Perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China tidak selamanya memberikan dampak buruk bagi perekonomian Indonesia. Buktinya, ekspor baja nasional melonjak. Industri lokal ketiban untung nih.
Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia Hidayat Triseputro mengaku, kenaikan lonjakan ekspor besi dan baja merupakan berkah perang dagang AS dan China. Namun, tidak semua ekspor produk baja yang melonjak.
"Kemungkinan kenaikan itu bukan baja utama, mungkin baja non carbon. Itu karena anti-dumping di sana. Tapi ini baÂgus karena menjadi peluang," ujarnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Kenaikan impor baja ini disÂinyalir karena importir AS menÂcari alternatif produsen untuk mengantisipasi kebijakan PresiÂden AS Donald Trump perang dagang dengan China. Untuk mengisi kekosongan besi dan baja, mereka sudah memesan barang Indonesia sejak tiga buÂlan lalu. Sehingga pada Maret, barang itu telah tiba di Negeri Paman Sam.
"Kami masih menganalisa, karena kok tumben banget di Maret ekspornya naik. Ini pasti karena dampak dari kebijakan Trump," tuturnya.
Meskipun ekspor naik, HiÂdayat juga tetap khawatir dengan serbuan produk impor baja. PeÂmerintah harus segera menelusuri barang seperti apa yang masuk. Jika produk tersebut semi finishÂing masih wajar karena untuk bahan baku industri.
Namun, jika kenaikan impor besi dan baja karena
finished product, bisa mengancam pasar dalam negeri. Sekalipun, kata dia, alasannya untuk memasok proyek-proyek infrastruktur peÂmerintah. Sebab, industri lokal sudah bisa memproduksi jenis baja tersebut.
"Harus diwaspadai limpahan produk yang tidak masuk ke AS. Kami
wait and see sambil menyiapkan pengendalian imÂpor, sehingga tidak mengganggu pasar lokal dari serbuan China yang mencari alternatif dari AS," katanya.
Ekonom BCA David Sumual menilai, masih banyak peluang produk lain untuk masuk ke pasar AS di tengah perang daÂgang. Apalagi, perwakilan kedua negara masih bernegosiasi. Sebelum mencapai kesepakatan, peluang ini harus dimanfaatkan untuk ekspor baja.
David mengatakan, jika penÂingkatan ekspor besi dan baja berlanjut, bukan tidak mungkin neraca perdagangan Tanah Air melejit terdorong perang dagang. "Kalau berlanjut, Indonesia bisa memanfaatkan produk-produk yang AS tidak bisa impor dari China dan bisa beralih ke kita," imbuhnya.
Untuk diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan ekspor besi dan baja ke AS meningkat signifikan selama Maret 2018. Kenaikan ekspor nonmigas terjadi hampir ke seÂmua negara tujuan utama.
Kepala BPS Suhariyanto menÂgatakan, ekspor ke AS mencatatÂkan kenaikan terbesar senilai 303,8 juta dolar AS. Jumlah tersebut tumbuh 23,59 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Beberapa komoditas yang mencatatkan persentase kenaiÂkan ekspor terbesar ke Negeri Paman Sam antara lain komodiÂtas besi dan baja, alas kaki, dan barang rajutan. Kendati begitu, belum dipastikan apakah penÂingkatan ekspor besi dan baja ke AS yang cukup tajam ini merupakan dampak dari perang dagang AS dengan China.
Perlu melihat tren ekspor besi dan baja pada bulan-bulan berikutnya untuk mengambil kesimpulan yang akurat. "Tetapi bisa saja ini menjadi indikasi karena setelah pemerintah AS menerapkan bea masuk untuk impor baja, ekspor Indonesia jusÂtru meningkat," katanya. ***