Berita

Yenny Wahid/Net

Wawancara

WAWANCARA

Yenny Wahid: Komunis, LGBT dan Yahudi Paling Tak Disukai Muslimin & Muslimah

JUMAT, 02 FEBRUARI 2018 | 11:37 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Putri bekas Presiden Abdurrahman Wahid ini digandeng UN Women-lembaga PBB yang mengurus kesetaraan jender dan pemberdayaan perempuan, melakukan survei tren toleransi sosial-keagamaan di kalangan perempuan muslim Indonesia. Berikut pemaparan Yenny Wahid terkait hasil survei tersebut.

Apa saja sih obyek survei yang Anda lakukan itu?

Survei yang memaparkan situasi potensi toleransi sosial keagamaan di kalangan perem­puan muslim dan menyoroti fak­tor yang berkontribusi terhadap penerimaan terhadap penguatan toleransi di Indonesia.

Hasilnya apa saja?

Hasilnya apa saja?
Hasilnya, survei itu menun­jukan bahwa perempuan lebih banyak mendukung hak kebe­basan menjalankan ajaran agama atau kepercayaan dibanding laki-laki. Sebanyak 80,8 persen perempuan tidak bersedia men­jadi radikal, dan sebanyak 80,7 persen perempuan Indonesia mendukung hak kebebasan da­lam menjalankan ajaran agama dan keyakinan. Sementara untuk laki-laki terdapat 76,7 persen yang tidak bersedia menjadi radikal.

Selain itu survei ini juga mencatat sebanyak 55 persenperempuan yang intoleran. Angka ini lebih sedikit diband­ing laki-laki sebesar 59,2 persen. Artinya perempuan intoleran lebih sedikit dibandingkan laki-laki. Lalu sebanyak 53 persen perempuan juga memiliki lebih sedikit kelompok yang tidak disukai dibandingkan laki-laki sebesar 60,3 persen.

Itu kan hanya sebagian besar yang tidak bersedia radikal. Kalau yang bersedia radikal bagaimana?

Ada 2,3 persen perempuan yang bersedia radikal, dan ada 5,2 persen pria yang berse­dia radikal. Kemudian ada 0,1 persen perempuan yang pernah ikut serta dalam radikalisme, dan ada 0,4 persen pria yang pernah ikut dalam radikalisme. Yang tidak punya sikap ada 16,7 persen perempuan, dan 17,7 persen laki-laki.

Saat melakukan survei bukankah para responden memiliki pemahaman sendiri-sendiri terkait pengertian radikal. Bagaimana itu me­nyelaraskannya?
Radikalisme' di sini diartikan berdasarkan pengertian yang telah mereka tentukan sendiri. Radikalisme bagi para peneliti di sini mencakup enam indika­tor. Pertama, ikut merencanakan atau ikut melakukan razia tem­pat-tempat yang bertentangan dengan Islam seperti diskotek, pelacuran, perjudian. Kedua, berdemonstrasi terhadap kelompok penoda agama. Ketiga, meyakinkan orang lain seperti teman atau saudara agar ikut berjuang menegakkan syariat Islam. Keempat, menyumbang dalam bentuk materi, baik uang atau pun barang untuk organ­isasi penegak syariat. Kelima, melakukan penyerangan ter­hadap rumah ibadah pemeluk agama lain. Keenam, membantu kelompok Islam memprotes pihak penista agama. Kalau sekadar menggerutu, itu bukan radikalisme. Tapi kalau sudah sampai ke perusakan, bentrok fisik, maka itu sudah masuk sebagai radikalisme.

Berdasarkan lima indikator radikalisme tersebut, yang paling banyak apa?

