Berita

Joko Widodo di SUGBK/Dok

Politik

Sport, Politik Dan 2019: Anies vs Jokowi Dalam Piala Presiden

SENIN, 19 FEBRUARI 2018 | 13:20 WIB | OLEH: SYAHGANDA NAINGGOLAN

MARUARAR Sirait, ketua Steering Committee Piala Presiden meminta agar jangan mempolitisasi urusan bola dengan mempertentangkan hubungan Anies dan Jokowi atas insiden yang melebar ke publik.

Insiden tersebut sebagaimana menyebar ke publik, terjadi kala Gubernur DKI secara spontan akan turun ke podium bersama Jokowi dan jajaran pejabat negara (yang terlihat di video: Monkopohukam, Menpora, Menseskab) serta Maruarar, tim sukses Jokowi 2019 (baca berita digital hari ini: "Maruarar Sirait Tawarkan Fadli Zon Menteri Jika Jokowi Kembali Terpilih Presiden 2019"), namun Anies dihadang pasukan Paspampres tidak boleh ke podium.

Spontan bagi Gubernur Anies adalah karena dia adalah penguasa ibukota.  Spontan karena tim ibukota, Persija, yang menang dan akan mendapat piala, sehingga wajar dia ada di sana. Spontan, karena Piala Presiden 2015, Jokowi didampingi Gubernur Jakarta kala itu, Ahok, ke podium dan didampingi juga oleh Gubernur Jabar dan Walikota Bandung, karena pemenang piala 2015 adalah Persib. Dan spontan, tentunya karena Anies mengetahui benar bahwa olahraga adalah persahabatan bukan permusuhan.


Imbauan Maruarar Sirait tentu bak "mengantang asap". Seluruh rakyat Indonesia kemudian pro kontra atas apa yang terjadi. Sekjen Partai PDIP, yang 2014 mendukung Jokowi, membela Anies. Dia mengatakan spantasnya Anies ada dipodium. Fahri Hamzah, tokoh oposisi saat ini, yang juga menumbangkan Suharto ketika mahasiswa, juga membela posisi Anies.

Menurut Fahri, Gubernur adalah tuan rumah acara kemarin. Dan Jokowi, sebagai Presiden, hidupnya diatur protokol negara, ada UU yang mengatur siapa saja yang boleh mendampingi presiden dalam sebuah acara.

Dalam tweet-nya Fahri menegaskan, "Waktu cetak goal presiden hepi sendiri gapapa...tapi kalau maju ke panggung bukan seenaknya kalian." Bagi Fahri, penjelasan bahwa urusan Piala Presiden bukan urusan negara, sebagai alasan adalah alasan absurd.

(sebagai catatan bagi penulis, tweets Fahri ini juga adalah tweets pertama di mana Fahri membela Anies Baswedan).

Bey Mahmudin, protokol Istana, mengatakan bahwa Piala Presiden adalah masalah privat.

Dalam pernyataan yang dikutip berbagai media, Bey menyatakan "Mengingat acara ini bukan acara kenegaraan, panitia tidak mengikuti ketentuan protokoler kenegaraan mengenai tata cara pendampingan presiden oleh kepala daerah".

Penegasan Bey ini menggambarkan kepada publik bahwa Presiden Republik Indonesia punya dua kehidupan di publik. Meskipun dia menggunakan Paspampres, mobil dinas anti peluru, didampingi menteri-menteri yang menggunakan fasilitas negara dan lain-lain, bisa sebentar urusan kenegaraan namun bisa juga urusan swasta. Sehingga protokol istana tidak perlu terlibat jika urusan swasta.

Penjelasan Bey ini bertentangan dengan tweets Fahri Hamzah di atas. Sesungguhnya di acara publik, presiden adalah Presiden RI yang terikat protokoler. Soal kehidupan privat (pribadi) tentu di luar publik.

Sport dan Politik


Urusan sport dan politik bukanlah urusan baru. Wikipedia membahas "Sport and Politics" dengan 87 referensi. Sport bagi para politisi selalu dijadikan ajang diplomasi. Sejarah pesta olahraga olimpiade selalu diwarnai diplomasi dan ketegangan, baik antar negara maupun terkait isu ras, gender dan keadilan sosial. Tahun 70 an olahraga catur antara Bobby Fischer dan Boris Spasky, selalu dimanfaatkan Amerika vs Uni Soviet (Rusia) sebagai perang urat syaraf.

