Berita

Kesehatan

BBM Oktan Rendah Bisa Sebabkan Kanker

SENIN, 05 MARET 2018 | 23:54 WIB | LAPORAN:

Bahan bakar minyak (BBM) dengan oktan rendah seperti Premium bisa memicu penyakit mematikan. Salah satu penyakit yang berbahaya adalah kanker.

Hal itu sebagaimana dikatakan Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB), Ahmad Safrudin di Jakarta, Senin (5/3).

“BBM oktan rendah sangat berbahaya untuk kesehatan,” jelasnya.


Safrudin menjelaskan, BBM oktan rendah akan membuat pembakaran di dalam mesin menjadi tidak sempurna. Ini terjadi, karena terbakarnya BBM di dalam ruang bakar hanya hanya karena tekanan mesin, bukan karena percikan api dari busi. Akibatnya, selain menjadikan mesin mengelitik (knocking), juga membuat banyak BBM terbuang dan menjadi emisi hidrokarbon, karbon monoksida (CO), dan nitrogen dioksida melalui knalpot.

“Emisi hidrokarbon inilah yang memicu kanker,” tegasnya.

Menurut Safrudin, KPPB telah melakukan penelitian bersama Universitas Indonesia (UI). Hasilnya menunjukkan, bahwa rat-rata air seni masyarakat Jakarta mengandung polysiclic aromatic hydrocarbons (PAH) 2.200 mg kreatinin.

Angka tersebut, lanjut Safrudin sangat tinggi karena standar World Health Organizazation (WHO) hanya memperbolehkan
500 mg kreatinin. Selain itu, di dalam urine juga ditemukan benzene yang juga sangat tinggi, yaitu 8,9 mg. Angka tersebut jauh di atas standar WHO,  yaitu maksimal hanya boleh 0,3 mg kreatinin.

“PAH dan benzene pada urine masyarakat Jakarta tersebut berasal dari pencemaran hidrokarbon kendaraan bermotor. Jadi wajar saja, jika angka penderita kanker di Jakarta tinggi dan terus meningkat,” imbuhnya.

Celakanya, bukan hanya kanker. Berbagai penyakit lain yang tak kalah berbahaya, juga mengintai. “Selain itu, karbon monoksida yang dihasilkan juga bersifat racun dan nitrogen dioksida memicu penyakit paru-paru,” kata dia.

Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, dr. Imran Agus Nurali juga menyebut bahaya BBM beroktan rendah seperti Premium bagi kesehatan. Menurut Imran, BBM oktan rendah akan mencemari lingkungan, yang pada ujungnya akan berdampak pula pada kesehatan manusia.

“Mengganggu saluran pernafasan. Apalagi di jalanan yang padat kendaraan. Akan berisiko menyebabkan gangguan pernafasan. Yang punya risiko asma bisa lebih memicu asma, sampai jangka panjang adalah kanker paru-paru,” jelas Imran.

Dalam kaitan itulah, Imran menilai positif, berkurangnya konsumsi Premium di masyarakat yang dibarengi dengan peningkatan BBM dengan oktan lebih tinggi seperti Pertalite dan Pertamax.

“Risiko pencemaran lingkungan yang hilirnya berdampak pula pada kesehatan manusia akan semakin rendah. Jadi memang lebih bagus kalau memang Premium berkurang,” ujar dia.

Imran menilai, berkurangnya konsumsi Premium tidak terlepas dari berbagai kebijakan yang dibuat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Termasuk di antaranya Peraturan Menteri (Permen) LHK No. 20/Setjen/Kum.1/3/2017 tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru Kategori M, N, dan O. Aturan tersebut, mengatur pemberlakuan teknologi Euro-4 di Indonesia.

Kemnekes, lanjut Imran, sangat mendukung kebijakan tersebut. Apalagi dalam menyusun kebijakan, KLHK sering melibatkan Kemenkes. “Kami selalu berkoordinasi, karena ujung-ujungnya memang berdampak pada kesehatan. Kemenkes memang selalu berharap adanya lintas sektoral yang berwawasan kesehatan,” urainya. [ian]

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

UPDATE

Awal Pekan, Harga Emas Antam Terpantau Turun ke Rp2.668.000 per Gram

Senin, 22 Juni 2026 | 10:21

Harta Zita Anjani Melonjak Rp100 Miliar, Hari Purwanto: Mungkin Menang Lotre

Senin, 22 Juni 2026 | 10:11

Emas Antam Mandek di Awal Pekan, Satu Gram Rp2,6 Juta

Senin, 22 Juni 2026 | 09:49

Bajak Kader Partai Lain, PSI Dinilai Tetap Berpotensi Jadi Partai Gurem

Senin, 22 Juni 2026 | 09:43

IHSG Menguat, Rupiah Tertekan Rp17.812 per Dolar AS

Senin, 22 Juni 2026 | 09:30

Dolar AS Menguat di Tengah Amblesnya Yen dan Poundsterling

Senin, 22 Juni 2026 | 09:20

Trump Sebut Starmer Gagal, Isu Pengunduran Diri PM Inggris Kian Menguat

Senin, 22 Juni 2026 | 09:11

Gibran Ingin Layanan Kesehatan di Wilayah 3T Diperkuat

Senin, 22 Juni 2026 | 09:00

Rayakan HUT ke-499, Jakarta Berikan Tarif Spesial Rp1 untuk MRT, LRT, dan TransJakarta Hari Ini

Senin, 22 Juni 2026 | 08:47

Bakal Turun Gunung Bareng PSI, Jokowi Dinilai Sulit Lepas dari Bayang-bayang Kekuasaan

Senin, 22 Juni 2026 | 08:46

Selengkapnya