Calon Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo diminta fokus meningkatkan kinerja BI. Terlebih, dalam tiga tahun terakhir BI gagal membantu pemerintah mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang sudah ditetapkan.
Begitu kata anggota Komisi XI DPR RI Faisol Riza sebagaimana diberitakan Kantorberitapemilu.com, Rabu (28/3)
"Sebagai akibat dari nilai tukar (kurs) rupiah yang selalu meleset dari asumsi makro. Masalahnya, tahun ini adalah tahun politik yang sangat rentan bila nilai tukar rupiah tidak stabil," ujarnya.
Kegagalan BI ini, lanjut Riza, karena paradigma pimpinan BI yang ingin bank sentral ini berposisi lebih independen. Sehingga tidak harus mengikuti semua kemauan pemerintah. BI sendiri merupakan bank sentral yang kebijakannya lebih mengikuti laju pasar uang.
"Tugas berat Gubernur BI yang baru adalah membantu pemerintah untuk mengembalikan nilai tukar rupiah pada asumsi makro pemerintah dalam APBN yaitu di kisaran Rp 13.400. Lonjakan nikai tukar rupiah saat ini tentu akan menekan APBN yang akan berdampak luas. Termasuk pada laju pertumbuhan ekonomi," kata mantan aktivis korban penculikan 1998 ini.
Sementara itu, terhadap Calon Gubernur BI Perry Warjiyo, Riza berharap banyak akan dapat membawa perubahan besar dalam paradigma kinerja BI. Independesi BI, kata dia, berarti tidak berpihak pada kepentingan pasar. Tapi justru agar kepentingan masyarakat yang lebih luas dapat dikedepankan.
"Pak Perry yang berpengalaman ini dapat mengambul pelajaran penting dan mampu segera membalik keadaan sehingga laju pertumbuhan ekonomi dan dicapai sesuai target dan memiliki dampak luas pada peningkatan kesejahteraan masyarakat yang lebih nyata. Saya menunggu gebrakan 100 hari Pak Perry untuk memberi sign bahwa BI adalah bank sentral yang berwibawa dan berperan besar dalam pembangunan," harap Riza.
Lebih lanjut Faisol Riza menambahkan jika dalam 100 hari ternyata tidak ada perubahan apapun, dirinya tidak akan segan-segan meminta Gubernur BI yang terpilih nanti untuk mundur dari jabatannya.
[ian]