Yang paling banyak adalah menyumbang dalam bentuk materi, dan meyakinkan orang lain. Dibanding laki-laki, jum­lah perempuan yang pernah dan bersedia radikal jauh lebih sedikit, misal dalam keikutser­taan demonstrasi, razia, protes, dan penyerangan rumah iba­dah. Diketahui ada 27,6 persen perempuan responden yang pernah menyumbang dalam bentuk materi untuk tindakan radikalisme, dan ada 29,1 persen pria yang pernah menyumbang.

Lalu untuk indikator radika­lisme lainnya?

Terdapat 17,6 persen perem­puan yang pernah meyakinkan orang lain ikut memperjuangkan syariat Islam, dan ada 19,8 pers­en pria di aspek ini. Kemudian ada 8,4 persen perempuan yang melakukan demonstrasi terh­adap kelompok penoda agama, serta ada 15,8 persen pria yang melakukannya. Sebanyak 7,4 persen perempuan pernah ikut razia dan 14,8 persen pria re­sponden mengaku pernah ikut razia juga. Lalu ada 5,6 persen perempuan membantu kelompok Islam yang memprotes penista Islam, dan 9,5 persen pria mem­bantu hal serupa. Kemudian ada 1,1 persen perempuan responden yang mengaku pernah terlibat penyerangan terhadap rumah ibadah pemeluk agama lain, dan 2,7 persen pria mengaku pernah terlibat hal serupa.

Tadi Anda menyebut soal kelompok yang tidak disukai. Kelompok apa yang palong tidak disukai berdasarkan survei?

Kelompok komunis serta kaum lesbian, gay, biseksual,dan transgender (LGBT) adalah kelompok yang paling tidak disukai muslim Indonesia. Yahudi menyusul di urutan ketiga sebagai kelompok yang tak disukai muslimin dan mus­limah.

Berdasarkan survei Oktober 2017, sepuluh kelompok yang paling tak disukai adalah ko­munis 21,9 persen, LGBT 17,8 persen, Yahudi 7,1 persen, Kristen 3,0 persen, Ateis 2,5 persen, Syiah 1,2 persen, China 0,7 persen, Wahhabi 0,6 persen, Katolik 0,5 persen, dan Buddha (0,5 persen. Hasil ini menu­jukan telah terjadi pergeseran dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Memang hasil sebelumnya seperti apa?

Pada survei Maret-April 2016, nomor satunya adalah LGBT, kemudian komunis. Pada survei 2016 urutannya adalah LGBT 26,1 persen, komunis 16,7 persen, Yahudi 10,6 persen, Kristen 2,2 persen, Syiah 1,3 persen, China 0,4 persen, Wahhabi 0,5 persen, Katolik 0,4 persen, Buddha 0,4 persen, dan Konghucu 0,1 persen. ***

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Gol Dramatis Lautaro Martínez Bawa Argentina ke Final

Kamis, 16 Juli 2026 | 04:20

KPK Watch Dorong DPR Percepat Bahas RUU Perampasan Aset

Kamis, 16 Juli 2026 | 04:03

Klaster Asabri-Jiwasraya dari Suap, Gratifikasi, hingga Pencucian Uang

Kamis, 16 Juli 2026 | 03:30

Pecat Jaksa Agung ST Burhanuddin!

Kamis, 16 Juli 2026 | 03:08

Pemilu 2029 Inkonstitusional Jika UU Pemilu Tak Direvisi

Kamis, 16 Juli 2026 | 03:04

Gus Miftah Terima Uang Haram Rp100 Juta? Ah, Jangan Bercanda

Kamis, 16 Juli 2026 | 02:40

Fahira Idris: Ancaman Bom Bukan Candaan!

Kamis, 16 Juli 2026 | 02:08

Kasus Febrie Adriansyah Berpeluang Antiklimaks

Kamis, 16 Juli 2026 | 02:00

Dominasi Agrinas di KDKMP Membahayakan Desa

Kamis, 16 Juli 2026 | 02:00

Kejagung Bikin Dagelan Kasus Febrie Adriansyah

Kamis, 16 Juli 2026 | 01:18

Selengkapnya