Berita

Foto/Net

Nusantara

Susah Menata Jakarta Tanpa Menggusur, Tapi Anies Baswedan Merasa Yakin Itu Bisa Dilakukan...

SELASA, 13 FEBRUARI 2018 | 11:53 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Ada perbedaan pandangan antara politisi Kebun Sirih den­gan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengenai penataan Jakarta agar terbebas dari banjir.

Kalangan DPRD DKI Ja­karta beranggapan, untuk mem­bebaskan Jakarta dari banjir, harus dilakukan penggusuran rumah warga di bantaran sungai atau kali. Artinya, tidak da­pat menghindari penggusuran. Karena itulah, dewan berharap Anies harus berani tidak pop­uler dan mencabut janji-janji kampanye tidak akan melakukan penggusuran.

"Normalisasi sungai Ciliwung, Pesanggarahan dan Sunter itu harus menggusur. Begitupun melanjutkan proyek sodetan Ciliwung ke Kanal Banjir Timur, harus juga menggusur. Susah menata Jakarta tanpa meng­gusur," kata anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta Ricardo saat dihubungi, kemarin.


Terlebih, sambungnya, saat ini pemprov sudah menyiapkan anggaran sampai Rp 1,5 triliun untuk proyek penggusuran dan membangun rusunami dari war­ga yang kena gusuran.

"Jadi penggusuran itu tidak terhindari. Terbukti, warga yang direlokasi ke rusunami (atau ke rusunawa) kehidupannya lebih baik. Mereka tidak lagi harus berepot-repot mengungsi saat banjir datang. Selain itu, akibat normalisasi pun titik banjir berkurang," jelasnya.

Dikatakannya, normalisasi sungai kini mulai dirasakan warga. Dulu kawasan Bukit Duri yang setiap hujan selalu banjir kini sudah terlindung.

"Efektivitasnya bisa dilihat di beberapa daerah Sungai Cili­wung yang sudah dinormalisasi. Salah satunya di Bukit Duri yang tahun lalu menjadi viral dan kali ini tidak ada lagi yang teriak. Inilah yang harus dipahami se­muanya," tegasnya.

Ketua Fraksi Partai Hanura DPRD DKI Jakarta, Mohamad Ongen Sangaji juga mendorong Pemprov DKI merelokasi warga yang tinggal di bantaran sungai. Cara demikian, katanya, bisa mengurangi ancaman banjir.

"Relokasi warga bantaran sungai merupakan kunci kurangi banjir. Kalau tidak segera dilaku­kan relokasi maka banjir akan makin parah," kata Ongen.

Dia mengingatkan Pemprov DKI agar dalam melakukan re­lokasi, warga diperlakukan secara manusiawi. "Jangan asal gusur pemukiman warga, tapi berikan­lah mereka uang kerohiman yang memadai, sehingga relokasi tidak justru membuat masalah sosial baru," ujar Ongen.

Ongen mengharapkan Anies- Sandi meniru program guber­nur-gubernur DKI sebelumnya dalam menangani warga yang direlokasi.

"Misalnya mereka dipindahkan ke rusunawa, seperti yang dijalank­an Pak Jokowi dan Ahok (Basuki Tjahaja Purnama)," cetus Ongen.

Menanggapi hal itu, Anies Baswedan mengatakan, pihaknya fokus menangani kebutuhan warga ketimbang bicara soal relokasi. Kalaupun ada relokasi, Anies memastikan pemindahan warga bantaran kali tak jauh dari tempat tinggalnya saat ini.

Sejak masa kampanye Pilgub DKI, Anies selalu menolak peng­gusuran. Anies berulang kali menegaskan sikapnya menolak segala bentuk penggusuran yang dilakukan pemerintah sebelum­nya. Dan Anies pun berjanji tidak akan melakukan itu. Contohnya saat disampaikan kepada warga di Tanah Merah, Koja, Jakarta Utara pada 11 Maret 2017.

"Menggusur itu hanya akan menyebabkan kesengsaraan buat warga. Karena itu saya berkomit­men tidak akan melakukan peng­gusuran," kata Anies.

Saat bertemu warga di rumah susun (rusun) Bumi Cengkar­eng Indah, Jakarta Barat, Anies juga mendapat banyak keluhan terutama terkait rencana peng­gusuran. Anies menegaskan bahwa dirinya tidak suka konsep gusur-menggusur. Dia merasa penggusuran selama ini tidak memandang nasib para warga dan diibaratkan seperti barang.

"Saya tidak suka konsep menggusur, kami justru melaku­kan penataan karena di seluruh dunia bisa ditata, Jakarta saja yang digarisin terus dipindah kayak barang," ungkap Anies, Senin (28/11).

"Ya Allah ini kan manusia bukan barang," tambahnya.

Anies juga membela warga Kampung Akuarium yang digu­sur pemerintah sebelumnya. Saat itu, menurut Anies, proses gusur menggusur merupakan keputu­san warga DKI Jakarta.  ***

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Tanpa Laboratorium Kuat, RI Hanya Jadi Pasar Teknologi Asing

Sabtu, 18 April 2026 | 00:13

Megawati-Dubes Jerman Bahas Geopolitik dan Antisipasi Krisis Global

Sabtu, 18 April 2026 | 00:01

Mahasiswa ITB Goyang Erika

Jumat, 17 April 2026 | 23:39

Kereta Api Bakal Hadir di Tanah Papua

Jumat, 17 April 2026 | 23:21

Industri Kosmetik dan Logistik Wajib Halal Oktober 2026

Jumat, 17 April 2026 | 23:01

Revisi UU Pemilu Rawan jadi Bancakan Parpol

Jumat, 17 April 2026 | 22:36

Pesan Prabowo di Dharma Santi 2026: Jaga Harmoni, Perkuat Persaudaraan

Jumat, 17 April 2026 | 22:14

Menkop: Prabowo Tegaskan Negara Hadir Atur Ekonomi Lewat Kopdes

Jumat, 17 April 2026 | 21:45

Dewas Didesak Gelar Perkara Laporan terhadap Jubir KPK

Jumat, 17 April 2026 | 21:35

YLBHI Diminta Kembali ke Khitah Bela Masyarakat Marginal

Jumat, 17 April 2026 | 21:20

Selengkapnya