Pakar Kebijakan Pembangunan, Hasudungan Sihombing menilai seharusnya, negara ini sudah tidak lagi memilih utang dalam pembangunan.
Menurutnya, Indonesia sudah menjalankan 20 tahun reformasi, namun agenda reformasi belum sepenuhnya berjalan. Salah satunya menghilangkan ketergantungan utang.
"Sebenarnya kita wajar tidak jadi negara penghutang, tapi hutang semakin bertumbuh," katanya dalam diskusi bertajuk 'Hutang, Demi Pembangunan atau Kehancuran?' di Jakarta Pusat, Selasa (27/3).
Alasan lain Indonesia bisa lepas dari kebiasaan utang yakni kekayaan alam yang dimiliki, mulai dari emas, minyak dan lain sebagainya.
"Masalahnya kita Indonesia yang punya sumber daya alam berlimpah, tapi dikelola seperti kita enggak punya apa-apa," sesalnya.
Hasudungan menambahkan, utang negara ini bertambah besar lantaran pemerintah menggunakan pinjaman untuk membangun infrastruktur yang tidak ada kaitannya sektor produktif.
"Harusnya investasi itu lebih ke sektor produktif. Dari mana jalan dan jembatan itu masuk sektor produktif. Itu sektor konstruksi. Kalau utang itu digunakan bukan untuk membayar sektor produksi, ini lebih bahaya lagi. Dua kali kita kena masalah kalau pakai utang," jelasnya.
Pengelolaan sumber daya dalam negeri yang buruk menurut dia membuat kehidupan masyarakat Indonesia pun semakin susah. Sebab, untuk membayar utang, pemerintah malah memakai uang dari penerimaan pajak. Hal ini berbeda dengan negara lain yang pengelolaan sumber daya alamnya sangat baik.
"Arab Saudi masyarakatnya hidup enak, Brunei tiap bulan ke rekening masyarakat karena pengelolaan sumber daya alamnya baik," demikian Hasudungan.
[nes]