Berita

Tito Karnavian/Net

Politik

Bangsa Ini Butuh Orang Seperti Tito Karnavian

KAMIS, 01 FEBRUARI 2018 | 11:52 WIB | OLEH: NATALIUS PIGAI

HARUS diakui bahwa pada saat ini Kepolisian Republik Indonesia (Polri) tengah menghadapi dilema. Berada di tengah-tengah tarikan berbagai kepentingan, kepentingan para pencari keadilan, kepentingan aktor-aktor pelaku kriminal, para punggawa politik juga tekanan dunia internasional.

Kepolisian ibarat diserbu dari 8 penjuru mata angin. Tidak mengherankan karena saat ini negara ini berada pada turbulensi politik yang tinggi, dimana semua orang berharap kepolisian sebagai alat pemukul lawan.

Namun hanya dengan kepiawaian seorang Jenderal Prof Dr. Tito Karnavian mampu menjaga marwah institusi kepolisian saat ini. Jenderal Tito telah menyadari bahwa kepolisian adalah satu lembaga negara yang dekat dengan rakyat, para pencari keadilan. Pasti senang jika dipuji juga tetap saja menerima di saat dihujat, dicaci dan maki.


Yang paling penting adalah Jenderl Tito tetap berusaha untuk menegakkan hukum secara berkeadilan. Jenderal Tito juga tetap berusaha untuk menjaga agar tegaknya Pancasila dan UUD, NKRI dan Kebhinekaan Bangsa.

Tidak banyak yang tahu, proses hukum yang begitu cepat terhadap kasus penistaan agama yang dilakukan oleh mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Kepolisian berani mengambil keputusan di saat adanya benturan tuntutan mayoritas umat muslim dan kepastian jaminan perlindungan bagi kaum minoritas. Di tengah dilema kepolisian menegakkan keadilan dan pengadilan memutuskan Ahok bersalah. Dan itu terjadi karena seorang Tito Karnavian.

Ketika proses hukum terhadap para ulama, ustad, ustadah, habib, habaib, umat muslim dan aktivis, semuanya berakhir dengan baik tanpa melalui proses penegakan hukum dengan mengedepankan pendekatan ketat (crime control model) dan Tito sebagai Kapolri mengontrol secara agar citra, harkat dan martabat para pemimpin muslim tetap terjaga.

Sebagai intelektual, Jendral Tito menyadari betul bahwa saat ini adanya   gempuran dunia internasional dengan membangun framing negatif atau stereotipe negatif terhadap muslim.

Habib Rizieq Shihab, pemimpin muslim Indonesia, ulama besar adalah target utama bagi orang-orang yang menjalankan praktik Islamopobia yang telah menghancurkan imperium Islam dan peradabannya di dunia Arab.

Dunia Arab dihancurkan dengan memberangusnya situs-situs tua sebagai simbol imperium Islam dan pusat perasaan Islam mulai beralih ke ke kawasan Asia Tenggara dan Indonesia sebagai tujuan ekspansi Islam transnasional.

Habis Rizieq adalah figur sentral yang mampu membangun peradabaa  dan kedigdayaan Islam.

Bagaimanapun Tito seorang intelektual muslim asal Palembang memainkan peran sentral menyelamatkan harkat dan martabat Habib Rizieq sebagai simbol tokoh muslim berpengaruh di negeri ini. Memang  tidak mudah menegaskan hukum tetapi lebih sulit menjaga nama, harkat mulia tokoh-tokoh panutan umat muslim. Semua ini saya saksikan sendiri sebagai Ketua Tim Pembela Habib Rizieq, para ulama, umat muslim, aktivis baik di Komnas HAM maupun juga sebagai aktivis kemanusiaan.

Pernyataan Jenderal Tito yang menyatakan bahwa hanya NU dan Muhamadiyah adalah NKRI itu menunjukkan kecerdasan intelektualnya yang tidak banyak diketahui di sanubarinya bahwa itu hanya sebuah pancingan agar semua komponen muslim selain NU dan Muhamadiyah keluar dari sanubarinya untuk menyatakan secara lantang mengakui Pancasila dan NKRI sebagai landas pijak. Sebagaimana yang dilakukan oleh NU dan Muhammadiyah.

Justru harus diapresiasi kepada Jenderal Tito karena pernyataan itulah merekatkan semua rakyat Indonesia mengerti akan posisi dan jati diri orang-orang Islam yang selama ini diabaikan dan dicurigai oleh negara sebagai bagian tidak terpisahkan dari negeri ini.

Standar berpikir negara tentang Pancasila dan NKRI adalah standar berpikir pada Tito sebagai kepala Kepolisian RI yang bertugas menegakkan simbol-simbol negara bangsa. Dan pernyataan Jenderal Tito adalah melaksanakan tugas sebagai punggawa NKRI sebagai pemimpin tertinggi kepolisian RI.

Mari kita sudahi polemik ini, toh Tito adalah seorang anak muslim dari pedalaman Palembang yang mengerti Islam sejak hayat dikandung badan.[***]


Ketua Tim Pembela Habib Rizieq, Para Ulama dan Aktivis; Komisioner Komnas HAM 2012-2017

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

UPDATE

Mantan Menpora Dito Ariotedjo Hadir Bersama Habib Jindan di Safari Sholawat Lombok

Senin, 12 Oktober 2026 | 22:08

PLN Siapkan Integrasi EBT PLTP Wayang Windu Unit 3 ke Sistem Kelistrikan Jabar

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:54

Gaduh Dugaan Aturan Selundupan, Doli Sentil Hasyim: Jabatan Komisaris Hadiah dari Siapa?

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:44

Sertijab Menlu, Arrmanatha Tegaskan Arah Polugri Indonesia Tidak Berubah

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:28

Kades Ciangsana Bakal Mediasi Polemik Bangunan 480 Meter Persegi di Coatesville

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:07

Bank Jakarta dan PAM Jaya akan Melantai di Bursa, Ini Respons Senator Fahira

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:37

Berat Langkah IHSG Kembali ke 9.000, Saham Konglo Tak Akan Bangkit?

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:28

Danantara Diandalkan Pacu Pertumbuhan Ekonomi 7 Persen

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:22

AMDK dan Komoditas Mamin Harus Dikecualikan dalam Pelarangan Truk Sumbu 3

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:21

Komisi II Buka Peluang RDP Bahas Putusan MK pada Gibran

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:02

Selengkapnya