Berita

Politik

Rizal Ramli: Aliansi Strategis Jepang-Indonesia Bisa Wujudkan Kekuatan Asia

KAMIS, 08 FEBRUARI 2018 | 04:23 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Tokoh nasional, Rizal Ramli menepis anggapan bahwa pemerintah Indonesia memberikan perlakuan khusus bagi China dalam hal investasi di tanah air.

Hal itu dikemukakan ekonom senior tersebut merespon adanya anggapan dari kalangan politisi, pengusaha, dan akademisi Jepang saat Rizal Ramli berkunjung ke negeri sakura beberapa waktu lalu.

"Semua investor asing kita perlakukan sama, tidak ada yang diberikan perlakuan khusus," ujar mantan Menko Ekuin era pemerintahan Gus Dur tersebut menjawab kerisauan Presiden Institute of Developing Economies (IDE) Japan External Trade Organization, Takashi Shiraishi, yang juga bekas penasehat empat PM Jepang dan bekas Rektor National Graduate Institute for Policy Studies.


Rizal Ramli pun mengisahkan ketika dirinya menjabat Menko Maritim ada beberapa kebijakan yang membuat pemerintah China justru marah kepada Indonesia. Salah satunya, perubahan nama Laut China Selatan menjadi Laut Natuna Utara.

"Ketika saya ada di Kabinet, kami ubah nama Laut China Selatan menjadi Laut Natuna Utara dalam peta Indonesia. Cina tidak terima, protes. Saya jalan terus, peta Indonesia tetap kami ubah. Sebab ini wilayah Indonesia, ini laut Indonesia, kita bisa ganti nama apa aja. Nah, apakah Anda masih bisa mengatakan kalau Indonesia memberikan perlakuan khusus bagi China?" tukas Rizal Ramli.

Memang, diakui Rizal, banyak negara asia yang pro terhadap China karena memang negeri tirai bambu tersebut menawarkan banyak proyek infrastruktur.

"Namun pada kenyataannya realisasinya relatif rendah janji," ungkap Rizal.

Untuk itu, Rizal mengajak Jepang agar serius membangun aliansi strategis dengan Indonesia. Karena, menurut Rizal, kedua negara memiliki kesamaan visi dan misi.

"Alangkah indahnya jika kedua negara Asia yang democratik ini, bisa punya hubugan strategis yang lebih kuat. Memang di masa lalu bagus dan baik, tapi mohon maaf perlu lebih kuat, untuk keseimbangan di kawasan ini," tutur Rizal Ramli.

Rizal berpendapat, potensi untuk aliansi strategis sangat besar karena antara Indonesia dan Jepang bukan kompetitor, tetapi komplementer atau saling melengkapi.

"Indonesia dengan banyak negera lain di Asia secara umum ekonominya kompetitor, seperti produk, teksil, manufaktur dan lain-lain. Tapi dengan Jepang, hubungannya saling melengkapi atau complementary in nature. Jepang dengan 150 juta penduduk, kebanyakan sudah sangat senior. Indonesia 250 juta kebanyakan usia muda, usia produktif," tutur Rizal Ramli.

Jadi, sambung Rizal, alangkah indahnya kalau kerjasama bisa terjalin secara strategis. Lebih banyak orang Jepang datang ke Indonesia, dan lebih banyak orang Indonesia bisa bekerja di Jepang.  Karena Jepang perlu tenaga kerja di sektor industri.

Lalu, ujar Rizal, bagaimana caranya supaya perusahaan Jepang kembali kompetitif supaya ada rebounce? Caranya dengan melakukan kerjasama strategis dengan Indonesia. Dengan itu barang Jepang akan jauh lebih kompetitif.

"Misalnya, Toyota produksi kijang, bagus, laku di ekspor ke seluruh dunia," imbuh Rizal Ramli.

"Kalau kita lakukan ini, banyak sekali industri Jepang yang kalah bersaing, akan kembali kompetitif. Dengan investasi dan operasi di Indonesia, dan kalau itu dilakukan, dua negara ini 400 juta penduduk, lebih besar dari Amerika dan complementary, Jepang punya fiscal resources, punya experience, sedangkan Indonesia punya natural resources dan strategic location, paling kaya di asia dan asia selatan, orangnya juga rajin dan ingin bekerja, kalau kita  kombinasikan ini, itu akan win win game," kata Rizal menambahkan.

Ekonomi Jepang yang sekarang stagnan, dipastikan Rizal, bisa semakin tumbuh karena mendapat new engine melalui  strategic alliance dengan Indonesia. Sementara, ekonomi Indonesia yang mandek di 5 persen akan semakin meningkat.

"Aliansi Tokyo dan Jakarta ini akan menjadi showcase democratic asia," ujarnya.
    
Dengan begitu, Rizal meyakini Jepang dan Indonesia akan menjadi negara kuat di abad ke-21 ini.

"Abad ke-19 adalah abadnya Inggris, British rule the sea, British rule the world. Abad ke-20 adalah abad nya Amerika, karena angkatan laut Amerika sangat kuat di seluruh dunia. Tapi, abad ke-21 adalah abadnya Asia," pungkas Rizal.[dem]

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

UPDATE

Jaksa Agung Resmi Lantik Kuntadi sebagai Pengganti Febrie

Jumat, 24 Juli 2026 | 12:25

Wasekjen AMPI: Hasil Rapat Pleno IX Cacat Hukum dan Tak Punya Legitimasi

Jumat, 24 Juli 2026 | 12:23

Danantara Mulai Bentuk Perusahaan Manajemen Aset Raksasa

Jumat, 24 Juli 2026 | 12:15

Samsung Galaxy Z Fold 8 Hadirkan Desain Tipis dan Performa Tangguh

Jumat, 24 Juli 2026 | 11:55

Indonesia Kecam Serangan terhadap Kapal Komersial di Laut Merah

Jumat, 24 Juli 2026 | 11:34

Perbaikan SDN Kebayoran Lama Selatan 09 Jadi PR Bersama

Jumat, 24 Juli 2026 | 11:32

Panda Bond RI Laris, Pemerintah Raup Rp18,5 Triliun

Jumat, 24 Juli 2026 | 11:27

Kemunculan Kabinet Bayangan Konsekuensi dari Demokrasi

Jumat, 24 Juli 2026 | 11:04

Iran: Trump akan Hadapi Konsekuensi jika Serangan AS Berlanjut

Jumat, 24 Juli 2026 | 11:04

Dude Harlino Kembalikan Honor Rp5,25 Miliar dari PT DSI, Sebut Bentuk Kepedulian untuk Korban

Jumat, 24 Juli 2026 | 10:50

Selengkapnya