruang tembak komersial, paint ball, bisa main panser, ada Pindad Shop-nya (sou­vernir) dan lainnya," tutur Direk­tur Utama Pindad, Abraham Mose saat ditemui di lapangan tembak Pindad, Bandung, kemarin.


Untuk itu, pihaknya ingin mengundang investor untuk menjalin kerja sama dalam mengembangkan area tersebut. Sebab, selain membangun Mili­tary Destination, akan dibangun juga fasilitas lain seperti rumah sakit dan perhotelan.

Sementara untuk penger­jaan konstruksinya, akan diker­jasamakan dengan perusahaan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) karya lainnya.

"Sekarang sedang pemba­hasan, sekitar Juli-Agustus kita akan lelang investor. Nanti, ru­mah sakitnya dibangun setinggi 7 lantai dan hotelnya bisa 200 atau 300 kamar," katanya.

Ia mengakui, sudah ada pihak atau investor yang ingin bek­erja sama dalam pengembangan tersebut, namun masih ada be­berapa hal yang perlu dinego­siasikan lebih lanjut.

Ia menargetkan, setelah proses lelang selesai, pembangunan tersebut memakan waktu satu tahun. Artinya, pada akhir Tahun 2019, diharapkan Bandung memi­liki wahana militer baru yang bisa dinikmati oleh masyarakat sebagai ruang terbuka bermain.

Abraham mengakui, saat ini telah ada penawaran untuk mem­bangun dengan nilai Rp 20 miliar. Namun nilai tersebut rencananya akan dinegosiasi ulang, karena dinilai pembangunan area komersial itu masih bisa lebih murah dan menghasilkan keun­tungan yang bisa dibagi.

"Kami negosiasi lagi. Itu masih terlalu besar, negosiasi lagi karena bisa kerja sama dan berbagi keuntungan," sebutnya.

Dia menambahkan saat ini in­vestasi pembangunan area komer­sial itu masih dalam pembahasan dan masuk agenda rapat pada Juli atau Agustus 2018. Jika sudah mulai digarap, diperkirakan se­luruh area akan selesai dibangun dalam satu atau dua tahun.

"Nanti yang ngelola ada anak usaha PT Pindad Engineering. Paling lama dua tahun selesai bangun," katanya.

Produksi Medium Tank


PT Pindad juga kini tengah bersiap-siap memproduksi medi­um tank dengan nama sementara Kaplan MT. Saat ini sudah dua unit pengujian yang dibuat dan rencananya akan mendapat serti­fikasi pada pertengahan 2018.

Direktur Teknologi dan Pengembangan Pindad Ade Bag­ja mengatakan, proses pembua­tan medium tank untuk pengu­jian pertama dilakukan di Turki bekerja sama dengan FNSS dan yang kedua di Indonesia. Proses sertifikasi yang sedang dilakukan antara lain terkait dengan uji ledak atau uji anti-ranjau.

"Sekarang prototype kedua sudah jadi dan tinggal menung­gu sertifikasi keluar. Kalau sudah keluar baru bisa diproduksi untuk jual," ujarnya saat bincang dengan awak media, Senin (16/4).

Ade menambahkan, Pindad tidak bisa menjual medium tank tersebut sebelum mendapatkan sertifikasi. Kendati demikian menurut dia, sudah ada pembeli yang menaruh minat.

"Kalau negaranya saya tidak bisa sebutkan, tapi kemarin kan pengujiannya ditunjukkan. Lalu setelahnya sudah ada yang meli­hat. Ada yang non ASEAN, ada yang ASEAN," sebutnya.

Pindad berharap bisa mulai memproduksi medium tank tersebut pada awal 2018 setelah sertifikasi keluar. Atau paling lambat, pada awal 2020.

Sebelumnya, pada akhir 2017 Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu telah meninjau kes­iapan produksi medium tank pertama Tanah Air. Tank tipe ini dinilai sebagai yang paling tepat dioperasikan di Indonesia karena jembatan yang ada rata-rata tidak mampu menahan bobot sangat berat. ***

Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Disinggung Kenaikan LPG Nonsubsidi, Bahlil Malah Berkelit soal LPG 3 Kg

Senin, 20 April 2026 | 22:11

KPK Serahkan Rampasan Puput Tantriana Rp3,52 Miliar ke Lemhannas

Senin, 20 April 2026 | 22:06

DPR Cuma Butuh Sehari Rampungkan 409 Daftar Masalah RUU PPRT

Senin, 20 April 2026 | 22:01

Berikut 12 Poin Strategis RUU PPRT yang Dibahas Baleg DPR

Senin, 20 April 2026 | 21:54

Dipimpin Dasco, RUU PPRT Segera Dibawa ke Paripurna

Senin, 20 April 2026 | 21:52

Pemkot Tangerang Jaga Transparansi Lewat Penyerahan LKPD Unaudited 2025

Senin, 20 April 2026 | 21:34

Menkes Sebut Penanganan Campak Tidak Perlu Lockdown, Ini Penjelasannya

Senin, 20 April 2026 | 21:14

Kunjungi IKN, Ketua MPR: Proses Pembangunan Begitu Cepat

Senin, 20 April 2026 | 21:05

IPB Hanya Skorsing 16 Mahasiswa Pelaku Kekerasan Seksual

Senin, 20 April 2026 | 20:41

Bisnis Tambang Sarat Risiko, Asuransi Diminta Perkuat Kompetensi

Senin, 20 April 2026 | 20:39

Selengkapnya