Berita

Eko/net

Nusantara

Dana Desa Papua Tidak Maksimal, Menteri Eko Keluhkan Masyarakat Yang Hidup Berpindah

RABU, 31 JANUARI 2018 | 22:10 WIB | LAPORAN:

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo mengakui, masih belum semua daerah bisa memaksimalkan dana desa. Salah satu yang masih terkendala adalah wilayah Papua.

"Untuk Papua, penggunaan dana desa belum sesuai harapan. Kita akan mengirim tim ke sana untuk mengetahui penyebabnya," kata Eko dalam siaran persnya, Rabu (31/1).

Berdasarkan laporan anak buahnya, Eko mengaku, ada beberapa kendala yang dihadapi masyarakat pedesaan Papua. Salah satunya, tradisi masyarakat yang hidup berpindah tempat (nomaden).


"Kesulitannya, masyarakat hidup berpindah-pindah," ungkapnya.

Kemendes, kata Eko, akan membentuk klaster pertanian di Papua supaya mereka bisa bertani. Sehingga dengan adanya klaster pertanian, terang Eko, warga Papua tak usah berpindah-pindah lagi. Sebab pangannya sudah terjamin melalui pertanian mandiri.

Pihak Kemendes juga akan berkoordinasi dengan pemangku adat setempat untuk menyikapi kultur masyarakat yang kerap nomaden.

"Kalau hidup berpindah-pindah, kita nggak bisa bikin klaster. Jadi, harus kerjasama dengan pemuka adat," tuturnya.

Saat ini, sudah 43 kabupaten yang melaksanakan pengembangan Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades) dengan memanfaatkan dana desa. Prukades ini bisa mengurangi desa tertinggal. Sekaligus mengurangi desa tertinggal dengan menyerap tenaga kerja.

Dalam Undang-undang (UU) Nomor 6/2014 tentang Desa mengarahkan pembangunan untuk mencapai daya saing desa dan kesejahteraan masyarakat. Hal ini ditempuh melalui pengakuan atau rekognisi atas eksistensi desa, disertai pengakuan atas wewenang atau subsidiaritas desa.

Guna mendukung hal tersebut, Kemendesa telah mentransfer dana desa ke seluruh 74.910 desa sebesar Rp 20,7 triliun pada 2015, Rp 46,9 triliun pada 2016, dan Rp 60 triliun pada 2017.

Selama ini rekayasan kawasan perdesaan, terang Eko, memiliki kelemahan, berupa partisipasi swasta sangat lemah, sehingga kawasan ekonomis tidak berkelanjutan.

Kelemahan manajerial disebabkan oleh ketiadaan pengelola kawasan. Dukungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah juga tidak berkelanjutan.

Untuk mengatasi hal tersebut, dikembangkan Prukades. Pihak swasta dalam skala besar berpartisipasi sebagai off taker, rantai pemasaran, rantai input produksi. Selain itu, diangkat pula wirausaha sosial sebagai pengelola operasional sehari-hari. [san]

Populer

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

UPDATE

Strategi Perang Laut Iran Miliki Relevansi dengan Indonesia

Minggu, 19 April 2026 | 05:59

Inflasi Pengamat dan Ilusi Kepakaran di Era Digital

Minggu, 19 April 2026 | 05:45

Relawan MBG Kini Wajib Didaftarkan BPJS Ketenagakerjaan

Minggu, 19 April 2026 | 05:23

PB HMI Ajak Publik Pakai Rasionalitas Hadapi Polemik JK

Minggu, 19 April 2026 | 04:55

Perlawanan Iran: Prospek Tatanan Dunia Baru

Minggu, 19 April 2026 | 04:35

PDIP Setuju Parpol Wajib Lapor soal Pendidikan Politik Pakai Uang Negara

Minggu, 19 April 2026 | 04:15

JK: Rismon Mau Ketemu Saya dengan Tujuh Orang, Saya Tolak!

Minggu, 19 April 2026 | 03:53

Komnas HAM Desak Panglima TNI Evaluasi Operasi Militer di Papua

Minggu, 19 April 2026 | 03:30

Belajar dari Era Jokowi, PDIP Ingatkan Partai Koalisi Pemerintah Jangan Antikritik

Minggu, 19 April 2026 | 03:14

Indonesia Harus Belajar Filsafat dan Strategi dari Perang Laut Iran 2026

Minggu, 19 April 2026 | 02:55

Selengkapnya