Berita

Aris Budiman/Net

Politik

Dewan Minta Dirdik Aris Jelaskan Maksud Kuda Troya Di KPK

SENIN, 09 APRIL 2018 | 16:23 WIB | LAPORAN: SORAYA NOVIKA

DPR RI meminta Direktur Penyidikan (Dirdik) KPK Aris Budiman menjelaskan ke publik terkait pernyataan bahwa dirinya merupakan Kuda Troya KPK bagi oknum yang manfaatkan kesucian KPK untuk kepentingan pribadi.

Ketua DPR RI, Bambang Soesatyo menilan penjelasan Aris sangat penting agar masyarakat tidak terjebak dalam pernyataan ambigu dan memunculkan kericuhan.

"Aris harus menjelaskan jangan sampai statment itu menggatung dan membingungkan semua orang," ujar Bamsoet di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (9/4).


Politisi Golkar ini menambahkan KPK harus tetap kompak dan lembaga yang dipercaya masyarakat. Jika internal sudah menyatakan ada kuda troye di KPK, maka tidak menutup kemungkinan masyarakat tidak mempercaya lagi langkah yang lembaga anti rasuah itu.

"Kalau lembaga KPK ini kompak, kami tidak ragu apa yang diproses disana baik dan untuk kepentingan bangsa dan negara," ujar Bamsoet.

Sebelumnya, Aris mengungkapkan kekecewaan terhadap internal KPK mengenai surat elektronik atau e-mail dari internal lembaga antirasuah yang diterimanya.

Menurutnya, e-mail tersebut terkait dengan proses perekrutan penyidik. Setelah melihat isi e-mail itu, Aris mengaku kecewa lantaran dalam e-mail tersebut dinyatakan bahwa salah seorang Kasatgas yang akan kembali ke KPK justru dituduh sebagai kuda troya, yang sering diartikan sebagai penyusup atau 'musuh dalam selimut'.

Tak nyaman dengan stigma tersebut, Aris kemudian membalas e-mail tersebut dengan menyatakan dirinya sebagai 'kuda troya bagi oknum yang sok suci di KPK.

Aris sendiri menyadari pernyataan tersebut berisiko terhadap dirinya, namun dirinya ingin kekecewaan terhadap internal KPK bisa diketahui masyarakat.

"Anda bisa cek, ini ucapan saya bisa berisiko hukum bagi saya," kata Aris di Gedung KPK, Jakarta Selatan, Jumat (6/4).  [nes]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

UPDATE

AKPI Perkuat Profesionalisme dan Integritas Profesi

Senin, 13 April 2026 | 19:51

KNPI: Pemuda Harus Jadi Penyejuk di Tengah Isu Pemakzulan

Senin, 13 April 2026 | 19:50

14 Kajati Diganti, Termasuk Sumut dan Jatim

Senin, 13 April 2026 | 19:31

Cara Buat SKCK Online lewat SuperApps Presisi Polri, Mudah dan Praktis!

Senin, 13 April 2026 | 19:17

Bersiap Long Weekend, Ini Daftar 10 Tanggal Merah di Bulan Mei 2026

Senin, 13 April 2026 | 19:16

Viral Dokumen Kerja Sama Udara RI-AS, Okta Kumala: Kedaulatan Negara Prioritas

Senin, 13 April 2026 | 19:14

Daftar Hari Libur Nasional Mei 2026, Ada 3 Long Weekend

Senin, 13 April 2026 | 19:07

Ajudan Gubernur Riau Terima Fee Proyek Rp1,4 Miliar

Senin, 13 April 2026 | 19:02

4 Penyakit yang Harus Diwaspadai saaat Musim Pancaroba

Senin, 13 April 2026 | 18:57

Ongen Sentil Pengkritik Prabowo: Jangan Sok Paling ‘98’

Senin, 13 April 2026 | 18:52

Selengkapnya