Di Amerika, akhir tahun lalu, pemain bola (National Football Lague) Amerika menyampaikan tanda protes dengan duduk  satu lutut dan tangan ke dada ketika lagu kebangsaan dikumandangkan. Hal ini sebagai simbol penolakan rezim Trump yang rasialis. Langsung saja Trump 4 kali men tweets mengecam mereka dan manajemen NFL yang biadab, tidak menghormati simbol negara mereka.

Tapi, olahraga juga sering digunakan untuk kebaikan. Winter Olympics tahun ini di Korea Selatan, ditandai dengan pengiriman delegasi penting dari Korea Utara, musuh berbuyutan. Dunia berharap ada langkah perdamaian setelah olimpiade ini nantinya.

Dalam tradisi Romawi, olahraga adalah panggung untuk kehormatan. Disitulah manusia tidak boleh menjadi pengkhianat. Apa yang disepakati diarena laga, tidak boleh dikhianati, setidaknya dimata penonton. Hal ini diperlihatkan dalam kisah yang diangkat dalam film populer "Ben-Hur" dan "Gladiator". Permusuhan selesai di arena, meskipun raja dipermalukan.

Piala Presiden dan 2019


Seribu kali Piala Presiden dinyatakan panitia sekedar olahraga, sejuta kali rakyat menganggap berbeda. Presiden sudah lebih awal menyerukan kepada pendukungnya untuk kampanye, beberapa bulan lalu. Presiden sudah mengatakan ini tahun politik. Dan memang ini adalah tahun politik. Ketua Umum PSSI, sudah mencalonkan diri sebagai calon gubernur yang dianggap calon oposisi (Gerindra dan PKS). Makanya, seluruh rakyat yang nonton pembukaan Piala Presiden, Januari lalu, di Bandung, melihat dia duduk dipojokan. Padahal seharusnya dia yang paling depan.

Piala Presiden, dibuka dan ditutup dengan menampilkan menteri2 non olahraga. Apa urusan Wiranto, menteri urusan politik, mendampingi Jokowi beri piala? absurd tentunya.

Dari insiden kemarin, di mana Anies Baswedan, Gubernur Ibukota Jakarta, yang dipersepsikan tokoh tokoh politik "dianiaya" oleh Jokowi atau mungkin tangan kanannya seperti Maruarar, dan juga menciptakan ketegangan antar rakyat, dapat ditarik pelajaran bahwa Anies Baswedan memang sudah menjadi "momok" menakutkan bagi kemenangan Jokowi ke depan. Anies sudah menjadi ikon simbol kontra Jokowi. Artinya, bangsa ini sudah punya tambahan alternatif bagi calon presiden ke depan.

Namun, Anies Baswedan, dalam pernyataannya menanggapi pro kontra insiden itu, dengan mengatakan diberbagai media, "Terima Kasih Presiden" atas kemenangan dan piala bagi Persija, menunjukkan Anies seorang pemimpin dewasa. Anies seperti kaum elit Romawi, yang melihat urusan olahraga selesai digelanggang.[***]


Direktur Sabang Merauke Circle

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Waspadai Modus Penipuan Mengatasnamakan Bantuan Sosial

Sabtu, 13 Juni 2026 | 06:21

Ayam Mati di Lumbung Listrik

Sabtu, 13 Juni 2026 | 06:04

Narasi 'Sell Indonesia' Manipulatif

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:52

Krisis 1998 Meninggalkan Trauma Strategis

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:28

Titin Rita Lestari, Air Mata yang Tak Sempat Jatuh

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:09

Sangat Janggal Kejagung Tak Periksa Nanik S Deyang

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:01

BUMD Didorong Bertransformasi sebagai Lokomotif Ekonomi Daerah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:35

Farhan Pastikan Bandung Aman Hadapi Musim Liburan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:19

Bosnia-Herzegovina Gagal Bungkam Tuan Rumah Kanada

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:07

Jaringan Narkoba Sumsel-Jabar Dibongkar Polisi

Sabtu, 13 Juni 2026 | 03:35

Selengkapnya