Berita

Ilustrasi/Net

Politik

Kinerja Menteri Ekonomi Memble, Prediksi Profesor Australia Terbukti

SELASA, 06 FEBRUARI 2018 | 02:48 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Juli 2016, Profesor Australia Richard Robison memprediksi Indonesia tidak akan menjadi kekuatan baru baik di regional apalagi di pentas global.

Ia melihat tidak adanya intensi dan kapasitas pemimpin politik dan ekonomi untuk memproyeksikan kekuatan Indonesia menjadi salah satu penyebabnya.

Prediksi tersebut disampaikan Profesor Richard Robison saat memberikan kuliah umum di kampus Universitas Melbourne.


Richard terkenal dengan karya-karyanya mengenai ekonomi politik Indonesia, di antaranya "Indonesia: The Rise of Capital" yang telah menjadi buku referensi yang berpengaruh.

Richard adalah profesor emeritus pada Asia Research Centre di Universitas Murdoch. Dia juga pernah menjabat Profesor dan Direktur Australian Research Council’s Special Centre for Research on Politics and Society in Contemporary Asia.

Ketua Presidium Perhimpunan Masyarakat Madani (PRIMA) Sya'roni berpendapat apa yang diprediksi Richard saat ini terbukti benar. Dia melihat kinerja buruk tim ekonomi Kabinet Kerja jadi penyebab ketidakmampuan Indonesia jadi kekuatan baru di dunia sebagaimana banyak diperkirakan sebelum Jokowi jadi presiden.

"Dengan pertumbuhan ekonomi yang hanya berkutat di level 5%, maka wajar jika Indonesia gagal menjadi kekuatan baru dunia," ujar Ketua Presidium Perhimpunan Masyarakat Madani (PRIMA) Sya'roni kepada redaksi, Senin (5/2) malam.

Sya'roni mengingatkan ekspektasi tinggi bahwa Indonesia akan menjadi kekuatan baru sempat muncul di awal-awal kemunculan Jokowi sebagai presiden. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di panggung dunia. Bahkan majalah Time menaruh foto Jokowi di covernya dengan judul "A New Hope".

Pada KTT APEC 2014, Jokowi tampil sebagai bintangnya. Bahkan di sesi foto para kepala negara, Jokowi mendapatkan posisi terhormat dengan berdiri diapit oleh Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Barack Obama.

Namun dengan seiringnya waktu, aura Jokowi terus memudar. Indonesia yang diharapkan menjadi kekuatan baru dunia terlilit permasalahan domestik.

"Permasalahan utama yang melilit Indonesia adalah pertumbuhan ekonomi yang rendah. Pada 2014 pertumbuhan ekonomi tercatat 5,02 %. Pada tahun 2015 merosot menjadi 4,88 %. Pada 2016 dan 2017 hanya 5,02% dan 5,07%. Maka benar apa yang diprediksi profesor dari Australia bahwa tidak ada yang bisa "dijual" Indonesia di kancah internasional," tukas Sya'roni.

Sementara itu, ekonom senior DR Rizal Ramli memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam 2 tahun kedepan bisa mencapai 7% jika strategi ekonomi yang diterapkan diubah.

Caranya, kata Rizal, antara lain dengan memompa anggaran tidak menggunakan dana APBN. Kedua, sekuritisasi aset, di mana pendapatan dari proyek pembangunan infrastruktur, seperti proyek jalan tol ditarik sekarang untuk membuat proyek baru.

Ketiga, mengubah mekanisme kuota eksplisit atau semi kuota dalam mengatur impor komiditas pangan menjadi sistem tarif sehingga bisa melindungi produsen dalam negeri. Siapa pun boleh impor asal membayar sebesar 20%-30%.

Selain itu, kata dia, pemerintah melakukan ekspansi kredit agar ekonomi Indonesia dapat tumbuh sebesar 15%.[dem]

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

KPK NU Demo di Gedung Merah Putih KPK, Desak Penangkapan Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:23

UPDATE

Wall Street Hijau Usai Data Tenaga Kerja Redupkan Sinyal Kenaikan Bunga The Fed

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:21

Biaya Perawatan Naik 106 Persen, Deteksi Dini Penting untuk Tekan Risiko

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:05

Harga Solar Naik Tinggi, G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:51

Bank Syariah Jumbo Bakal Bertambah, OJK Pasang Target Lima Pemain

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:21

Bursa Eropa Bangkit, DAX Naik 1,17 Persen

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:06

Digitalisasi Parkir On Street Efektif Cegah Pungli

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:53

Suyudi-Wahyu Memimpin Polri: Tujuh Agenda Besar, Saatnya Pembuktian

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:22

Awas, Aktivitas Merapi Melonjak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:04

Pengamen Dilarang Aktivitas di Mikrotrans dan Halte Transjakarta

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:53

Ahli Hukum Diusir MK, Apakah Gibran Sudah Bisa Didiskualifikasi?

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:34

Selengkapnya