Serahkan Laporan Rakornas/RMOL
Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) NU Care-LAZISNU 2018 berlangsung di Pondok Pesantren Walisongo, Sragen, Jawa Tengah resmi ditutup Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin.
Direktur NU Care-LAZISNU Syamsul Huda menegaskan Rakornas di Sragen merupakan Rakornas ketiga setelah pada tahun 2016 digelar di Jakarta dan 2017 di Sukabumi.
Pada Rakornas pertama dilakukan konsolidasi dan penguatan kepengurusan LAZISNU di seluruh Indonesia. Rakornas kedua untuk mempelajari tata kelola zakat yang dikembangkan LAZISNU Sukabumi.
"Adapun Rakornas ketiga ini bertujuan memperkuat fundraising dan tata kelola ZIS belajar dari Kotak Infak (Koin) NU Kabupaten Sragen. Rakornas bertema Arus Baru Kemandirian Ekonomi NU, Menyongsong 100 Tahun Nahdlatul Ulama," kata Syamsul kepada wartawan usai memberikan hasil rakornas kepada Rais Aam PBNU Ma'ruf Amin, Rabu (31/1).
Rakornas diikuti perwakilan pengurus NU Care-LAZISNU dari tingkat wilayah, kabupaten, kecamatan, desa, termasuk UPZISNU/JPZISNU di seluruh Indonesia. Selain itu juga dihadiri perwakilan NU Care-LAZISNU Taiwan.
Selain itu dilaporkan penghimpunan dana NU Care-LAZISNU sepanjang 2017 di tingkat pusat mencapai Rp16.771.119.650. Dengan perolehan sebesar itu, Pengurus Pusat NU CARE-LAZISNU menyalurkan sebanyak Rp11.866.310.765. Rincian penyaluran NU Care-LAZISNU meliputi bidang pendidikan sebesar Rp4.301.905.000; kesehatan sebesar Rp680. 264.053. Adapun pemberdayaan ekonomi mencapai Rp2.709.302.872,- dan Siaga Bencana mencapai Rp1.008.429.840.
Dana tersebut sebagian disalurkan untuk membantu etnis Rohingya dan suku Asmat yang saat ini masih berjalan. Sementara secara nasional penghimpunan mencapai 189.280.134.145,35. Rakornas diisi dengan pendalaman fundraising, testimoni gerakan Koin NU Sragen, testimoni BMT Mitra Dana Sakti MWCNU Pasir Sakti Lampung Timur, pengelolaan zakat di sejumlah daerah. Selain itu juga ZIS Trip yaitu kunjungan ke MWCNU dan bakal rumah sakit NU Sido Waras yang dibangun dari dana Koin NU Sragen.
Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati memuji Nahdhatul Ulama sebagai organisasi masyarakat yang turut serta berperan dalam pembangunanekonomi mayarakat di Indonesia melalui Koin NU yang dilakukan oleh NU Care-LAZISNU Sragen dengan bertujuan kemandirian organisasi.
Gerakan itu, kata dia, sekaligus membantah jika NU dengan label ormas yang menunggu dana turun dari pemerintah.
“Kalau sudah mandiri, ormas ketika ada kegiatan tidak mengharapkan dana dari maupun pusat, provinsi ataupun kabupaten. NU contoh kemandirian luar biasa,†kata Kusnidar.
Dia berharap bahwa gerakan Koin NU untuk dijadikan model nasional, dikarenakan kekuatan ekonomi yang dihasilkan luar bisa. Berdampak terhadap NU yang dipandang sebelah mata oleh orang lain.
Ia melihat kekuatan ekonomi yang semakin merata pada jamaah NU. Umat juga harus terbangun untuk bisa menjaga kemandirian dan berperan untuk membangun ekonomi negeri ini.
"Biasanya ormas yang belum mandiri selalu mengadakan kegiatan selalu mengandalkan dari pemerintah, tapi ini justru turut membangun pemerintah," terangnya.
[san]